
Sudah tiga hari berlalu sejak Nadine melaksanakan kerja kelompok di rumah Winda. Masih menenangkan dan menyenangkan. Bu Friska sudah tidak terlalu mengekangnya untuk belajar, walaupun sikapnya masih terasa dingin.
Dan, memang entah kapan juga ia hangat pada anaknya sendiri.
Hidupnya habis hanya untuk karir dan bisnis.
Maka dari itu, Nadine tidak pernah mempermasalahkannya.
Namun masalah baru untuk Nadine menghadang kembali.
Dengan nomor barunya, Dikta meneror kembali Nadine dengan spam chat dan telepon nya.
Nadine, kamu bohong kan? Cowok itu bukan pacar kamu kan?
Please Nadine... Maafin aku...
Kamu mau kan kembali sama aku?
Kamu masih cinta kan sama aku?
Kita mulai semuanya dari awal
Dan masalah Viona, aku ga pernah pacaran sama dia
Dan masih banyak lagi!
Namun tak satupun pesan Dikta yang ia balas, pun, telepon yang ia angkat.
Sekitar satu tahun ke belakang, saat Nadine baru naik ke kelas 11, ia bertemu dengan Dikta ketika di selenggarakan pekan olahraga di sekolahnya.
Pradikta Angga Baskara, yang sewaktu itu menjadi shooting guard di klub basket Pelita Bakti menarik perhatian Nadine.
Dan siapa sangka Dikta juga memperhatikan Nadine, seorang PMR Wira yang menolong pemain sepak bola yang cedera.
Mereka berkenalan di taman sekolah dan mulai sering bertemu di luar sekolah tanpa ada yang tahu, kecuali tiga sahabat Nadine.
"Nadine, kamu mau kan, jadi pacarku?" tanya Dikta sore itu di sebuah cafe.
__ADS_1
Nadine menghela nafas. "Hm... Gimana, ya, Ta..."
"Emang kenapa Nadine? Aku cinta sama kamu." ucap Dikta sambil menyuapi sesendok es krim ke mulut Nadine.
"Aku sudah cerita kan, tentang orang tuaku? Untuk bertemu kamu sekarang saja, aku harus berbohong ada kerja kelompok dulu. Mereka belum mengizinkan aku pacaran..."
"Kamu jangan bilang orang tua kamu, dong."
"Mana bisa begitu?"
"Bisa dong! Kita bisa ngejalanin hubungan ini secara back street."
"Back street?"
"Yes!"
"Do you mind for privacy relation? Back street? Unpublished?"
"That's not a problem! Asalkan sama kamu, apapun itu aku mau!"
Dan mereka pun mulai menjalani hubungan secara back street. Nadine yang super sibuk dengan kehidupan sekolah dan waktu belajarnya, tidak bisa terlalu sering bertemu dengan Dikta.
"Kan kamu udah tahu dari dulu kalau aku memang gini! Terus kenapa kamu masih mau sama aku!?"
"Tapi ngga**k kayak gini juga! Kita udah seminggu lebih nggak ketemu! Please, kali ini aja... Aku mau ngajak kamu nonton bareng."
"Maaf, nggak bisa! Aku harus belajar benar-benar buat persiapan OSN! Kamu nonton sama yang lain aja!"
Kebetulan sekali malam itu, tiba-tiba Pak Gavin dan Bu Friska mengajak Nadine untuk menghadiri makan malam di restoran dengan rekan kerja Pak Gavin.
Dan alangkah terkejutnya bukan main Nadine saat melihat ada sosok kekasihnya baru saja keluar dari bioskop yang terletak di sebelah restoran bersama seorang perempuan. Bahkan tangan Dikta dengan lancang merangkul bahu perempuan sialan itu.
Saat mata Dikta dan Nadine bertemu tatap, Dikta gelagapan namun tak berkata apa-apa. Nadine pun hanya tersenyum kecut lalu mengikuti langkah ayahnya memasuki restoran.
Nadine langsung memutuskan hubungan mereka lewat chat yang tidak diterima begitu saja oleh Dikta. Nadine memblokir seluruh akses Dikta untuk bisa menghubunginya. Seringkali ia melihat Dikta di depan gerbang sekolahnya saat jam pulang, tapi Nadine selalu menghindar dan bersembunyi. Demi apapun, untung Nadine tidak pernah memberitahukan alamat rumahnya.
Sakit.
Satu kata yang mampu menjabarkan perasaan Nadine saat itu.
__ADS_1
Bagaimanapun Dikta adalah pacar pertamanya. Cinta pertamanya. Bahkan ciuman pertamanya.
Sial.
Apa cinta pertama memang selalu berakhir luka?
Suatu hari, pernah Dikta berhasil mencegat Nadine di halte sekolah saat sedang menunggu jemputan Mang Asep.
"Mau apa lagi, sih lo!?" tanya Nadine. "Ganggu hidup orang terus! Kurang kerjaan banget!"
"Nadine, please... Maafin aku... Aku sama perempuan itu ngg**ak ada hubungan apa-apa! Aku sama dia cuman teman! Namanya Viona." Dikta mencoba menjelaskan.
"Nggak perduli!"
"Nadine, jangan kayak gini, please! Buka blokir nomer aku. Aku masih mau sama kamu, aku nggak mau putus..."
"Gue udah **ng**gak mau sama lo! Sadar diri, dong!"
"*Nggak! Aku yakin, kamu masih mau sama aku! Kamu cuman membohongi hati kamu karena marah soal malam itu, kan*!?"
"Kalau iya, emang kenapa!?" Nadine menunjuk wajah Dikta. "Gua paling benci sama cowok bajingan kayak lo! Lo udah berani jalan sama cewek lain di belakang gue! Lo harus tahu, gua **ng**gak suka dibohongin apalagi diduain!"
"Aku ngga**k ngeduain kamu. Dia Viona, teman aku dari kecil, bahkan kita tetanggaan!"
"Teman? Sedekat itu?"
"Lagian aku udah ngajakin kamu nonton malam itu, tapi kamu bilang sama orang lain aja! Apa aku salah pilih Viona jadi teman nonton? Dia selalu ada buat aku disaat aku membutuhkan kamu!"
Mata Nadine berkilat sadis. "Sialan! Jadi lo nyalahin gue!? Oke! Gua yang salah! Dengan hormat, gue minta maaf dan izin pergi dari kehidupan lo! Silahkan senang-senang dengan teman cewek yang selalu ada buat lo itu!"
Nadine terpuruk, sangat. Bahkan nilainya pun menurun drastis di semester 2 dari semester 1 walaupun masih menduduki peringkat pertama di kelas. Hukuman demi hukuman berupa tambahan waktu belajar dari ibunya semakin menyiksa perasaan Nadine.
Dan sekarang, di kelas 12 semester 1 ini, Nadine sudah mulai mencoba bangkit dari luka lamanya itu. Ia sudah mulai berdamai dengan kenyataan. Ia sudah sangat jarang keluar rumah karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar sehingga tidak pernah bertemu kembali dengan Dikta.
Tapi kenapa setelah komunikasi dengan orang tuanya baru saja membaik, dan kehadiran seorang Sakti yang selalu mendatangkan semangat dihatinya layaknya harapan baru yang selalu datang di pagi hari, Dikta, orang yang pernah ia cintai dengan sangat, ia rindui dengan sangat, ia benci dengan sangat, bahkan ia lupakan dengan sulit dan berat, malah kembali datang ke kehidupannya?
Dan Nadine menduga akan ada benih luka dan patah hati lagi.
Entah dari Dikta, Sakti, ataupun orang-orang lain disekitarnya.
__ADS_1