
"BERANI KAMU BICARA KURANG AJAR SEPERTI ITU KEPADA ORANG TUA KAMU!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara Bu Friska menggelegar seisi ruangan.
"Boleh kan, Pa...?" Nadine tetap menghiba.
Bu Friska bangkit dari duduknya dengan penuh amarah. Tapi Pak Gavin langsung menahan istrinya agar tetap duduk.
"Tahan, Ma..." ucap Pak Gavin.
"Tapi, Pa!"
Pak Gavin menatap anak semata wayangnya. "Maafkan Papa kalau Papa dan Mama terlalu menekan kamu untuk belajar dan menuntut kamu untuk mendapat nilai yang bagus. Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Dan Papa sama sekali tidak tahu kalau kamu tersiksa dengan itu semua. Bahkan soal dokter bilang kamu stress karena belajar, Papa tidak tahu sama sekali! Mama mu hanya bilang kamu pingsan karena anemia!"
Nadine menatap ibunya yang membuang muka.
"Mulai sekarang, Papa tidak akan terlalu mengekang kamu untuk belajar, Nadine. Kamu boleh keluar dan main bersama teman-teman kamu di hari libur, tapi tetap harus tahu waktu! Kamu juga tetap harus punya waktu belajar di rumah, tapi jangan dipaksakan kalau sudah lelah! Kesehatan kamu lebih penting sekarang. Maafkan Papa selama ini ya, Nak..." tutur Pak Gavin sambil mengusap-usap rambut anaknya.
"Terima kasih, ya Papa..." Nadine pun masuk ke dalam pelukan ayahnya. "Papa sudah ngertiin Nadine..."
"Papa kok begitu, sih!? Itu sama saja dengan Papa mulai membiarkan anak itu tidak disiplin dan berbuat seenaknya!" protes Bu Friska.
"Biarlah, Ma! Nadine selama ini tertekan dengan pola didik kita yang salah! Tapi dia tidak pernah menceritakannya dan memendam semuanya sendirian! Mama juga kenapa nggak bilang ke Papa kalau dokter kemarin bilang Nadine stress karena terlalu keras belajar!?"
"Kalau Mama bilang ke Papa, dia akan dimanja oleh Papa seperti sekarang!"
"Papa tidak memanjakan Nadine, Ma! Tapi dia juga harus diberi sedikit kebebasan seperti anak-anak seumurnya!"
"Terserah Papa, lah! Pusing Mama!"
Bu Friska pun angkat kaki dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Papa, Mama marah..." ucap Nadine
"Sudah, sekarang kamu istirahat di kamarmu, besok kan sekolah. Soal Mama mu, biar Papa yang urus."
...****************...
Sakti kembali sekolah dengan kurang bersemangat. Sudah tiga hari Nadine tidak masuk sekolah sejak ia pingsan hari Senin.
Tapi alangkah gembiranya hati Sakti saat ia melihat sosok yang dirindukannya memasuki kelas di Kamis pagi itu.
Rambut panjang hitamnya dibiarkan tergerai dan diberi bando, tidak dikuncir kuda seperti biasa. Wajah cantik yang biasanya murung dan pucat itu terlihat bersinar pagi ini.
"Nadine..." sapa Sakti lembut, lalu bangkit dari bangkunya. "Nadine udah sembuh?"
__ADS_1
Nadine menghentikan langkahnya dan berhadap-hadapan dengan Sakti.
Mereka saling bertatapan lama dengan perasaan sama-sama rindu. Yang sangat sulit untuk mereka tampik.
"Iya... Gue udah sembuh." jawab Nadine canggung.
"Alhamdulillah..."
"M-makasih, ya. Waktu gue pingsan, lo udah bawa gue sampai UKS."
"Sama-sama, Nadine."
Kapan lagi Nadine lembut kayak gini?
"Nomor whatsapp Sakti nanti save, ya Nadine." pinta Sakti.
