
"Maaf sebelumnya, Tuan. Tapi saya mau bilang pada Tuan tentang kelakuan anak Tuan diluar rumah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perkataan Mang Asep sontak membuat Nadine mendelik sadis.
"Maksudnya? Memang dia kenapa diluar rumah?" tanya Bu Friska, seraya menatap Nadine tajam.
"Iya! Maksud Mang Asep apa, sih!?" tanya Nadine kesal.
"Sewaktu saya lama menjemput Non Nadine, Non Nadine nggak kesal, kok, Nyonya. Soalnya begitu saya sampai di sekolah, Non Nadine lagi pacaran di halte sekolah!" ujar Mang Asep.
Pak Gavin dan Bu Friska spontan mendelik ke arah Nadine.
"Pacaran!?" sergah Pak Gavin.
"Mang Asep ngomong apa, sih!? Aku pacaran? Mana ada!" kilah Nadine.
"Nggak usah nyangkal, Non! Saya udah lihat dengan mata kepala saya sendiri, Non pegang-pegang pipinya Den yang kemarin!"
"Mang Asep nggak usah ngarang, ya!"
"Bohong itu nggak baik, Non! Lebih baik sekarang Non jujur sama Tuan dan Nyonya! Kalau sebenarnya di sekolah Non udah punya pacar yang suka di pegang-pegang pipinya!"
"CUKUP!!!" teriak Bu Friska, lalu melirik ke arah putrinya. "Apa benar yang dikatakan Mang Asep? Kamu sudah berani punya pacar di sekolah!?"
"Nggak, lah, Ma! Nadine nggak mungkin punya pacar! Mang Asep cuman fitnah!" Nadine tetap berkilah.
"Memangnya kemarin kamu menunggu Mang Asep dengan siapa!?"
"Sakti, Ma. Murid baru dari kampung. Waktu itu Nadine kebagian dapat tugas belanja bahan-bahan sama Sakti, makanya Nadine nunggu Mang Asep di halte bareng Sakti."
"Sakti? Kamu kerja kelompok di rumahnya, kan, kemarin?" tanya Pak Gavin.
"Iya, Pa," jawab Nadine. "makanya nggak mungkin banget, kan, Nadine pacaran sama Sakti? Di depan sekolah pula!"
"Kalau nggak pacaran, kok pegang-pegang pipi?" sindir Mang Asep.
"Mang Asep punya bukti?" tanya Pak Gavin.
"Nah, bener! Mang Asep ada bukti, nggak!?" timpal Nadine.
Mang Asep gelagapan. Dia tak punya bukti yang mendukung.
"Nggak ada, kan!? Lain kali kalau mau fitnah tuh, pikir dulu pakai otak!" bentak Nadine yang sudah benar-benar emosi.
__ADS_1
"NADINE!" bentak Bu Friska. "Jaga omongan kamu! Bagaimanapun juga Mang Asep lebih tua dari kamu! Sedari kecil kamu selalu diajari sopan santun!"
"Iya, maaf, Ma... Nadine kesal banget sama orang ini...!"
"Lantas apa maksud kamu menuduh anak saya, Asep!?" tanya Pak Gavin dengan mata yang melotot sadis.
"Saya nggak nuduh, Pak... Saya mohon, Bapak percaya sama saya..." ratap Mang Asep.
"Mau bagaimana saya percaya kalau kamu tidak ada bukti sama sekali!?"
"Nadine benar-benar nggak terima dituduh kayak gitu! Padahal tadinya Nadine kasihan sama dia! Tapi dasar nggak tahu diri! Pecat aja dia, Pa!" ujar Nadine.
Mang Asep kembali memeluk kaki Pak Gavin. "Jangan, Tuan...! Jangan pecat saya...! Saya mohon... Saya minta maaf..."
"Jangan seperti ini!" ucap Pak Gavin seraya mencoba melepaskan kakinya dari pelukan Mang Asep, namun sulit. Akhirnya, dengan sekuat tenaga Pak Gavin mengenyahkan Mang Asep dari kakinya sampai Mang Asep tersungkur.
"Pa, jangan terlalu begitu, Pa!" sergah Bu Friska.
"Tapi dia keterlaluan, Ma!"
"Sudah Pa, pecat aja dia!" ucap Nadine lagi.
Mang Asep menangis tersedu-sedu. Sementara Pak Gavin mulai terbujuk.
"Tapi Pa, Mang Asep sudah menjadi supir kita selama kurang lebih tiga belas tahun! Sejak Nadine umur empat tahun! Apa pernah dia berbuat kesalahan? Tidak, kan? Masa hanya karena satu kesalahan dia yang telat menjemput Nadine, kita melupakan semua pengabdiannya selama ini?" ujar Bu Friska.
Pak Asep begitu terharu pada nyonya-nya itu. "Terima kasih, Nyonya... Tidakkah Tuan mau memaafkan saya...?" ratapnya.
