
Namun harapan Sakti meluntur seketika saat Bu Siska berkata, "Sayang sekali, Sakti..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nadine menghela nafas lega.
Namun Bu Siska mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.
"Jawaban kamu benar!"
Sontak semua siswi langsung riuh bertepuk tangan, terkecuali Nadine di bangku paling belakang-hanya bisa mendesah kecewa.
"Terima kasih banyak, Bu!" ucap Sakti sambil menunduk hormat dan tersenyum lega.
"Good job, Sakti!" ucap Bu Siska bangga sambil menepuk-nepuk bahu Sakti.
Sakti pun kembali ke bangkunya, dan melihat Nadine yang menatapnya bengis.
Kini Sakti sedikit paham tentang Nadine.
Akhirnya jam pelajaran matematika pun selesai, dan berganti dengan pelajaran fisika.
"Mengerti, Sakti?" tanya Pak Andi, selaku guru mata pelajaran fisika, setelah menjelaskan tentang medan magnet.
"Mengerti, Pak." jawab Sakti.
"Bapak dengar kamu sangat pintar dalam pelajaran fisika?"
"Iya, Pak. Fisika pelajaran kesukaan saya."
"Bagus! Bapak harap kamu semakin berprestasi dan bisa membuat bangga sekolah ini!"
"Aamiin... Terima kasih, Pak."
Nadine mendengus kesal. Ia benar-benar bisa tersaingi kalau seperti ini.
"Baik, anak-anak. Seperti biasa, Bapak akan memberi sepuluh buah pertanyaan. Yang bisa, silahkan angkat tangan terlebih dahulu lalu jawab pertanyaannya. Satu pertanyaan berarti sepuluh poin yang kalian kumpulkan untuk menambah nilai ulangan harian dan penilaian semester kalian." ujar Pak Andi, lalu menghapus papan tulis. "Tutup buku catatan kalian masing-masing! Hanya boleh ada kertas selembar dan pulpen di meja kalian!"
Semua murid tampak bermalas-malasan karena setiap ada kuis seperti ini, pasti Nadine yang akan memborong 100 poin dari sepuluh pertanyaan. Apalagi kini ada Sakti! Tak ada gunanya mereka susah-susah menghitung!
"Pertanyaan pertama..."
Nadine dan Sakti sudah bersiap-siap.
"Seutas kawat berada diantara dua magnet yang memiliki besar induksi magnetik 0,02 Tesla. Jika besar kuat arus yang mengalir pada kawat adalah 5 A, besar gaya magnetik yang bekerja pada kawat sepanjang 10 cm adalah?"
Nadine menghitung dengan cepat dan gelisah. Takut Sakti terlebih dahulu menjawab pertanyaan tersebut. Tapi sebaliknya dengan Nadine, seperti pelajaran matematika tadi, Sakti mengerjakannya dengan santai dan tanpa tergesa.
...0,1 N...
Nadine terus memandangi hasil hitungannya dengan perasaan gundah. Ingin sekali ia mengangkat tangannya, namun takut jika salah seperti matematika tadi.
__ADS_1
Tiba-tiba, Sakti mengangkat tangan kanannya sambil berseru, "0,01 Newton!"
"Benar sekali!" ucap Pak Andi.
Semua langsung riuh bertepuk tangan.
Di satu sisi Nadine semakin jengkel pada Sakti. Namun di sisi lain ia cukup lega dan bersyukur tidak kembali menjawab salah.
"Pertanyaan kedua, suatu kumparan terdiri atas 200 lilitan berbentuk persegi panjang dengan panjang 10 cm dan lebar 5 cm. Kumparan tersebut memiliki sumbu putar yang tegak lurus medan magnet sebesar 0,5 T dan diputar dengan kecepatan sudut 60 rad/s. GGL maksimum yang timbul pada ujung-ujung kumparan adalah?"
Setelah beberapa saat, seorang siswa mengangkat tangannya.
"Berapa, Zidan?" tanya Pak Andi.