"Udah, kok, sama Chika." sahut Nadine. "Kan waktu itu kuota Chika habis, jadi dia minjem hp gue, dan dia nemu kontak lo di grup kelas. Terus dia save dan video call, deh."
"Oh, gitu, ya?"
"Iya, maaf aja kalau waktu itu Chika ngeganggu lo. Temen gue yang satu itu emang random banget!"
"Nggak apa-apa, Nadine."
Tak terasa mereka sudah larut dalam topik pembicaraan, sampai-sampai beberapa teman di kelas yang sudah datang memperhatikan mereka. Bahkan terlihat Nadine sesekali tersenyum tipis yang sangat mahal ia keluarkan.
Tapi semua atensi langsung teralihkan kepada Salsa yang baru saja datang ke kelas sambil memanggil nama Sakti keras.
Dengan lancang, Salsa berdiri di antara Nadine dan Sakti sampai Nadine mundur beberapa langkah.
"Aku bawain bekal lagi buat kamu!" seru Salsa dengan suara yang sengaja di keras-keras kan.
Sakti memandang wajah Nadine yang masih berdiri di belakang Salsa. Sirat akan kekecewaan.
"Kali ini aku yang masak khusus buat kamu. Mudah-mudahan enak di lidah kamu, ya." lanjut Salsa, lalu menyodorkannya pada Sakti. "Nih."
Sakti pun menerimanya dengan serba salah. "Makasih, Salsa..."
"Sama-sama!"
Nadine pun mendengus kesal lalu berjalan melewati Sakti dan Salsa menuju mejanya.
"Padahal Salsa nggak usah repot-repot bawain bekal buat Sakti..." ucap Sakti.
"Ya ampun, Sakti! Nggak repot sama sekali, kok! Walaupun ini pertama kalinya aku masak, tapi nggak apa-apa, demi Sakti Auriga apa sih, yang nggak!"
"CIEEE!!!"
__ADS_1
Semua murid langsung riuh menyoraki.
"Salsa udah bucin berat nih, sama Sakti!"
"Bucin mulu, jadiannya kagak!"
"Kata siapa mereka nggak jadian? Mereka udah kencan pas hari senin!"
"Iya, mana si Sakti dikasih bekal tiap hari!"
"Bakal jadi the best couple ini!"
Salsa menyelipkan rambut yang baru di cat dengan warna icy blonde itu dengan salah tingkah. "Apa sih, kalian! Malu, tahu..."
"Oh, iya Sakti!" lanjut Salsa. "Jam tangannya dipakai, nggak?" tanya Salsa dengan suara yang kembali di keras-keras kan. Sengaja ia melirik Nadine yang sok sibuk berkutat dengan novel nya.
"Dari kemarin juga dipakai." jawab Sakti.
"Coba lihat." Salsa menarik tangan kiri Sakti yang dilingkari jam tangan pemberiannya. "Kamu suka, kan?"
"Iya, suka."
"Kalau jins sama kemeja nya udah di pakai? Hoodie nya? Sepatu nya?"
"Hoodie nya udah. Kalau jins sama kemeja nya belum."
"Lho, kenapa?"
"Sakti jarang pakai jins sama kemeja kalau nggak kemana-mana."
"Ya udah, nanti kamu pakai, ya kalau kencan lagi sama aku. Terus nanti kamu kirim pap ke aku pas kamu pakai hoodie itu, okay?"
"Iya, Salsa..."
Semuanya kembali riuh mendengar percakapan Sakti dan Salsa.
Dan untuk yang kedua kalinya, Nadine menggebrak meja dan angkat kaki meninggalkan kelas saat Sakti dan Salsa sedang mengobrol.
Salsa pun tersenyum miring. Kini ia dapat menyimpulkan kalau Nadine cemburu kepadanya.
Nadine menyukai Sakti.
Apalagi tadi juga Salsa melihat Nadine dan Sakti membicarakan sesuatu sebelum ia berdiri di antara mereka.
Apakah Sakti juga menyukai Nadine?
Salsa pastikan itu tidak akan pernah terjadi!
__ADS_1