
SMA TUNAS BANGSA.
Sekolah kalangannya para elit yang terletak di kawasan perkotaan Jakarta Selatan. Terkenal dengan segudang prestasinya di bidang akademik maupun non-akademik.
Sakti Auriga Kaivan, sebagai anak desa yang berhasil meraih beasiswa untuk bersekolah disana tentulah bangga. Meskipun kini ia harus jauh terpisah dengan ibu dan adik perempuannya.
Sakti menyewa kost murah yang terletak tak jauh dari sekolah, sehingga ia bisa berjalan kaki untuk sehat dan irit biaya.
Masih terasa seperti mimpi di siang bolong, ketika Senin pagi ini Sakti kembali menginjakkan kakinya di sekolah barunya itu. Dengan gedung berstruktur tinggi beserta fasilitas modern nya seperti gymnasium yang luas, kolam renang indoor, lapangan outdoor dengan rumput hijau untuk bermain sepak bola, lapangan indoor yang berfungsi sebagai lapangan olah raga berstandar internasional untuk dua cabang yakni bulu tangkis dan bola basket, teater seni pertunjukan, dan laboratorium sains.
Sangat berbanding terbalik dengan sekolah Sakti dulu.
Hanya memiliki satu buah lapangan serbaguna, kelas yang bocor ketika hujan turun, meja dan kursi yang penuh dengan vandalisme, sampah dimana-mana, dan toilet kotor yang bau.
Sakti memasuki ruang kelasnya. Belum ada siapa-siapa disana, kecuali Nadine yang tengah menaruh kepalanya diatas kedua tangannya yang terlipat diatas meja sambil memejamkan mata.
Sakti duduk di bangkunya dengan perlahan, takut membangunkan gadis itu, lalu mengamati wajah cantiknya.
Berbeda dengan biasanya, Nadine tampak lucu dan polos saat sedang terlelap. Tak ada wajah garang dan angkuh. Tapi kini ia terlihat sangat pucat.
Dengan lancang, tangan Sakti meraba dahi mulus Nadine yang terasa sangat panas.
"Wah! Nadine panas banget! Dia pasti lagi demam!" batin Sakti, dan ia benar-benar merasa khawatir.
Nadine menggeliat pelan, matanya terbuka perlahan. "Sakti..." ucapnya pelan.
"Iya, Nadine?" tanya Sakti tanpa menarik tangannya dari dahi Nadine. "Nadine panas banget..."
Butuh lima detik untuk Nadine benar-benar tersadar dari alam mimpinya dan membenarkan kepalanya dari posisi tidur dengan cepat hingga Sakti menarik tangannya. "LO NGAPAIN PEGANG-PEGANG GUE!!!???" teriak Nadine.
"M-maaf, Nadine..." cicit Sakti takut.
"LANCANG BANGET PUNYA TANGAN!!!"
"Tadi Sakti lihat Nadine pucat banget. Jadi Sakti pegang dahi Nadine dan ternyata panas banget. Maafin Sakti, Nadine..."
"PUNYA HAK APA LO, PEGANG-PEGANG GUE!!?"
"Iya, maafin Sakti, Nadine..."
Nadine tak menjawab dan malah menggosok-gosok keningnya seolah jijik dengan bekas sentuhan Sakti. Dan itu sanggup membuat hati Sakti meringis perih.
"Nadine lagi sakit, ya..?" tanya Sakti dengan hati-hati.
__ADS_1
"Nggak, kok! Gue nggak sakit!" tukas Nadine, namun kemudian ia merasakan kepalanya berputar dan matanya berkunang-kunang.
"Tapi panas banget."
"Tangan lo aja yang dingin!" Nadine hendak bangkit keluar kelas, namun kepalanya semakin berputar dan terasa sangat berat hingga ia jatuh terduduk lagi di bangkunya. "Aduh!" pekiknya sambil memegang kepala sendiri.
"Nadine kenapa!?" tanya Sakti panik. "Pusing!?"
"Nggak..." jawab Nadine sambil terus memegangi kepalanya dan memejamkan mata untuk menahan rasa sakit.
"Nggak usah bohong. Kita ke UKS sekarang, yuk?"
"Nggak, nggak perlu! Cuman berkunang-kunang aja, mungkin anemia."
Sakti menghela nafas. Kenapa gadis satu ini begitu keras kepala?
