AURIGA

AURIGA
BAB 30 : Mendadak Tuli


__ADS_3

"Nadine berangkat dulu, Ma, Pa." ucap Nadine sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati bawa motornya, Dikta!" pesan Bu Friska pada Dikta yang sudah menunggu Nadine di motornya.


"Siap, Tante!" sahut Dikta.


Setelah berpamitan, Nadine pun berangkat ke sekolahnya bersama Dikta dengan wajah yang masam.


"Kenapa Nadine harus di antar jemput dia, Ma?" tanya Pak Gavin pada Bu Friska sepeninggal Nadine. "Apa tidak merepotkan nantinya?"


"Tentu tidak akan, Pa. Dikta sendiri yang menawarkan diri untuk mengantar jemput Nadine setelah Mang Asep dipecat Papa." jawab Bu Friska.


"Tapi kok, Papa merasa Nadine kurang senang, ya?"


"Senang, kok, Pa! Bahkan ternyata Nadine dan Dikta sudah berteman sebelum Mama dan Verra mengenalkan mereka!"


Pak Gavin pun hanya mengangkat bahu.


Sementara itu, Nadine benar-benar merasa risih dibonceng oleh Dikta seperti ini. Ini semua gara-gara ibunya. Selalu memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan perasaan anaknya.


"Bagaimana kalau sekarang Dikta yang mengantar jemput Nadine?" usul Tante Verra, lalu beralih pada Dikta. "Biar bisa lebih dekat lagi!"


Nadine panik setengah mati. "Jangan Tante! Nanti merepotkan!"


"Nggak akan merepotkan, kok, Sayang! Iya, kan, Dikta?"


Dikta mengangguk sopan. "Of course! Nggak merepotkan sama sekali."


"Aduh! Baguslah kalau Dikta bersedia. Kebetulan supir kemarin baru dipecat. Tadinya aku akan mencari supir baru untuk mengantar jemput Nadine sekolah." seru Bu Friska.


"Gimana Nadine? Kamu mau diantar jemput sama Dikta?" tanya Tante Verra pada Nadine.


Nadine sama sekali tak mau. Namun ketika ia melirik ibunya, terlihat sirat ancaman. Yang berarti Nadine harus menuruti apa kemauannya.


Walaupun Nadine saat itu berkata terserah, tapi buktinya dengan tanpa tahu malu pagi tadi Dikta sudah ada di depan rumahnya. Nadine sedang malas berdebat dengan ibunya, karena percuma. Apapun perkataan ibunya tidak ada yang bisa dibantah.


"Nadine?" tanya Dikta membuyarkan lamunan Nadine.


"Hm?" Nadine hanya bergumam.


"Tangannya nggak mau meluk gitu?"


"Hah?" Nadine tidak bisa mendengar dengan jelas.


"Kebiasaan! Dari dulu kamu suka mendadak tuli kalau diatas motor!" Dikta menaikkan volume suaranya.


"Bukan cuman gue doang kali! Orang juga kalau ngobrol diatas motor suka hah? Hah?"


Dikta tertawa geli. "Tadi aku bilang, tangan kamu nggak mau meluk?"


"Meluk lo?"


"Iya, dong! Masa meluk Sakti!"


Nadine mendelik. "Ngapain gue meluk lo!?"

__ADS_1


"Ya biar romantis aja gitu!"


"Idih, nggak sudi! Asal lo tahu, ya! Gue mau diantar sama lo itu karena dipaksa sama nyokap gue! Jangan kege-eran lo!"


"Aku tahu, kok, Dine."


"Bagus!"


"Semenjak sama Sakti kamu jadi kasar. Padahal kamu dulu lemah lembut banget!"


"Nggak usah bawa-bawa Sakti, ya!? Gue begini sama lo doang!"


"Sama Viona juga kamu gini, kok."


Emosi Nadine mulai memuncak. Mendengar nama gadis pick me itu membuat Nadine ingin muntah. "Lo mau cari ribut sama gue, Ta!?"


"Kamu ini, Dine! Dikit-dikit cari ribut!"


"Yang cari ribut siapa!? Gue atau lo!?"


"Tapi aku nggak ngajak ribut, Dine. Yang aku omongin fakta semua, lho!"


"Turunin gue disini!"


"Tapi, Dine?"


"Turunin!"


"Tapi sebentar lagi sampai, Dine! Aw!!!" Dikta memekik keras saat pinggangnya dicubit oleh Nadine.


"Okay... Okay..."


