AURIGA

AURIGA
BAB 15 : Pacar Sendiri?


__ADS_3

"Hayoh! Non Nadine, lagi ngapain!?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nadine refleks menoleh ke arah sumber suara.


Mang Asep, supir pribadi berkumis lele itu memandang sinis pada Nadine dan Sakti dari kaca mobil yang terbuka.


"Mang Asep! Abis dari mana aja, sih!? Kok, lama banget!" protes Nadine sambil menjauhkan diri dari Sakti.


"Macet, Non." jawab Mang Asep.


"Macet, macet! Bilang aja mampir sana sini dulu!"


"Nggak, Non!"


"Aku udah satu jam lebih, lho nunggu disini!"


Mang Asep pun keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Nadine. "Iya, maafin Mang Asep, Non... Silahkan masuk..."


Nadine pun menuju mobilnya lalu mendudukkan bokongnya di jok depan mobil sebelah jok pengemudi.


Mang Asep pun membukakan pintu mobil belakang untuk Sakti. "Silahkan masuk, Den..."


"Terima kasih, Mang." Sakti pun masuk ke dalam mobil paling mewah yang pernah ia lihat dan duduk di jok barisan kedua.


Mang Asep pun bergegas menuju kembali ke jok pengemudi lalu menjalankan mobil itu perlahan.


"Aku nggak mau kejadian kayak gini terulang lagi! Mang Asep kan tahu, sekarang aku ada kerja kelompok! Belum belanja bahan-bahannya! Jangan lelet kalau bawa mobil! Bla... Bla... Bla..."


Nadine terus mengoceh sepanjang perjalanan. Mang Asep hanya mengangguk-angguk sambil terus meminta maaf.


"Aku akan bilang Papa nanti!" ancam Nadine.


"Ya ampun, Non... Jangan, dong... Tadi emang benar macet... Amang nggak bohong..." ratap Mang Asep.


"Semacet-macetnya juga nggak akan selama itu, Mang! Mang Asep tahu, kan, aku paling nggak suka nunggu lama-lama!"


"Nunggunya juga sama pacar sendiri ini, atuh, Non."


Sakti tersedak.


Nadine mendelik. "Enak aja, pacar! Dia teman satu kelompok aku!"


"Masa, teman pegang-pegangan pipi kayak tadi. Saya bilangin Tuan sama Nyonya, lho!"


"Mang Asep berani ngancam aku!?"


"Bukan ngancam, Non. Non kan, belum boleh pacaran sama Tuan dan Nyonya. Kalau Nyonya sama Tuan tahu kelakuan Non Nadine di depan sekolah dekat-dekatan sama cowok kayak tadi, mereka pasti marah besar!"

__ADS_1


Nadine kehabisan kata-kata.


"Kalau Non bilang ke Tuan soal saya, saya juga akan bilangin Non ke Tuan soal Non sama Den yang dibelakang ini!"


"Kurang ajar!"


Sakti jadi serba salah.


Dengan supir pribadi nya saja Nadine tidak akur!


"Maaf, Mang. Tapi saya sama Nadine nggak ada apa-apa, kok. Tadi cuman salah paham aja." jelas Sakti.


"Gak percaya, Amang mah!"


"Ya udah, sih! Nggak penting juga mau percaya apa nggak! Yang jelas awas aja kalau Mang Asep berani fitnah aku ke Papa dan Mama!" sergah Nadine.


"Tapi Non juga jangan bilang ke Tuan soal saya telat jemput Non!"


"Iya, iya! Tapi awas kalau diulangi sekali lagi! Aku sendiri yang akan pecat Mang Asep!"


"Iya, Non... Maafin Amang..."


Mobil pun berhenti di salah satu toko yang menjual alat-alat jahit.


Nadine dan Sakti keluar dari mobil lalu berjalan berdua menuju toko itu. Ada seorang penjaga toko perempuan yang menyambut mereka berdua dengan ramah.


"Mau beli apa, Kak?" tanya penjaga toko itu.


"Mampir dulu ke minimarket, Mang. Mau beli cemilan." ucap Nadine pada Mang Asep begitu selesai belanja.


"Siap, Non!"


Mang Asep pun meluncurkan alphard itu menuju minimarket terdekat.


Begitu sampai di minimarket, Nadine menoleh ke belakang. "Ayo, turun Sakti."


"Sakti disini aja, Nadine." sahut Sakti.


"Ayo ikut! Kita beli dulu cemilan buat nanti kerja kelompok!"


"Iya, deh."


Nadine dan Sakti pun keluar dari mobil dan masuk ke minimarket itu.


"Ambil yang lo mau." ucap Nadine, lalu memasukkan berbagai macam cemilan ke dalam troli belanjanya.


Tapi Sakti tak meraih satu pun barang di minimarket itu. Hanya menemani Nadine berbelanja.


"Sakti, kenapa lo diam aja?" tanya Nadine. "Ayo ambil yang lo mau."

__ADS_1


"Nggak ah, Nadine..."


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa..."


"Nggak usah malu-malu! Lo suka minuman apa? Kopi? Susu? Makanannya?"


"Nggak usah repot-repot, Nadine!"


"Nggak repot, kok! Ini juga kan gue belanja buat semuanya nanti disana."


"Nggak usah, Nadine..."


Nadine mendengus kasar. "Giliran sama Salsa aja lo beli banyak barang-barang! Mewah pula!"


Sakti langsung panik. "Ya ampun, Nadine! Itu semua Salsa yang paksa beliin. Sakti nggak minta!"


"Ya udah, sekarang apa susahnya lo ambil yang lo mau!? Gue yang bayar, kok! Songong amat!"


"Iya, iya... Maafin Sakti, Nadine..."


Sakti pun memasukkan beberapa makanan dan satu botol minuman rasa thai tea ke dalam troli belanja Nadine.


"Nah, gitu dong!" ucap Nadine.


"Iya, maafin Sakti, Nadine..."


"Lo mau sama yang lain? Sabun, shampo, deodorant, atau parfum?"


"Jangan repot-repot, Nadine..."


"Apa yang lo nggak punya di rumah?"


"Semuanya masih ada, Nadine."


"Ya udah, kalau gitu."


Nadine pun menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Belum sempat ia mengeluarkan kartu ATM miliknya untuk membayar belanjaannya yang fantastis, ada seseorang yang menepuk bahunya hingga ia menoleh.


Mata Nadine terbelalak, dan tubuhnya membeku di tempat.


"Nadine?"


Seorang laki-laki yang sangat ia kenal.


Dan suara berat nya yang familiar.


Tubuh tinggi besar idaman kaum hawa. Dan jangan lupakan wajah tampan yang diatas rata-rata.

__ADS_1


Tapi tetap kalah kalau dibandingkan dengan Sakti!


"D-Dikta!?"


__ADS_2