AURIGA

AURIGA
BAB 21 : Sesuai Rencana


__ADS_3


Di meja sudah tersaji nasi yang dibumbui cuka khas Jepang yang diisi dengan daging tuna yaitu sushi, lobak pedas khas Jepang atau wasabi dan kecap asin.


Menggiurkan.


Tapi tidak dengan Sakti.


Ia tidak pernah mencoba makanan asing seperti itu.


Firasatnya tidak enak!


Bagaimana jika tidak cocok di lidahnya dan membuatnya malu sendiri?


Sedari tadi saja Sakti sudah sering dipermalukan oleh Dikta dan Viona!


Dua orang menyebalkan!


Nadine, Dikta dan Viona mulai mencicipi sushi tersebut.


"Udah lama aku nggak makan sushi." ucap Viona.


"Aku juga." sahut Dikta.


"Sushi nya enak banget! Sakti, ayo dimakan!" ucap Nadine.


"Iya, Nadine." Sakti pun mencelupkan sushi dengan sumpit ke kecap asin dan mencicipinya.


Gleg!


Makanan apa ini!?


Rasanya sangat asin dan asam.


Melihat perubahan raut wajah Sakti, Nadine mengerutkan keningnya.


"Sakti, kenapa?" tanya Nadine.


"Nggak, nggak apa-apa, Nadine..." jawab Sakti.


Tanpa mereka sadari, Dikta dan Viona tersenyum miring.


Sakti mencoba mencicipinya lagi.


Benar-benar tidak enak.


Jadi begini rasanya sushi!? Nasinya sangat asam seperti diberi ribuan tetes cuka. Daging tunanya juga asam seperti sudah lama dan asin seperti diberi beberapa sendok garam.


Sakti benar-benar tak kuat.


Ia mengambl satu tisu yang disediakan dan melepeh makanan yang sudah ia kunyah.


"Sakti!? Kenapa dilepeh!?" tanya Nadine.


"Nggak sopan!" tukas Viona.

__ADS_1


"Makanannya nggak enak, Nadine! Asam dan asin nggak jelas!" ujar Sakti.


"Namanya juga sushi! Apa makanan Jepang emang nggak cocok di lidah orang Sukasari?" sindir Viona.


"Ngeganggu mood orang makan aja!" timpal Dikta.


Nadine mulai panik.


Bisa-bisanya Sakti membuatnya malu!


"Sushi emang gini, Sakti! Ayo, makan aja!" ucap Nadine.


"Tapi ini beneran nggak enak, Nadine!"


"SAKTI!" bentak Nadine. "Seenggaknya kamu tahu adab di meja makan!"


"Namanya juga orang kampung, Dine! Belum terbiasa makan sushi!" ucap Dikta.


"Mungkin ini baru pertama kali dia makan Japanese food. Wajar aja." timpal Viona.


Nadine pun memelototi Sakti untuk memberi kode agar makan saja sushi menjijikkan itu.


Sakti pun menghela nafas kasar. Wajahnya sudah pucat. Namun ia juga tidak ingin membuat malu Nadine.


Sakti pun membubuhi sushi dengan wasabi, lalu mencicipinya.


Refleks Sakti melepeh kembali pada tisu.


Entah berapa level pedas wasabi yang disajikan untuk Sakti.


Dengan segera ia meraih sedotan matcha lalu menyedotnya. Belum juga sampai di kerongkongannya, lidahnya sudah dihadiahi sensasi pahit yang langsung membuatnya menyemprotkan minuman itu dari mulutnya.


"SAKTI!!!" teriak Nadine frustasi.


"Menjijikkan!" sarkas Viona.


Sakti tak tahan lagi. Isi perutnya minta untuk dimuntahkan. Ia pun berlari hendak menuju toilet namun terlebih dahulu menabrak seorang pelayan perempuan yang sedang membawa pesanan sehingga,


PRANG!!!


Nampan berisi mangkok ramen yang dipegang oleh pelayan itu jatuh dan pecah berserakan di lantai.


"Astaga, Mas! Kalau jalan di pakai matanya!" sergah pelayan perempuan itu.


Sakti memberi kode minta maaf sambil menutup mulutnya lalu kembali berlari menuju toilet. Gawat kalau ia memuntahkan isi perutnya di depan banyak orang yang sedang memperhatikannya kini.


"Nadine, sabar, ya... Kamu pasti malu berat..." ucap Viona dengan nada prihatin yang dibuat-buat.


Nadine pun menepak jidatnya, lalu menghampiri pelayan perempuan itu. "Saya minta maaf... Saya akan ganti kerugian ini..."


...****************...


"HUEKKK!!!"