Dikta menghentikan laju motornya di lokasi yang tak jauh dari Tunas Bangsa. Nadine segera turun lalu melepas helm nya. Namun jantung Nadine rasanya hampir berhenti berdetak saat melihat disebrang sana ada Sakti yang berjalan kaki menuju ke sekolah.


Secara tak sengaja, mata Sakti juga menangkap sosok gadis yang dicintainya itu tengah menatapnya sambil memegang helm. Namun yang membuat nyeri adalah ketika Sakti melihat Dikta diatas motor yang belum menyadari keberadaannya.


Beberapa detik Sakti dan Nadine bertatapan, namun setelah itu Sakti kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi.


Nadine rasanya ingin menangis. Harusnya ia tidak berhenti disini, karena ini sangat dekat dengan kost milik Sakti. Bodoh. Bagaimana kalau Sakti mengira Nadine kembali dengan Dikta?


"Lihat apa, sih, Dine?" tanya Dikta, lalu menengok ke arah mata Nadine memandang. Seorang laki-laki dengan seragam Tunas Bangsa nya yang sudah berjalan menjauh. "Itu Sakti?"


Nadine mengusap air matanya yang jatuh tanpa terlihat oleh Dikta, "Nih!" lalu menyerahkan helm pada Dikta.


Dikta pun mengambil helm itu dengan senyum miring. "Pacar dibonceng sama mantan, kok kabur? Cemen banget! Bukannya samperin!"


Nadine hanya mendelik sadis sebelum berlalu tanpa berkata apa-apa lagi.


...****************...


"NADINE!!!"


Nadine terkesiap saat tiba-tiba mendengar ada orang yang meneriakkan namanya begitu memasuki gerbang sekolah. Menoleh ke arah sumber suara di taman, terĺihat Chika berlari ke arahnya.


"Masih pagi, Chi." ucap Nadine saat Chika sudah di dekatnya. "Jangan teriak-teriak."

__ADS_1


Chika memindai Nadine dari atas ke bawah dengan tatapan ngeri. "Ini serius!?"


"Serius apa, sih?" Nadine kembali melanjutkan langkahnya menuju gedung sekolah.


"Lo ke sekolah jalan kaki!?"


Nadine tak menjawab, terus melangkah sementara Chika terus mengikutinya.


"Ini gue nggak mimpi, kan!?" lanjut Chika.


"Tampar pipi lo sendiri. Sakit nggak?"


"Nggak mau, pasti sakit!"


"Ya berarti bukan mimpi dong. Lagian ngapain sih, lo ngikut-ngikut? Sana ke kelas lo!"


"Gue mau ikut ke kelas lo!"


"Terserah!"


Akhirnya Nadine dan Chika pun sampai di kelas 12 IPA 9. Sepersekian detik mata Nadine dan Sakti bertemu, namun mereka langsung membuang pandangan masing-masing.


Melihat ada cewek heboh yang datang bersama Nadine, Sakti sudah siap menerima ribuan celotehannya. Namun di luar dugaan, Chika bahkan tak menyapa pada Sakti. Melewati Sakti begitu saja lalu duduk di bangku sebelah Nadine.


"Gue masih penasaran, Dine! Kenapa lo ke sekolah jalan kaki? Nggak diantar Mang Asep?" tanya Chika.


"Mang Asep udah dipecat." jawab Nadine, sambil mendudukan bokongnya di bangku.


Chika terlonjak sambil menutup mulut saking terkejut. "Oh my God! Why!?"


"Udah nggak bener aja kerjanya."


"Tapi kan dia udah belasan tahun kerja sama keluarga lo."


"Itu udah keputusan Papa. Nggak bisa diganggu gugat."


"Bukannya yang nggak bisa diganggu gugat itu Nyokap lo, ya?"


"Dua-duanya sama aja."


"Terus semenjak Mang Asep dipecat lo jadi jalan kaki gitu!?"


"Kata siapa tadi gue jalan kaki? Gue diantar sama Dikta sampai-"


"DIKTA!? DIKTA MANTAN LO!?"


Nadine langsung menginjak kaki Chika keras-keras, ketika beberapa murid yang sudah datang spontan melirik ke arah mereka.


"Sakit, Nadine!" pekik Chika.


"Bisa pelanin dikit nggak, sih!?" geram Nadine setengah berbisik.


Sakti yang sedari tadi bermain ponsel dan menguping pembicaraan mereka hanya mendengus pelan.


"Maaf, Nadine..." cicit Chika.

__ADS_1


"Nadine, lo punya mantan?" tanya Winda yang sedang duduk di bangkunya.


__ADS_2