Pak Gavin menghela napas kasar. "Sekarang, lebih baik kamu bawa semua barang-barang mu dan angkat kaki dari rumah ini!" ucapnya pada Mang Asep.
"Tapi, Pak..."
"Atau kamu mau saya sendiri yang melempar semua barang-barang kamu keluar!?"
Mang Asep pun pasrah. Ia bangkit lalu berjalan gontai menuju kamarnya. Mengemasi seluruh barangnya, lalu menghampiri Bi Irni di dapur yang sedari tadi melihat semuanya.
"Saya pamit, Bi..." ucap Mang Asep sambil mencium tangan Bi Irni.
Bi Irni meneteskan air matanya. Baginya, Mang Asep sudah seperti adiknya sendiri. Tiga belas tahun mereka saling mengenal dan berjuang untuk keluarga di tempat yang sama. "Hati-hati, ya, Sep... Maafin Bibi, nggak bisa nolong..."
"Nggak apa-apa, Bi... Saya pasrah... Tapi Bibi lihat saja kedepannya. Allah maha adil. Semua pasti akan terbongkar. Saya tidak berbohong, Bi..."
Mang Asep pun pergi dari rumah itu, sebelum berpamitan dengan Bu Friska, satu-satunya majikan yang mau menemuinya.
"Maafkan saya, Mang. Saya nggak bisa berbuat apa-apa. Keputusan suami saya tidak bisa diganggu gugat." ucap Bu Friska.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Mau bagaimana lagi? Saya sudah berkata jujur. Saya mengakui kesalahan saya. Tapi Non Nadine? Saya tidak berbohong, Nyonya. Non Nadine sewaktu itu memang sedang pacaran di halte sekolah." ujar Mang Asep.
__ADS_1
"Entahlah, Mang. Saya juga tidak bisa langsung percaya begitu saja, sedangkan Mang Asep memang tidak mempunyai bukti sama sekali. Tapi saya akan selidiki tentang ini."
"Iya, Nyonya. Selidiki saja. Cepat atau lambat, semua akan terungkap."
"Saya hanya bisa memberi ini, Mang." Bu Friska menyerahkan amplop berisi segepok uang ke tangan Mang Asep. "Semoga cukup. Terima kasih untuk selama ini, ya, Mang. Saya tahu kamu orang baik."
Mang Asep langsung menempelkan amplop itu ke dahinya. "Terima kasih, Nyonya! Semoga Allah membalas kebaikan Nyonya...!"
"Aamiin, Mang..."
...****************...
Di malam yang sama, Sakti tengah mengerjakan PR di ruang tamu rumah Salsa, dengan meja sofa tamu untuk alas menulis dan lantai untuk alas duduk. Ini bukan yang pertama kalinya. Di rumah mewah namun minimalis dengan khas ala barat nya, Salsa hanya tinggal dengan kakak laki-lakinya, Bastian yang sudah akrab dengan Sakti, dan asisten rumah tangga nya. Kedua orang tuanya tidak menetap di Indonesia. Mereka lebih sering tinggal di Amerika karena keperluan bisnis.
"Fiuh...! Akhirnya selesai juga, ya?" ucap Salsa lega.
"Iya, Salsa. Capek juga, ya?" sahut Sakti sambil melakukan peregangan pada tangan dan lehernya.
"Banget! Aku paling nggak suka nulis banyak! Tapi untung ada kamu! Sejak kenal kamu, aku jadi rajin belajar!"
"Bagus, dong! Berarti Sakti bawa dampak positif buat Salsa."
"Selalu!"
Sakti pun merapikan buku tulis dan buku paket bahasa Indonesia miliknya dan milik Salsa juga.
"Eh, Sakti! Yang aku nggak usah diberesin!" sergah Salsa.
"Nggak apa-apa, Salsa."
"Makasih banget, lho."
"Iya, sama-sama."
Setelah itu, suasana pun hening. Begitu Sakti menatap Salsa, Salsa sudah memandangnya lebih dulu. Sakti terbawa suasana. Salsa begitu cantik dengan baju tidur pink hello kitty nya dan wajah tanpa polesan make up nya.
Diam-diam Sakti membandingkan antara Nadine dan Salsa. Dan hati kecilnya berkata jujur bahwa Salsa sedikit lebih cantik. Mungkin jika Nadine bisa sedikit lebih ramah, ia bisa lebih jauh cantik dibanding Salsa.
Namun bagaimanapun juga, Sakti hanya mencintai Nadine, bukan Salsa ataupun yang lainnya.
Walaupun tak bisa dipungkiri, Sakti kini mulai mendapatkan rasa nyaman pada Salsa, bukan risih seperti dulu.
"Sakti..." ucap Salsa.
"Iya, Salsa?" sahut Sakti.
"Ada yang mau aku obrolin sama kamu. Udah lama, tapi kayaknya sekarang timing nya tepat, deh."
__ADS_1
"Mau obrolin apa?"
Salsa menyentuh tangan Sakti. "Aku tahu, kamu nggak mungkin nggak tahu, kalau aku cinta sama kamu."