AURIGA

AURIGA
BAB 27 : Sepenuhnya Benar


__ADS_3


"Aku tahu, kamu nggak mungkin nggak tahu, kalau aku cinta sama kamu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sakti tidak terlalu terkejut. Memang benar. Ia tahu Salsa mencintainya. Tapi kini, lidahnya kelu. Tak tahu harus berkata apa.


"Kamu, mau kan, jadi pacarku?" tanya Salsa to the point.


Sakti semakin dibuat bingung.


"Jawab, dong, Sakti..."


Salsa merapatkan duduknya. Sakti spontan bergeser beberapa senti.


"Tapi, Salsa..." akhirnya Sakti membuka suara.


"Kenapa...? Kamu nggak cinta sama aku?" tanya Salsa, menyiapkan jawaban terburuk.


"Bukan begitu, Salsa..."


"Terus apa?"


"Apa nggak terlalu cepat? Kita baru kenal, lho?"


Salsa mengerutkan keningnya. "Kita udah satu bulan lebih kenal, lho. Terus emang kamu nggak ngerasa, kalau kita itu udah dekat banget? Banyak juga yang bilang kita itu cocok."


Sakti menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri pelan. Bingung mencari jawaban.


"Atau jangan-jangan... Kamu suka sama Nadine, ya?"


Sakti sontak menoleh pada Salsa. "Kenapa Salsa nanya gitu?"


"Nebak doang, sih. Kalaupun bukan Nadine, mungkin cewek lain?"


Sakti menghela napas sebelum menjawab, "Nggak."


"Jadi kamu suka sama siapa, Sakti?"


"Sakti nggak suka siapa-siapa."


Hati Salsa sedikit mencelos. "Kamu nggak ada sedikitpun perasaan sama aku?"


"Sakti juga nggak tahu, Salsa..."


Salsa menghela napas kasar. "It's okay, kalau kamu belum bisa jawab. Tapi aku cinta banget sama kamu Sakti. Aku akan nunggu sampai kamu balas cinta aku." Salsa mengeratkan genggamannya pada tangan Sakti.


"Sakti minta maaf, Salsa... Sakti belum bisa jawab sekarang."


"Nggak apa-apa, Sakti." Salsa tersenyum, tapi Sakti bisa lihat ada kekecewaan di dalamnya. "Kamu mau pulang?"


"Iya, aku mau pulang."


"Aku antar, ya?"


"Nggak usah, Salsa. Sakti bisa pesan ojol."


Salsa pun bangkit dari duduknya. "Nggak apa-apa, Sakti. Tunggu, aku mau pamit sama Kak Bastian dulu." ia pun bergegas naik ke tangga menuju kamar kakaknya di lantai atas.


Sakti pun hanya angkat bahu.


Lumayan, lah.


Nggak usah keluar uang.

__ADS_1


Walaupun dalam hatinya ada sedikit rasa takut merepotkan, tapi kini ia sudah biasa menerima tawaran Salsa.


Tak lama, terlihat Salsa bersama Bastian menuruni anak tangga. Sakti langsung menghampiri Bastian lalu mencium tangannya.


"Sakti pamit pulang, ya, Kak." ucap Sakti.


Pria blasteran penuh tatto itu menepuk punggung Sakti. "Sering-sering ya, main kesini. Adik gue tuh, suka banget sama lo."


Sakti melirik Salsa yang terlihat salah tingkah. "Masa sih, Kak?" tanya Sakti.


"Serius! Dia selalu excited setiap cerita tentang lo. Dia juga baru kali ini bawa cowok ke rumah. Gue setuju banget kalau misalkan kalian tuh, jadian!"


"Jangan gitu dong, Kak! Kita masih nyaman temenan, kok!" sahut Salsa.


"Gue cuman bisa doain yang terbaik buat kalian. Semoga kalian cepat jadian!"


Salsa hanya bisa mengucap aamiin dalam hatinya. "Kakak juga segera punya pacar, dong. Sampai kapan betah ngejomblo begitu? Udah tua juga!"


"Enak aja, bilang aku udah tua! Aku cuman lahir delapan tahun lebih cepat dari kamu!"


"Makanya sebelum ngurusin percintaan adik, urusin dulu percintaan diri sendiri!"


"Yang ngantri banyak, sih. Tinggal seleksi mana yang paling cocok!"


Sakti hanya bisa tersenyum melihat kakak beradik ini. Ia jadi ingat pada Karin, adik perempuannya di kampung yang masih duduk di bangku kelas 9 SMP. Walaupun sering bertengkar, tapi Sakti sangat menyayangi adiknya yang sama sekali tidak bisa diatur itu. Seringkali ibunya marah dan kecewa pada mereka berdua.


"Kapan kalian mau akur? Kalian ini sudah besar! Nggak malu sama umur!?"


"Kalian udah bukan anak kecil yang berantem cuman karena berebut mainan!"


"Bapak udah nggak ada! Ibu cuman punya kalian berdua! Tapi kenapa kalian selalu ngecewain Ibu!?"


"Kamu juga, Karin! Kamu itu perempuan! Nggak pantas sering keluyuran! Contoh kakakmu! Dia rajin, pintar, shaleh, lebih sering bantu Ibu dirumah! Kenapa kelakuanmu lebih-lebih dari lelaki!?"


