AURIGA

AURIGA
BAB 9 : Remuk


__ADS_3


"YA GIMANA MAU MAKAN OBAT, KALO MAKANAN LO AJA MASIH UTUH GINI!?" geram Chika, saat melihat makanan di atas nakas belum tersentuh sedikitpun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nadine! Kenapa lo belum makan!?" tegur Syarla.


"Nggak nafsu." jawab Nadine.


"Lo harus makan! Kalo lo nggak makan, gimana lo mau sembuh!" sergah Alea.


"Gue nggak mau sembuh!" Nadine menarik kembali selimut sampai kepalanya.


Ketiga sahabatnya saling tatap.


Syarla menurunkan selimut Nadine sampai ke lehernya. "Jangan ngomong gitu, Nadine... Kita semua sayang sama lo. Kita semua pengen lihat lo sembuh."


Nadine meneteskan air matanya. "Tapi gue udah nggak kuat, Syar..."


"Nggak kuat kenapa?"


Nadine menceritakan semua apa yang dokter tadi katakan, dan perlakuan ibunya yang tak berubah terhadapnya.


Ketiga sahabatnya kembali saling tatap dengan ekspresi sama-sama bingung. Mereka paham apa yang dialami Nadine sangatlah berat. Tapi mereka juga tak tahu harus berbuat apa.


Akhirnya Syarla pun menarik Nadine ke dalam pelukannya. "Yang sabar, ya Dine. Gue tahu lo pasti bisa ngelewatin ini semua. Karena lo punya kita!'


"Iya, Nadine. Kita akan selalu jadi support system buat lo!" timpal Chika.


"Lo harus percaya kalau kita sayang banget sama lo, dan nggak mau lihat lo sakit!" tambah Alea.


Mereka pun berempat berpelukan erat. Nadine menangi keras-keras.


"Thank's banget... Maaf kalau kadang gue egois dan sering marah-marah nggak jelas ke kalian... Gue juga sayang banget sama kalian..." ucap Nadine sambil terisak-isak.


"Ya udah, sekarang yang terpenting adalah kesembuhan lo! Lo harus makan terus minum obat! Gue nggak mau dengar lagi lo bilang nggak mau sembuh kayak tadi!" tukas Chika.


"Karena kalau habis sakit, pilihannya cuma dua! Sembuh atau mati! Lo mau mati?" tanya Alea.


Nadine menunduk sedih.


"Setelah sembuh ini, lo harus tetap giat belajar tapi jangan terlalu keras. Buktikan ke orang tua lo, kalau lo bisa lebih baik dari kemarin dengan cara belajar lo sendiri! Yang lebih nyaman menurut lo." ucap Syarla.


"Iya, Syar. Sejujurnya, gue emang suka banget belajar. Gue suka matematika, kimia, fisika. Tapi nggak dengan tuntutan dan paksaan juga!"


"Iya lah! Semua orang juga punya waktunya belajar dan punya waktunya istirahat! Dan lo juga sama! Lo manusia, bukan robot! Lo juga perlu main keluar buat healing! Nggak cuman seharian sibuk dengan tumpukan buku!" timpal Chika.


"Iya, buat belajar jadi lebih menyenangkan lagi, Dine!" tambah Alea. "Meskipun bagi gue belajar nggak pernah menyenangkan!"

__ADS_1


"Tapi gimana caranya gue bilang sama nyokap gue? Kalau gue nggak mau terlalu ditekan dan dikekang dalam belajar?" tanya Nadine pada ketiga sahabatnya.


"Lo tinggal bilang aja, apa susahnya?" timpal Alea.


"Lo kayak nggak tahu nyokap gue aja, Lea!"


"Beranikan diri, dong! Kemukakan seluruh isi hati lo! Keluarin semua uneg-uneg lo!'


"Bisa-bisa gue dikeluarin dari kartu keluarga!"


"GUE PUNYA IDE!" seru Chika.


"Pasti nggak berguna!" tukas Alea.


"Ide apaan?" tanya Syarla penasaran.


"Lo bilang aja kalau mulai sekarang lo nggak mau terlalu belajar berlebihan dan itu buat kesehatan lo juga. Lo juga butuh istirahat buat fisik dan mental lo. Tapi lo harus bilang dengan baik-baik. Dan usahain bilangnya ke bokap lo." tutur Chika. "Bokap lo gak sekeras nyokap lu, kan?"


