AURIGA

AURIGA
BAB 24 : Diluar Nastar


__ADS_3


"Sakti..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sakti pun menoleh dan mendapati Salsa di sebelahnya. "Eh, Salsa,"


"Ngelamun aja," Salsa mendudukkan bokongnya di bangkunya yang sudah pindah ke depan meja Sakti, lalu berbalik ke belakang. "mikirin apa?"


"Nggak mikirin apa-apa."


"Kenapa kemarin kamu batalin belajar bareng sama aku? Terus tiba-tiba kamu gak aktif aja,"


Sakti pun ingat kalau kemarin sore ia mengirim pesan pada Salsa untuk membatalkan belajar bersama mereka lalu menonaktifkan data ponselnya agar ia tak perlu repot mencari alasan untuk membalas Salsa yang pasti bertanya kenapa.


"Kemarin Sakti nggak enak badan, Salsa..." dusta Sakti.


"Ya ampun, Sakti! Kenapa kamu gak bilang sama aku!?"


"Sakti takut Salsa khawatir..."


"Ya iya, lah, aku khawatir! Tapi sekarang kamu udah nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa, Salsa. Mungkin kemarin cuma kecapekan aja,"


"Lain kali kalau ada apa-apa tuh, bilang!" Salsa pun menyodorkan bekal untuk Sakti. "Nih, bekal buat kamu."


Sakti pun mengambil bekal yang sudah Salsa buatkan untuknya. "Makasih, Salsa. Setiap hari bawain bekal buat Sakti."


"Iya sama-sama, Sakti."


Sakti pun memandangi wajah Salsa yang tampak berbeda hari ini. Terlihat lebih cantik dengan polesan make up yang natural. Rambut blonde yang biasanya tergerai pun kini dikuncir seperti Nadine.


Deja vu.


"Rheina sakit? Gue nggak percaya, pasti dia bohong!" gumam Salsa sambil membuka ponselnya.


"Ada apa, Salsa?" tanya Sakti.


"Ini, di grup kelas. Rheina sama Nadine sakit."


Mata Sakti membelalak.


Nadine sakit?


...****************...


"Ya ampun, Nadine! Lo kan baru sembuh, masa' udah sakit lagi, sih?" keluh Chika.


Nadine tak menjawab di dalam selimutnya.


"Semalam lo jadi 'kan, dinner sama Dikta bareng Sakti?" tanya Alea. "Di apain lo sama si Dikta sampai sakit kayak gini?"


"Jadi gini, malam tadi gue yang antar Nadine ke kost nya Sakti." ucap Syarla.


"Rajin banget, lo jadi supir pribadi nya si Nadine."

__ADS_1


"Ya, karena Nadine bilangnya ada kerja kelompok dirumah gue ke ortu nya."


"Alah! Modus, lu! Gue juga tahu! Lo mau sekalian ke kost nya si David, 'kan? Kost David sama Sakti kan searah!" timpal Chika.


Syarla gelagapan.


"Serius lo, ke kost nya si David!?" tanya Alea tak habis pikir.


Syarla menghela nafas kasar. "Iya, malam gue ke kost nya buat ngejenguk dia yang lagi sakit..."


"Lo tuh bego atau nggak tau malu, sih!?"


Nah, 'kan.


Alea kalau ngomong nggak suka di saring dulu.


"Dia udah bilang nggak mau kenal lagi sama lo! Dan lo malah nyamperin dia dengan alasan dia lagi sakit!?" geram Alea.


"Dia yang nge-chat gue duluan kalau dia lagi sakit!" sahut Syarla. "Sebagai teman yang baik, gue udah seharusnya ngejenguk dia!"


"Teman? Teman yang udah nginjak-nginjak perasaan dan harga diri lo?"


"Alea! Syarla! Udah!" bentak Chika. "Nadine lagi sakit, kok kalian malah ribut, sih!?"


Syarla dan Alea pun terdiam.


"Terus habis lo ngantar Nadine ke kost nya Sakti gimana?" tanya Chika.


"Gue ke kost nya David. Pas gue mau pulang, kebetulan Nadine telepon gue buat jemput dia di taman Azalea. Disana, dia duduk berdua sama Sakti, tapi diam-diaman. Sepanjang di mobil juga Nadine nangis-nangis, tapi nggak mau cerita ada apa." tutur Syarla.


Alea dan Chika saling tatap.


"Kayaknya sih, iya." jawab Syarla.