Sakti pun teringat bahwa ia membawa obat-obatan di tas sekolahnya. "Oh, iya, Nadine! Sakti bawa obat-obatan di tas. Sebentar."
Sakti pun mengeluarkan beberapa lembar obat dari tas sekolahnya.
Nadine nyengir. "Lo bekal obat-obatan sebanyak ini dari kampung?"
"Cuman obat pusing sama mual. Sakti kan orang kampung, jadi suka mabuk kalau naik kendaraan. Jadi Ibu bekalin Sakti obat pusing sama mual buat di perjalanan naik bus dari kampung ke Jakarta, terus buat selama disini juga." tutur Sakti.
"Kok, lo jadi curhat?" sindir Nadine.
Belum sempat Nadine berbicara, Sakti langsung memotongnya cepat.
"Nggak boleh protes dan nolak! Ini juga buat kebaikan Nadine! Nadine mau nanti tambah pusing terus pingsan?"
Nadine berpikir sebentar, lalu mengambil obat itu dari tangan Sakti. "Okay, kalau gitu, thanks..."
Nadine pun meminum obat pemberian Sakti. Diam-diam ia menjadi salah tingkah akibat perhatian Sakti.
Tenang...
Nggak boleh kayang...
Murid lain pun mulai berdatangan. Kelas pun sekejap menjadi riuh. Apalagi teriakan dan jeritan centil para siswi untuk menarik perhatian Sakti.
Sakti dengan penuh sabar meladeni setiap obrolan para siswi bahkan menerima ajakan foto bareng yang langsung mereka posting dengan caption love.
Entah mengapa, sakit kepala Nadine yang sudah sembuh setelah meminum obat dari Sakti tadi kini terasa kembali. Rasanya amat jijik melihat jerih payah mereka untuk mencari perhatian Sakti.
Murahan.
__ADS_1
GUE TANPA HARUS CAPER KAYAK GITU PUN SAKTI UDAH PERHATIAN, WOY!!!
Rasanya Nadine ingin meneriaki kalimat itu di telinga mereka semua.
"Sakti, kamu belum punya pacar, kan?" tanya Salsa, siswi kelas itu yang konon paling cantik se-Tunas Bangsa dengan bekal wajah blasteran nya.
"Belum, Salsa." jawab Sakti.
"So, berarti nggak akan ada yang marah kan, kalau aku deket-deket sama kamu?"
"Iya, nggak ada."
Telinga Nadine rasanya panas sekali mendengar percakapan itu.
"Sepulang sekolah, kamu mau nggak kencan sama aku?" Salsa kembali bertanya.
"Kencan kemana?" Sakti balik bertanya.
"Kemana aja. Mall misal, atau caffe mungkin?"
"Gimana nanti, ya Salsa."
"Okay, kabarin lagi aja nanti, ya?"
Nadine menggebrak keras meja sampai semua meliriknya. Nadine tak perduli lalu angkat kaki dari kelas yang saat ini bagai neraka baginya itu.
"Idih! Apa sih, nggak jelas!"
"Dasar aneh!"
"Nggak sopan!"
"Dari dulu, dia emang kayak gitu!"
"Nggak asik ya, anaknya?"
"Biasa! Si paling kaya! Si paling pinter lagi! Jadi banyak tingkah!"
"Si paling! Si paling!"
Semua jadi sibuk menggunjing Nadine.
Perasaan Sakti jadi kurang enak. "Emang Nadine kenapa sih, Salsa?" tanyanya pada Salsa.
"Ih! Kamu belum tahu? Dia kan murid paling pintar di sekolah ini, makanya jadi kesayangan guru. Dia juga sombong! Jarang bergaul dan berinteraksi sama orang lain! Makanya sekelas pada nggak suka sama dia!" tutur Salsa berapi-api. "Kamu juga lebih baik jangan dekati dia! Apalagi kamu pintar! Pasti dia mengganggap kamu saingannya!"
__ADS_1
Sakti hanya mengangguk-angguk. Dalam hatinya ia merasa iba pada gadis cantik bernama Nadine itu. Mungkin dia terlihat sekokoh gunung es yang sulit ditembus. Keras dan dingin. Tapi Sakti tahu, ada suatu tekanan pada dirinya yang tidak ia ceritakan.