
Sial.
Rasanya Nadine ingin mengumpat keras-keras.
Ternyata dugaannya benar.
Anak laki-laki Tante Verra yang sebaya dengannya itu adalah dia.
Pradikta Angga Baskara.
Dengan senyum picik menjijikkannya.
"FRISKA! OH, MY GOD! I MISS YOU SO MUCH!"
Wanita bertubuh gemuk dengan rambut vintage curls, yang tak lain adalah Tante Verra itu memeluk Bu Friska dengan eratnya, begitu Bu Friska dan Nadine datang.
"I miss you more!" ucap Bu Friska, lalu mencium pipi Tante Verra. "Sudah lama menunggu?"
Tante Verra balas mencium pipi Bu Friska. "Oh, tentu belum! Aku dan anakku baru sampai beberapa menit lalu!"
Bu Friska dan Tante Verra dengan masing-masing anaknya pun duduk di salah satu meja restoran yang berisi empat bangku.
"Jadi ini anakmu, Fris?" tanya Tante Verra. "She looks so pretty!"
"Thank you very much, Verr!" sahut Bu Friska, lalu beralih pada Nadine. "Nadine, jadi ini Tante Verra, teman Mama."
Nadine tersenyum lalu ulurkan tangannya pada Tante Verra. "Namaku Nadine, Tante."
Tante Verra langsung menyambut uluran tangan Nadine. "Nama Tante, Verra Adhisty. Nice to meet you, girl!"
"Nice to meet you too."
"Nah, kalau ini anak Tante!" Tante Verra menepuk pundak Dikta. "Ayo, kenalan dulu."
"Nadine Raheela Wiratama, kan?" tanya Dikta dengan senyum miringnya.
Dikta sialan. Kenapa dia tidak bisa berpura-pura kalau tidak mengenalinya?
Bu Friska dan Tante Verra mengerutkan keningnya.
"Lho? Kalian udah saling kenal?" tanya Bu Friska.
"Iya, Tante. Dulu kita-"
"Pernah ketemu sewaktu Dikta lomba di sekolah Nadine." Nadine langsung memotong cepat ucapan Dikta.
Dikta langsung menaikkan sebelah alisnya. Sementara Nadine langsung memasang senyum tanpa dosa.
__ADS_1
"Terus kenapa Nadine seperti tidak mengenal Dikta?" tanya Tante Verra.
"Tadinya Nadine takut salah, Tante. Waktu Dikta lomba di sekolah Nadine itu udah lama banget. Sekitar setahun lalu. Itu pun kenalannya nggak sengaja. Nadine cuman pernah obatin Dikta di UKS." ujar Nadine, berdusta sedikit. "Mama juga nggak bilang kalau anak Tante Verra itu Dikta."
"Oh, jadi begitu, ya? Aduh kebetulan sekali!" seru Tante Verra excited.
"Mama nggak kasih tahu kamu biar surprise aja. Biar kenalan langsung tadinya. Eh, tapi ternyata sudah kenal duluan, ya? Syukurlah!" timpal Bu Friska.
Apanya yang syukurlah?
Nadine benar-benar tidak mengerti.
Bahkan tadi Bu Friska sampai meminjamkan dress miliknya untuk Nadine pakai. Karena katanya, semua pakaian Nadine tidak ada yang cocok untuk dipakai makan malam istimewa. Nadine juga sampai di dandani langsung oleh Bu Friska setelah sebelumnya hanya memakai bedak dan liptint.
Sejak kapan ibunya perduli tentang penampilannya?
Sebegitu istimewa kah, Tante Verra dan Dikta ini, sampai-sampai Nadine harus tampil sedemikian rupa?
"If so, sekarang kamu kenalan dengan Mama nya Nadine." ucap Tante Verra pada Dikta.
Dikta mengulurkan tangan pada Bu Friska. "Tante, kenalin, saya Pradikta Angga Baskara, biasa dipanggil Dikta."
Bu Friska menjabat uluran tangan Dikta. "Friska Inara, best friend your mommy."
"Now, let's order something!" seru Tante Verra. "What do you want, Fris? Aku akan mentraktir!"
"Wah, kamu serius?" tanya Bu Friska girang.
"Commonly, spaghetti carbonara!"
"Oh, kamu masih suka memakan itu?"