"Hm..." Zidan tampak ragu-ragu menjawabnya.
"Ayo jawab, berapa?"
"30 volt, Pak... Maaf kalau salah,"
"Dasar! Kalau menjawab jangan ragu-ragu! Untung jawaban kamu benar!"
Zidan sampai melongo. "J-jawaban saya benar, Pak?"
"Benar, Zidan!"
"YES!!!" serunya girang. "Akhirnya dapat poin!"
Nadine memukul pelan mejanya sambil berdecak kesal. Dan itu bisa Sakti dengar dengan jelas.
Nadine langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Silahkan, Nadine,"
"Kuat medan magnet selonoida dipengaruhi oleh banyak lilitan, kuat arus, panjang selonoida dan dan permeabilitas bahan."
"Good job, Nadine!"
Nadine tersenyum puas. Untuk berhitung, dia memang sedang error, tapi daya ingatnya masih cukup kuat.
Pertanyaan demi pertanyaan terus Pak Andi ajukan hingga ke soal yang terakhir, Pak Andi menuliskannya di papan tulis.
...Sebuah elektron bergerak didalam medan magnet serba sama secara tegak lurus dengan kecepatan 2 108m/s. Jika besar induksi magnet 0,8 T maka jari-jari lintasan elektron adalah ......
"Yang bisa, silahkan jawab ke depan."
Di bangkunya, Nadine mencoba soal itu dengan kertas yang sudah penuh dengan hasil hitungannya dan pulpen di tangannya yang sudah basah oleh keringat dingin. Kepalanya pening. Bahkan matanya pun sudah berkunang-kunang.
"Saya bisa, Pak." seru Sakti sambil mengangkat tangan.
"Silahkan, Sakti."
"SAYA JUGA BISA, PAK!" seru Nadine, membuat semua orang melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf Nadine, tapi Sakti sudah mengangkat tangan duluan. Kalau jawaban Sakti salah, kamu boleh maju ke depan." ucap Pak Andi.
"Tapi, Pak..."
"Kalau Nadine mau ke depan boleh," ucap Sakti, tak mau ambil pusing.
"Cari muka!" batin Nadine.
"Tidak, Sakti! Kamu yang pertama mengangkat tangan, maka kamu lah yang harus maju ke depan untuk menjawab soal ini!"
Sakti melirik Nadine. Nadine membuang muka kesal. Sakti pun menghela nafas panjang lalu maju ke depan dan menjawab soal tersebut.
"Ini jawaban saya, Pak."
Pak Andi memperhatikan jawaban Sakti.
...R \= mv / (qB)...
... \= (9,1 x 10⁻³¹)(2 x 10⁸) / [(1,6 x 10⁻¹⁹)(8 x 10⁻¹)]...
... \= (18,2 x 10⁻²³) / (12,8 x 10⁻²⁰)...
... \= 1,421875 x 10⁻³ m...
... \= 14,22 10-4 m...
"Luar biasa! Jawaban kamu benar!"
Semua riuh kembali bertepuk tangan.
"Selamat, ayang!"
"Hebat banget, sih! Makin suka, deh!"
"Udah ganteng, pinter lagi! Sempurna!"
"Jadi pacarku mau?"
Sakti tersenyum lebar. "Terima kasih, semuanya."
Semua langsung salting tujuh keliling sampai mau kayang.
Nadine memperhatikan jawaban Sakti dan melihat jawabannya.
Sama!
Kenapa Nadine selalu keduluan oleh Sakti? Si anak baru dari kampung itu?
"Hasil kuis hari ini, Zidan 10 poin, Nadine 40 poin, dan Sakti 50 poin!" ucap Pak Andi. "Beri tepuk tangan untuk Sakti!"
Semua bertepuk tangan untuk Sakti.
Tepuk tangan yang dulu hanya untuk Nadine.
__ADS_1
Ini tidak boleh terjadi. Sakti benar-benar berbahaya untuk Nadine.
Anak kampung itu harus diberi pelajaran.