"Sialan tuh, cowok! Bisa-bisanya dia bikin princess kita nangis! Nggak tahu diri!"


"Kemarin aja ngecrushin lo!"


"Dih! Sekarang udah nggak, ya! Gue udah punya new crush di kelas 10!"


"Bocil!"


"Nggak apa-apa bocil! Yang penting gak prenjon! Iya nggak, Chi?" timpal Alea.


"Bener banget, tuh!" sahut Chika.


"Nyindir lo?" tanya Syarla.


"Nggak niat nyindir, kok! Yang kesindir ya, mikir!" jawab Alea.


Syarla menghela nafas kasar.


Semakin kesini, ia semakin tak nyaman di dalam circle nya sendiri.


Semakin beda paham dan tidak sefrekuensi.


"Nadine..." Alea menyapa Nadine hati-hati sambil menyentuh pundaknya. "Kalau ada apa-apa tuh, cerita dong..."

__ADS_1


"Iya, Dine... Jangan dipendam sendiri!" timpal Chika.


Nadine pun menurunkan selimut yang sedari tadi menutup wajahnya. Matanya sembab, wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah.


"Lo kenapa Nadine...?" tanya Alea.


Nadine kembali menangis lagi. Membuat ketiga sahabatnya bertambah bingung.


"Udah jangan nangis terus, Dine...!" ucap Syarla.


Chika pun mengambil gelas berisi air putih di atas nakas. "Minum dulu, Dine."


Nadine pun mencoba duduk dibantu oleh Alea, lalu meneguk air putih itu sampai habis.


"Coba cerita pelan-pelan ke kita. Sebenarnya ada apa?"


"Semalam, gue dinner sama Sakti bareng Dikta dan Viona..." Nadine mulai berbicara setelah susah payah menghentikan tangisnya.


"Dikta bawa Viona!?" tanya Alea.


"Iya..."


"Mereka udah pacaran?"


"Mereka masih bilang kalau mereka cuman sahabatan aja..."


"Terus?"


"Disana kita makan sushi. Tapi Sakti bilang kalau rasanya aneh dan nggak enak. Bahkan dia sampai melepeh sushi itu ke tisu...


"Dan begitu dia minum matcha, dia semprotin matcha itu sampai kena makanan Dikta! Abis itu dia lari menuju toilet dan nabrak pelayan yang lagi bawa pesanan sampai pada tumpah dan pecah! Kepaksa gue harus ganti rugi! Kebayang 'kan kalian gimana malunya gue...!?"


"Diluar nastar!" ucap Chika.


"Makanan Sakti emang dibuat nggak enak kali!" ucap Syarla.


"Jadi lo nangis-nangis sampai sakit karena Sakti udah malu-maluin lo?" tanya Alea.


"Gue belum selesai cerita!" Nadine menghela nafas. "Setelah itu, gue ajak Sakti pergi dari restoran itu! Karena gue disitu malu banget, gue kelepasan marahin Sakti sampai bikin dia sakit hati... Gue bilang dia orang kampung, bikin malu, dan gue nyesal udah bawa dia dinner malam itu...!


"Dan Sakti malah balik marah sama gue. Dia bilang dia juga nyesal udah batalin janji sama Salsa dan malah dinner sama gue. Dan entah kenapa hati gue sakit banget dengar dia ngomong gitu... Dia lari ninggalin gue, dan entah kenapa juga gue malah ngejar dia sampai gue jatuh, dan akhirnya dia mau berhenti dan samperin gue...


"Gue minta maaf sama dia... Dan diluar nalar dia malah nyatain cinta sama gue..."


Nadine kembali menangis tersedu-sedu sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangan.


"Benar-benar diluar nastar!" ucap Alea.


Syarla mengusap-usap bahu Nadine. "Setelah itu gimana?"


Nadine menarik kedua tangannya sehingga wajahnya terlihat sangat merah dan banjir air mata kini. "Tapi dia bilang gue nggak mungkin balas perasaan dia... Dia bilang gue cuman sekadar butuh dia... Dia juga bilang kalau dia akan coba ngalihin perasaan dia buat gue ke orang lain..."


"Ke orang lain...? Salsa?" tanya Chika.


"Kayaknya..."


"Lo sedih Sakti ngomong gitu...?" tanya Syarla.

__ADS_1


Nadine mengangguk.


"Lo cinta sama dia?"


__ADS_2