
Hari demi hari, Nadine dan Sakti kian dingin dan asing. Sakti tidak pernah menyapa ataupun tersenyum pada Nadine seperti dulu. Nadine juga tidak mencoba sedikitpun membuka topik obrolan dengan Sakti.
Sebenarnya Sakti kenapa?
Apa ia masih marah mengenai perkataan Nadine di pelataran parkir minimarket waktu itu?
Nadine tak mau ambil pusing. Meskipun seringkali ia merindukan obrolan ataupun perdebatan kecil mereka, yang pasti berakhir dengan Sakti yang mengalah dan berkata,
"Iya, maafin Sakti, Nadine..."
Rasanya sulit sekali untuk mengatur nafas ketika Nadine harus menyaksikan tepat di depan matanya bagaimana kedekatan Sakti dengan Salsa.
Dulu, setiap Salsa mendekati Sakti di depan Nadine, Sakti selalu menjaga jarak dan terlihat risih.
Tapi sekarang, Sakti selalu meladeni Salsa. Bahkan Nadine merasa Sakti terlalu melebih-lebihkan dan menaikkan suaranya saat mengobrol dengan Salsa di hadapannya.
"Sakti nggak sibuk, kok! Kapan aja bisa!"
"Mau ngerjain PR bareng? Boleh. Mau dimana?"
"Salsa baik banget!"
"Makasih, Salsa. Salsa juga cantik!"
"Masakan Salsa enak banget! Makasih, ya, udah bawain bekal setiap hari!"
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Sakti untuk Salsa terasa membakar telinga Nadine. Bahkan panasnya terasa sampai hatinya.
Sakti sengaja?
Sengaja untuk menyakiti perasaan Nadine?
Tapi hari ini, ada sesuatu yang mengharuskan Nadine untuk menghampiri Sakti yang sedang asyik sendiri membaca buku di perpustakaan.
Dengan membuang segala rasa gengsi nya, Nadine mendudukkan bokongnya di bangku depan Sakti.
"Sakti..." sapa Nadine hati-hati.
Atensi Sakti langsung teralihkan dari sebuah buku fisika pada Nadine dihadapannya. "Ada apa?" tanya Sakti dingin.
Sejak kapan Sakti menjadi to the point seperti ini?
"Maaf, gue ganggu..." ucap Nadine. "Gue mau ngomong sesuatu sama lo."
__ADS_1
Sakti menaikkan sebelah alisnya. "Mau ngomong apa?"
Nadine menggigit bibirnya sendiri. Rasanya canggung sekali. "L-lo sibuk nggak malam ini?"
"Tumben banget nanya gitu."
"Jadi gini," Nadine menghela nafasnya. "Dikta, yang kemarin, dia ngajak gue sama lo dinner bareng. Dia percaya kalau lo itu pacar gue..."
"Terus?"
"Lo mau, kan? Malam ini jadi pacar bohongan gue?"
Sakti mendengus remeh. "Nadine gini kalau lagi ada butuhnya aja, ya. Giliran udah nggak butuh, kasar banget!"
Nafas Nadine terasa sesak. "Sakti, please... Gua minta maaf soal omongan gue waktu itu. Gue bener-bener nggak sengaja. Tapi gue benar-benar butuh lo... Gak mungkin gue bilang ke Dikta kalau waktu itu gue bohong, kan? Mau ditaruh dimana muka gue?"
"Hm... Gimana, ya?"
"Gue bakal bayar lo berapapun yang lo mau! Asal jadi pacar gue depan Dikta sekali lagi! Please... Sekali lagi."
Nadine mengutuki dirinya sandiri yang seperti tengah mengemis-ngemis pada laki-laki di depannya.
"Masalahnya, Sakti udah ada janji sama Salsa buat belajar bareng."
Salsa sialan!
Hening beberapa detik sebelum Nadine melontarkan satu pertanyaan yang langsung ingin ia tarik kembali.
"Lo udah pacaran sama Salsa?"
"Emang kenapa?" Sakti balik bertanya.
"Ah, nggak!" sergah Nadine, bersikap setenang mungkin. "Kalau lo udah pacaran sama Salsa, nggak mungkin gue ngakuin lo pacar gue ke Dikta. Kalau Salsa tahu, pasti bakal masalah, kan?"
Sakti tak menanggapi apapun. Mengalihkan atensi nya kembali pada buku fisika tebal dengan sejuta rumus.
"Kalau lo udah ada janji sama Salsa, nggak apa-apa. Gue bisa cari cowok lain. Maaf ganggu." Nadine pun bangkit dari bangkunya dan hendak angkat kaki dari perpustakaan itu sambil menanggung beban malu yang berat.
Namun baru juga beberapa langkah, Nadine sudah berhenti kembali saat Sakti memanggilnya,
"Nadine, tunggu!"
...****************...
"Nadine ada kerja kelompok, Pa." ucap Nadine.
__ADS_1
"Kerja kelompok terus, ya?" ucap Pak Gavin lewat sambungan telepon.
"Iya, Pa."
"Mau dirumah siapa?"
"S-Sakti, Pa..."
"Sakti? Sakti siapa?"
"Teman sekelas Nadine. Dia murid baru. Boleh, kan, Pa?"
"Hm... Ya sudah, boleh. Tapi kamu *nggak boleh bohong, ya*?"
"Iya, Pa. Nadine nggak bohong, kok. Tapi Nadine ke rumah Sakti nya bareng teman yang lain, ya?"
"Lho? Kenapa nggak minta antar Mang Asep?"
"Nggak mau ah, Pa. Kemarin aja waktu kerja kelompok di rumah Winda, Nadine nungguin Mang Asep sampai satu jam lebih!"
"Hah? Kamu nggak bilang sama Papa?"
Aduh! Nadine keceplosan!
"I-iya, Pa... Tapi Mang Asep udah minta maaf, kok. Katanya macet dijalan..."
"Nggak mungkin sampai satu jam! Harusnya kamu bilang sama Papa waktu itu, biar Papa bisa kasih hukuman sama Mang Asep!"
"Udah, Papa! Nggak apa-apa, kok! Itu udah lama. Nggak usah diperpanjang lagi. Cuman hari ini Nadine emang mau bareng aja sama temen Nadine, soalnya emang satu kelompok. Udah dulu, ya Pa? Nadine mau mandi dulu, bye..."
Nadine menepak jidatnya sendiri.
Kenapa bisa ia keceplosan pada ayahnya tentang Mang Asep?
Bagaimana kalau Pak Gavin menghukum Mang Asep, dan Mang Asep membeberkan tentang Nadine dan Sakti di halte waktu itu?
Lagi-lagi ia mengutuk dirinya sendiri.
Aih, perduli setan! Mang Asep tidak punya bukti!
Nadine menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali ia berbohong pada orang tuanya dengan alibi kerja kelompok.
Ini semua gara-gara Dikta!
Untung saja kedua orang tuanya sekarang sedang meeting di luar kota, dan Sakti mau menjadi pacar pura-puranya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Nadine harap ini akan berjalan sesuai rencana.