Tapi kini, ia sangat merindukan Karin. Ia menyesal tidak pernah menjadi seorang kakak yang baik pada adiknya. Ia tidak pernah bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya. Padahal Karin sudah kehilangan sosok ayah sejak usianya baru menginjak tiga tahun. Harusnya Sakti bisa menjadi pengganti ayahnya dalam menyayangi dan melindungi Karin.


Tapi Sakti janji, begitu ia lulus dari Tunas Bangsa, mendapatkan beasiswa untuk kuliah, dan menjadi orang sukses, ia akan membahagiakan kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Ibu dan Karin.


...****************...


Nadine termenung di kamarnya. Seharusnya ia sudah tenang karena Mang Asep sudah angkat kaki dari rumahnya. Tapi sebaliknya. Perasaannya kini semakin gundah. Perkataan Mang Asep tak sepenuhnya salah. Ia memang memegang pipi Sakti di halte sekolah. Tapi ia tidak pacaran!


Mengingat Sakti, hati Nadine kembali berdenyut sakit.


Teringat kembali tadi di sekolah, Sakti kian dekat dengan Salsa. Seolah dua kutub magnet yang berbeda. Selalu menempel dan tak terpisahkan.


Padahal ia baru masuk sekolah hari ini, setelah kemarin sakit karena ulah Sakti.


Tapi Sakti tidak perduli padanya sama sekali. Menanyakan kabar pun tidak. Bahkan sudut matanya pun tidak pernah menangkap sosok Nadine. Seolah Nadine makhluk tak kasat mata.


Bagaimana Nadine bisa percaya Sakti mencintainya?


"Lo cinta sama dia?"


Pertanyaan Syarla begitu menggelitik hati mungil Nadine.


"Iya, lo cinta nggak sama dia?" tanya Chika.


"Gue nggak tahu... Gue nggak tahu, gue cinta atau nggak sama dia..." jawab Nadine dengan terisak.


"Tapi kalau lo sedih saat dia ngomong gitu, itu artinya lo cinta sama dia, Dine..." ucap Syarla.


"Iya kah, Syar...?"

__ADS_1


"Iya, Dine. Kenapa tadi malam lo nggak bilang, kalau lo cinta sama dia?"


"Gue ragu... Gue masih belum percaya dia beneran cinta sama gue..."


"Dine, lo nggak usah ragu. Gue yakin kok, dia cinta sama lo." ucap Chika.


"Tapi apa bisa gue percaya disaat dia begitu dekat sama Salsa?"


"Sakti dekat sama Salsa, paling cuman buat pelarian doang. Apalagi Salsa gatel suka kasih ini-itu sama Sakti!"


"Jadi gue harus apa?"


"Dengerin kata hati lo. Kalau lo cinta sama Sakti, dekati dia. Kalau nggak, jauhin dia." jawab Syarla.


"Hah? Mana bisa begitu? Nadine nggak boleh sama Sakti!" sergah Alea.


"Lho, kok lo gitu, sih?"


"Ya pikir aja sama kalian! Sakti itu jahat! Dia cuman niat mempermainkan perasaan Nadine sama Salsa aja!"


"Tapi Sakti udah nyatain cintanya sama Nadine!" ucap Chika.


"Kalian yakin Sakti nggak bilang cinta juga sama Salsa!?"


Hati Nadine mencelos. Ia juga memikirkan hal serupa.


"Ingat! Sakti nggak cuman deket sama Nadine doang! Sakti juga nggak terlihat risih sama Salsa! Tuh cowok emang sasimo!"


"Tapi Nadine cinta sama Sakti! Dan gue yakin Sakti juga cinta sama Nadine! Bodo amat soal Salsa!" sergah Chika.


"Terserah kalian, terserah! Makan tuh, cinta!"


Nadine menghela napas mengingat perdebatan Alea dengan Chika dan Syarla sewaktu kemarin lusa menengoknya. Alea memang sepenuhnya benar. Sakti hanya berniat mempermainkan perasaannya dan Salsa. Perkataannya tidak pernah benar-benar serius.


Nadine pun mengusap air mata yang tanpa sadar sudah mengalir ke pipinya


Tok!


Tok!


Tok!


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk." ucap Nadine.


Pintu terbuka, dan ternyata itu adalah Bu Friska.


"Mama," Nadine tersenyum. "ada apa Mama kesini?"


Bu Friska bersedekap. "Kenapa? Nggak boleh seorang Mama masuk kamar anaknya sendiri?"


"Bukan gitu, Ma... Tumben aja."


"Mama cuman mau bilang, kalau malam ini Mama mau ajak kamu dinner sama teman Mama waktu SMA, namanya Verra."


"Kenapa harus sama aku?"


Aneh.


Bu Friska jarang mengajak Nadine keluar. Apalagi jika bertemu teman atau rekan kerja.


"Karena dia ingin sekali kamu kenal dengan anak laki-lakinya yang sebaya dengan kamu. Dia baru pulang ke Indonesia beberapa hari lalu dari Australia."


Nadine mengerutkan keningnya. Rasanya ia kenal dengan anak laki-laki sebayanya yang ibunya tinggal di Australia.

__ADS_1


__ADS_2