Di dalam sebuah bilik toilet, Sakti mengeluarkan seluruh isi perutnya.

__ADS_1


Keringat dingin membasahi pelipisnya.


Ini tidak benar!


Tidak mungkin ada makanan dengan rasa aneh seperti itu.


Nadine, Dikta dan Viona saja tampak sangat lahap memakan sushi itu.


Pasti makanan yang disajikan untuknya diproduksi dengan tidak semestinya.


Pasti ada suatu konspirasi!


Ada seseorang yang ingin mempermalukannya.


Sakti mengacak rambutnya sendiri.


Sekarang ia harus bagaimana?


Nadine pasti akan marah besar, dan urusan dengan pelayan perempuan tadi pun belum selesai!


Dengan langkah gemetaran, Sakti kembali menuju meja dimana Nadine sudah menatapnya dingin. Apalagi beberapa orang masih memperhatikannya dengan tatapan mengintimidasi.


"Nadine..." ucap Sakti bergetar


Nadine menaruh banyak lembar uang merah di meja dan meraih tas tangannya. "Gue minta maaf untuk makan malam yang kurang mengenakkan ini. Biar gue yang bayar semua makanannya. Gue pamit pulang dulu."


Dikta bangkit lalu menyerahkan kembali uang Nadine. "Ambil! Aku yang akan bayar semuanya!"


"Nggak! Hitung-hitung gue ganti rugi. Karena gue yakin kalian nggak bakal ngelanjutin makannya, kan? Gue janji lain kali pasti akan lebih menyenangkan." ujar Nadine. "Ayo, Sakti!"


Nadine pun menarik tangan Sakti keluar dari restoran tersebut.


Dikta dan Viona pun langsung saling tatap penuh maksud.


Ini berjalan sesuai rencana mereka!


Sementara itu diluar restoran, Nadine langsung melepaskan tangan Sakti dengan keras.


"MAKSUD LO TUH, APA, SIH!? SENGAJA BIKIN MALU GUA!?" tanya Nadine penuh amarah.


"Nadine, sumpah! Tadi sushi nya nggak enak banget!"


"Nggak enak gimana!? Gue, Dikta sama Viona aja enak-enak aja, kok makannya!"


"Nadine! Please...! Percaya sama Sakti! Rasanya benar-benar nggak enak! Asam! Asin! Pedas! Bahkan minumannya aja tadi pahit!"


"Bilang aja lidah lo nggak biasa makan sushi!"


"Walaupun Sakti nggak pernah makan mewah kayak kalian, tapi Sakti tahu gimana rasa makanan! Kenapa Nadine nggak percaya sama Sakti!? Padahal Nadine cobain makanan Sakti tadi! Rasanya benar-benar aneh! Sakti sampai muntah!"


"Tapi lo bisa jaga image sedikit, kan!? Karena lo, gue harus ganti kerugian yang lo tabrak tadi! Gara-gara lo juga, gue harus nanggung malu depan banyak orang dan Dikta! Nyesel gue bawa lo! Dasar orang kampung! Lo nggak bisa sebanding apalagi melebihi Dikta! Jatuh harga diri gua!"


Sakti terbelalak.


Kata demi kata yang Nadine lontarkan benar-benar menusuk ke hatinya.

__ADS_1


Hingga ia dapat merasakan matanya mulai basah.


"Nadine jahat! Benar kata Sakti tadi, kan!? Nadine baik kalau lagi ada butuhnya aja! Nadine udah tahu, kan kalau Sakti orang kampung? Terus kenapa tadi pagi Nadine mohon-mohon ke Sakti buat jadi pacar Nadine depan Dikta!? Kenapa Nadine nggak minta tolong ke cowok lain aja!? Sakti nggak akan pernah bisa sebanding dengan Dikta! Kenapa Nadine nggak balikan aja sana sama Dikta!? Cowok yang punya segalanya yang Nadine mau! Kalau Nadine menyesal bawa Sakti, Sakti lebih nyesal kenapa mau nemenin Nadine dinner sama mantan Nadine malam ini! Kenapa Sakti nggak belajar aja bareng Salsa! Salsa nggak pernah jahat kayak Nadine! Nadine nggak pernah ngehargain Sakti! Nggak pernah mikirin perasaan Sakti! Yang Nadine pikirin cuman gimana caranya agar lebih dari mantan Nadine! Nadine nggak mau kalah saing dari Dikta! Sakti tahu Nadine masih cinta sama Dikta! Mulai sekarang, jauhin Sakti! Jangan pernah minta tolong lagi sama Sakti! Cari aja cowok lain! Sakti minta maaf untuk malam ini! Sakti nggak akan buat malu Nadine lagi!"


__ADS_2