Nadine mengangguk-angguk. "Bener juga, Chi..."


"Tapi itu cuman saran, sih. Selebihnya gue serahin lagi ke lo."


"Oh iya, kita bawain sesuatu buat lo." ucap Syarla, lalu mengeluarkan sebuah styrofoam, dan menyerahkannya pada Nadine. "Bubur ayam Mang Udin kesukaan lo!"


"Wah! Makasih banget!" mata Nadine berbinar. "Udah lama gue nggak makan bubur Mang Udin!"


"Masa iya, anak PMR takut obat!" timpal Chika.


Nadine nyengir, lalu membuka styrofoam itu lalu langsung menyantap bubur ayam favorit nya dengan lahap.


"Tuh, kan, lu laper!" ucap Syarla.


"Pelan-pelan makannya!" timpal Alea.


"WHAT THE F*CK!?"


Semua langsung menoleh ke arah Chika yang baru saja mengumpat setelah baru membuka ponselnya.


"Ada apa, Chi?" tanya Syarla.


"INI SERIUS!?"


"Iya, apa?"


"SI SALSA ANAK IPA 9 KENCAN SAMA SAKTI KE PACIFIC PLACE!?"


Hati Nadine mencelos seketika.


Sakti benar-benar berkencan dengan Salsa?

__ADS_1


"Nggak salah, lo?" tanya Syarla.


"Lihat ini!" Chika memberikan ponselnya pada Syarla. "Lihat SG si Salsa sampai akhir!"


"Coba gue ikut liat!" ucap Alea.


Nadine pun ikut melihat ponsel Chika di tangan Syarla. Memperlihatkan story instagram Salsa yang penuh dengan fotonya dan Sakti. Ada yang mirror selfie, paparazi Sakti, selfie di Kamikatsu, belanja bersama, foto bersama Rheina dan satu teman laki-lakinya lagi dengan caption double date, dan masih banyak lagi.


"Parah, sih! Baru masuk udah berhasil kencan sama cewek paling cantik se-Tunas Bangsa!" ucap Syarla


"Ih, najis! Cantik dari mananya, anjir! Modal wajah bule sama make up dempul aja bangga!" sarkas Chika.


"Si Sakti tuh, sekolah niat cari ilmu atau famous, sih?" ucap Alea. "Tadi gue ketemu dia di depan perpustakaan lagi bercanda sama cewek-cewek! Malah ngelayanin fotbar juga! Sok kegantengan banget! Gue yang tadinya mau ngedeketin jadi ilfeel!"


"Sasimo nggak, sih?" timpal Syarla.


"Kayaknya sih, iya!"


"Ilfeel deh, gue! Mulai sekarang dia bukan crush gue lagi!" ucap Chika dengan wajah yang amat kesal. "Gue nggak suka cowok sasimo!"


"Alah! Palingan juga ntar kalau ketemu salting lagi!" sindir Alea.


"Nggak, ya! Sorry! Masih ada ayang Fardan!"


"Fardan anak IPA 9?"


"Iya! Di lihat-lihat ganteng juga, ya! Apalagi kalau lagi main basket! Ototnya itu, lho! Aw!"


"Di kelas IPA 9 emang banyak yang cakep, ya? Contohnya nih, si Nadine!" timpal Syarla.


"Tapi kok, si Zidan nggak, ya?" ucap Chika.


"Padahal nggak jelek-jelek amat, lho!"


"Tapi pendek, item! Bukan tipe gue banget!"


"Nggak boleh gitu, lo! Body shaming! Kayak lo bagus aja!"


"Idih! Gua mah, bagus!"


Mereka kembali sibuk bercanda. Kecuali Nadine yang mulai hilang kembali nafsu makannya.


Kenapa ada perasaan sesak di dadanya saat melihat Sakti begitu friendly dengan banyak cewek?


Apakah benar Sakti adalah cowok sasimo yang gampangan?


Bahkan ia sudah berani kencan dengan salah satu cewek di Tunas Bangsa! Salsabila Lovita, incaran para siswa di sekolah!


Dan Nadine merasakan jauh di lubuk hatinya ia remuk seremuk-remuknya.

__ADS_1


__ADS_2