
Bel istirahat berbunyi nyaring. Semua murid berhambur keluar kelas menuju kantin.
Perut Sakti juga sudah berbunyi minta diisi. Namun ia tetap diam di bangkunya sampai ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Hei, Bro!" serunya.
Sakti menoleh, dan ternyata itu adalah Zidan.
"Eh, Zidan."
"Lo nggak ke kantin?" tanya Zidan.
"Hm, masih malu."
"Mau bareng gue, nggak?"
"Boleh."
"Ayo."
Zidan dan Sakti pun keluar kelas. Sepanjang perjalanan menuju kantin, mereka tak lepas dipandangi oleh para siswi. Bahkan ada beberapa yang mengajak kenalan dan foto bareng dengan Sakti. Dan Sakti tidak merasa keberatan dengan hal itu.
Mereka pun sampai di kantin yang ramai dan berdesakan.
"Lo mau beli apa?" tanya Zidan.
"Zidan maunya apa?" Sakti balik bertanya.
"Gue sih tiap hari bakso sama es teh."
"Ya udah, Sakti juga sama."
Mereka pun menuju stan mie bakso dan es teh. Setelah antrean yang cukup panjang, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan lalu membawanya ke meja berisi empat bangku paling pojok.
Karena sudah sama-sama lapar, mereka pun makan dengan lahap.
"Gue mau nambah seporsi lagi deh, masih lapar." ucap Zidan. "Lo mau nambah juga?"
"Ini aja belum abis." ucap Sakti. Terlebih malas mengantre lagi.
"Ya udah, gue mau nambah dulu, ya?" Zidan pun langsung bangkit dari bangkunya dan menuju stan mie bakso.
Sakti pun kembali melahap mie baksonya, sampai ada seorang siswi yang duduk di depannya.
"Sendirian aja." godanya.
"Teman saya lagi pesan bakso." sahut Sakti.
"Kamu ganteng banget, sih! Boleh kenalan nggak?" ia pun mengulurkan tangannya. "Aku Chika, anak IPS 1."
__ADS_1
Sakti menjabat uluran tangan Chika. "Sakti, anak IPA 9."
Mereka berjabat tangan lama sekali. Tangan Chika seolah mencengkeram tangan Sakti, tak mau ada celah sedikitpun untuk lepas.
"Maaf?" Sakti mulai merasa risih.
"Oh, maaf, hehe." Chika langsung menarik tangannya. "Kamu bisa masuk ke sekolah ini karena dapat beasiswa, ya?"
"Iya,"
"Lo dulu sekolah dimana?"
"Di SMAN 1 Sukasari."
"Sukasari? Dimana, tuh?"
"WIH, ADA YANG LAGI BERDUAAN!" tiba-tiba Zidan menceletuk keras
Chika mendengus kesal. "Apa sih, anjir! Lo lagi, lo lagi!"
Zidan langsung duduk di sebelah Sakti. "Kata gue juga apa? Kita emang udah ditakdirkan untuk bersatu, buktinya kita selalu bertemu!"
"Nggak sudi, najis!"
"Astaghfirullah...!" ucap Sakti. "Chika nggak boleh gitu! Dosa ngatain orang najis! Manusia nggak ada yang najis. Yang najis itu anjing sama babi."
"Dengerin, tuh!" timpal Zidan.
"Emang Zidan kenapa?"
"Dah, lah! Gue cabut!" Chika langsung angkat kaki dari sana.
Cewek aneh.
Itulah yang ada di pikiran Sakti.
"Emang Chika punya masalah apa sama Zidan?" tanya Sakti.
Zidan tersenyum pahit. "Gue suka sama dia, itu aja."
"Oh..." Sakti pun menepuk bahu Zidan. "Sabar, ya..."
"Hahaha! Udah biasa! Udah nggak dirasa!"
...****************...
Di dalam sebuah kamar yang sudah tak layak disebut kamar, empat orang gadis sedang berkumpul di atas ranjang yang sudah tak berbentuk. Sprei yang sudah terlepas, bantal guling berserakan di lantai, dan berbagai macam cemilan yang mengundang semut datang.
"Gue tadi kenalan sama si Sakti." ucap si pemilik kapal pecah yang tak lain adalah Chika.
"Murid baru di kelas lo, kan Dine?" tanya si imut Syarla pada Nadine yang tengah berkutat dengan ponselnya.
__ADS_1
"Hm." Nadine hanya bergumam.
"Emang dia seganteng itu, ya? Kok, kayaknya cewek-cewek pada heboh banget!" ucap Alea sambil menyulut satu batang rokok.
"Tampan paripurna masyaallah tabarakallah subhanallah!" ucap Chika.
"Siapa sih, yang gak ganteng menurut lo?"
"Ya iyalah, Lea! Semua cowok itu ganteng, nggak mungkin cantik!"
"Kalau Zidan?" tanya Syarla.
"Huek!" Chika pura-pura mau muntah. "Itu sih bukan cowok, tapi setan yang bertugas untuk mengganggu manusia di muka bumi khususnya bidadari bernama Chika ini!"
"Aduh, mau muntah!" sarkas Alea.
"Tapi Sakti emang ganteng banget, lho! Tadi gue liat dia di perpustakaan waktu jam istirahat kedua." ucap Syarla.
"Hei, inget David!" ucap Chika.
Syarla hanya tersenyum kecut.
"Enak sih, kalau yang sekelas! Apalagi kalau duduk di belakangnya!" sindir Chika pada Nadine.
"Biasa aja." ucap Nadine.
"Alah! Biasa aja, biasa aja! Padahal hati berbunga-bunga!"
"Najis!"
"Wah! Pangeran IPA 9 lo katain najis? Parah!" Chika geleng-geleng kepala. "Tadi Sakti bilang ke gue, kalau najis itu cuma untuk anjing sama babi! Manusia nggak ada yang najis!"
"Berisik!"
"Emang menurut lo Sakti nggak ganteng?" tanya Syarla pada Nadine.
Nadine terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, "Nggak."
"Kayaknya lo harus ke dokter mata, deh!" ucap Chika.
"Udah, deh! Kok jadi malah ngomongin anak kampung itu, sih? Gue bela-belain datang kesini sampai harus ngebohong ke orang tua gue kalau ada kerja kelompok buat kita saling curhat, kan?" Nadine mengingatkan niat semula mereka.
"Iya, sih, bener!" timpal Syarla.
"Gue sih, lagi nggak ada masalah apa-apa. Silahkan kalian aja kalau mau curhat, gue siap menjadi pendengar yang baik!" ucap Chika.
"Si Syarla, tuh! Dia kan, yang dari kemarin ngajak main terus!" sahut Alea.
Syarla menghela nafas panjang. "Entahlah, Bestie... Ini terlalu sakit untuk diceritakan..."
"David masih belum nembak lo?" tanya Chika.
__ADS_1
Mata Syarla terlihat berkaca-kaca. "Lebih parah... Dia udah nggak mau kenal sama gue lagi..."