"Itu masih menjadi makanan kesukaanku!"
"Okay, kalau begitu aku pasta carbonara!" Tante Verra beralih pada Nadine dan Dikta. "Kalau kalian, kalian mau makan apa?"
Nadine pun melihat buku menu yang ada di meja. "Rissoto boleh."
"Aku juga rissoto!" sahut Dikta.
"Kok, ngikutin, sih?" protes Nadine.
"Memangnya kenapa? Nggak boleh?" Dikta balik protes. "Aku memang sudah suka rissoto dari dulu, kok. Bukan karena mau ngikutin kamu. Tenang aku nggak akan malu-maluin dengan alasan rasanya aneh di lidahku, kok."
Nadine menatap Dikta tajam. Ia tahu Dikta tengah menyindirnya soal makan malam dengan Sakti beberapa hari lalu.
"Memangnya siapa yang malu-maluin karena rasa makanannya aneh di lidah?" tanya Bu Friska.
Dikta tersenyum picik pada Nadine. "Itu lho, Tante. Beberapa hari lalu, aku dinner bareng teman di salah satu japanese food restaurant. Tapi dia bilang kalau rasa sushi nya nggak enak, asam, asin, sampai-sampai dilepeh ke tisu. Bahkan dia bilang kalau matcha nya pahit sampai di semprot kena makananku!"
__ADS_1
"Menjijikkan sekali!"
"Dikta, you didn't tell Mommy!?" tanya Tante Verra terkejut.
"Unimportant, Mom!"
Nadine menunduk, menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merah menahan malu. Bisa-bisanya Dikta mengingatkannya kembali kepada malam petaka itu. Malam dimana Nadine harus menanggung beban malu akibat perbuatan Sakti dan menangis di hadapan Sakti.
Sakti.
Nadine mencintai Sakti.
Nadine merindukan Sakti.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Bu Friska dan Tante Verra terus bernostalgia zaman remaja dulu.
"Aku ingat, dulu kamu yang paling sering gonta-ganti cowok di sekolah!" celetuk Tante Verra sambil terkekeh.
"Kamu ini! Jangan dibahas lagi, dong! Malu, ada anak aku!" protes Bu Friska.
"Santai aja kali, Ma." sahut Nadine lalu menyeruput vanilla latte.
"Jangan bilang-bilang Papa, lho, kamu!"
"Hahaha! Nggak bakalan, lah, Ma. Eh, tapi, aku mau nanya. Papa pacar keberapa Ma?"
Bu Friska berpikir sebentar. "Dua puluh... Eh, apa dua puluh satu? Dua puluh lima kali!"
Nadine melongo tak percaya. "Mama diam-diam ternyata suhu, ya!"
"Mama kamu dulu paling cantik, Nadine! Bintangnya Pelita Bakti angkatan 98!" ucap Tante Verra.
Bu Friska tertawa kecil. "Jadi rindu masa muda, ya? Dulu aku cantik dan berisi. Sekarang aku sudah mulai keriput dan tinggal tulang!"
"Hei, kamu tidak boleh begitu! Kamu masih tetap cantik, kok!"
"Tapi sekarang kamu gemuk, ya? Padahal dulu kamu kecil sekali!"
"Sepertinya aku kurang gerak selama di Australia! Aku harus mulai ikut zumba sekarang!"
"Jangan, Verr! Aku malah ingin seperti kamu! Berat badan ku turun drastis! Kata dokter, aku kecapekan dan terlalu sibuk bekerja!"
"Jangan terlalu keras bekerja, Fris!" Tante Verra beralih pada Nadine. "By the way, Nadine sekolah dimana?"
"Tunas Bangsa." jawab Nadine.
"Kenapa nggak ke Pelita Bakti saja sama Dikta?"
"Biasa, lah! Papa nya!" timbrung Bu Friska. "Bersikeras untuk Nadine sekolah disana! Mentang-mentang dia alumni sana! Padahal Pelita Bakti nggak kalah bagus dari Tunas Bangsa!"
__ADS_1
"Lebih baik kamu pindah saja ke Pelita Bakti! Biar bisa lebih sering bareng sama Dikta!" usul Tante Verra. "Gimana, Fris? Ini bisa lebih memudahkan misi kita, lho!"
Misi?