AURIGA

AURIGA
BAB 4 : Sesi Curhat


__ADS_3


Mata Syarla terlihat berkaca-kaca. "Lebih parah... Dia udah **ng**gak mau kenal sama gue lagi..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nadine yang sedang meminum green tea nya sampai tersedak. "NGGAK MAU KENAL LAGI? MAKSUDNYA?"


Tangis Syarla pecah. Chika langsung membawa Syarla ke dalam pelukannya. Saat Alea akan bertanya, Chika langsung memberi kode untuk diam. Alea pun hanya angkat bahu.


Nadine, Syarla, Alea dan Chika adalah sahabat sejak SMP yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tapi di SMA kini, Nadine terpaksa harus tinggal di kelas IPA 9, sedangkan tiga temannya di kelas IPS 1.


Nadine yang paling pintar dari mereka berempat. Sedari SD ia selalu mendapatkan peringkat kesatu dan memenangkan banyak perlombaan di bawah tuntutan kedua orang tuanya, terutama ibunya. Orang tuanya tak segan menghukum Nadine bila nilai anaknya itu rendah atau kalah dalam suatu perlombaan. Bahkan di hari liburnya, ia tetap disuruh belajar untuk memperoleh nilai yang maksimal. Didikan orang tuanya itulah yang membuat Nadine menjadi sosok yang ambisius dan tak mau terkalahkan.



Syarla, dengan wajah paling imut dan suara paling lembut dari mereka berempat. Sejak kelas 10, ia sudah menaruh hati pada David, anak kelas 12. Mereka sudah sangat dekat tanpa sekat, namun David tetap bilang hanya sahabat.



Alea, siswi bermasalah dangan segudang kasusnya. Bolos sekolah, bolos jam pelajaran, bolos mengerjakan tugas, tidak taat masalah seragam, tindak kekerasan, dan masih banyak lagi. Sekarang pun sudah dua minggu ia tidak masuk sekolah karena di skorsing akibat terciduk merokok di area sekolah. Sudah tak terhitung berapa kali ia masuk ruang BK dan sudah berapa namanya tercetak di buku hitam. Tak pernah memiliki hubungan yang langgeng. Karena setiap laki-laki yang menjadi pacarnya tak pernah tahan dengan sikap kasar dan arogan nya. Terlebih ia tak pernah mendasari hubungannya dengan rasa cinta. Meskipun begitu, ia adalah seorang sahabat yang bisa dipercaya dan sangat setia kawan, walaupun tak jarang kadang ucapannya agak menyakitkan.



Dan terakhir adalah Chika. Jangan tanyakan ia suka pada siapa. Karena ia hanyalah seorang remaja jomblo yang jatuh cinta pada setiap cowok yang ia lihat. Tapi tidak dengan Zidan, pria yang sedari kelas 10 mengejar-ngejar cintanya. Memang kita sering kali mengabaikan orang yang menyukai kita demi mengejar orang yang tidak menyukai kita!



Kembali menyorot ke empat gadis yang sedang berkumpul. Tangis Syarla perlahan mereda. Hanya terdengar isakan lirih. Baju tidur putih Chika sampai basah kuyup oleh air matanya.


"Sejak dulu gue emang nggak suka sama si David!" sergah Alea. "Dia cuma mainin perasaan lo doang selama bertahun-tahun!"


Syarla angkat kepalanya dari pelukan Chika. Wajahnya merah dan banjir air mata.


"Aduh, piyama gue ada pulaunya!" ucap Chika.

__ADS_1


"Kenapa, ya...? Padahal gue selalu ada untuk dia... Selalu sabar ngehadepin sikap dia... Selalu turutin apa yang dia mau..." ucap Syarla lirih.


"Emangnya kapan dia bilang gitu?" tanya Nadine.


"Udah seminggu dia nggak bisa dihubungi. Kemarin lusa gue datang ke kost nya, dan dia bilang sebaiknya gue jauhin dia... Karena selama ini kita udah kejebak HTS..."


"GOOD!" Alea tepuk tangan. "Kali ini gue setuju sama si David!"


"Kok lo ngomong gitu, sih?" tanya Nadine.


"Ya pikirlah, Dine! Orang mana yang mau digantung perasaannya selama hampir tiga tahun kecuali Syarla!"


"Sama David itu sakit! Tapi lebih sakit kalau gak sama David...!" air mata Syarla kembali bercucuran.


"Gila banget, sumpah!"


Chika menepuk bahu Syarla. "Udah, Syar. Nanti juga David bakal sadar, kok. Nggak ada yang lebih tulus mencintai dia dibanding lo."


Syarla memeluk Chika. "Makasih, Chika..."


Chika mengusap-usap rambut Syarla.


Syarla mengangguk lemah.


"Sekarang giliran gue, ya?"


"Mau curhat apa? Jangan bilang kalau lo masih gamon sama-"


"ENAK AJA!" Nadine langsung memotong cepat ucapan Alea. "Gue udah nggak mikirin lagi soal percintaan sekarang! Kalian tahu, kan? Kelas 11 kemarin, nilai gue di semester 2 menurun drastis dari semester 1?"


"Iya, dan itu karena faktor percintaan kan?" tanya Alea.


"Lea, please... Gue lagi nggak bahas soal itu!"


"Terus?"

__ADS_1


Nadine menghela nafas panjang. "Dan bokap nyokap gue benar-benar kecewa sama gue! Gue benar-benar ditekan untuk belajar dan belajar! Rasanya dikasih buat bernafas lega pun nggak! Dan itu malah bikin gue sulit buat konsentrasi di sekolah..."


Ketiga temannya menatap Nadine iba. Mereka tahu bagaimana kerasnya orang tua Nadine. Dan itu membuat Nadine kadang terlihat murung.


"Tadi aja di pelajaran matematika dan fisika hitungan gue salah terus! Apalagi pas waktu gue dengar bakal ada murid baru pintar di kelas gue, gue benar-benar takut tersaingi! Dan benar aja, tadi jawaban dia nggak ada yang salah satupun! Dia benar-benar teliti dalam berhitung!"


"Wah, ayangku hebat banget!" Chika bertepuk tangan.


"CHIKA!" bentak Nadine.


"Iya, iya, maaf. Tapi emang bener hebat banget, kan?"


"Wah! Gue makin penasaran! Nggak sabar buat sekolah senin depan!" ucap Alea bersemangat.


"Oh, senin depan lu udah nggak di skors?" tanya Nadine.


"Iya, kan udah dua minggu."


"Awas! Jangan bikin kasus lagi!" timpal Syarla yang sudah reda tangisnya.


"Nggak janji!"


"Eh, lo mau liat fotonya, nggak?" tanya Chika pada Alea. "Gue tadi sempat paparaziin dia."


"Eh, mau dong! Mana coba liat!"


Chika, Alea dan Syarla pun malah sibuk melihat foto Sakti hasil paparazi Chika, dan Nadine tidak mereka perdulikan.


"Wah! Bener ganteng!" ucap Alea.


"Awas! Lo nggak boleh suka! Punya gue!" geram Chika.


"Gue juga mau coba deketin, deh!" Syarla ikut-ikutan dengan masih agak terisak.


"Dasar lo! Tadi aja nangis-nangis masalah David!" ledek Alea.

__ADS_1


"Aleaaa...!!!" Syarla merajuk. "Udah agak lupa juga...!"


"KALIAN BENAR-BENAR NGGAK PERDULI YA, SAMA GUE!!!???"


__ADS_2