AURIGA

AURIGA
BAB 23 : Bukan Salah Cinta


__ADS_3


"Nadine cuman butuh Sakti, kan? Bukan cinta?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tapi ini juga bukan salah cinta, kan? Cinta nggak bisa disalahin!" lanjut Sakti. "Tapi Nadine tenang aja! Sakti akan menjauh dari kehidupan Nadine mulai sekarang! Sakti akan coba lupain perasaan ini buat Nadine! Sakti akan coba alihkan perasaan ini ke orang lain!"


Mata Nadine membulat sempurna. "Alihkan...? Ke siapa...? Salsa?"


Butuh beberapa detik untuk diam sebelum Sakti menjawab, "Sakti juga nggak tahu, Nadine..."


Melihat air mata yang tak pernah berhenti mengalir ke pipi Nadine, hati Sakti terus berdenyut nyeri. "Nadine, jangan nangis..."


"Bohong kamu cinta aku, Sakti! Nggak mungkin kamu bisa sedekat itu dengan Salsa, apalagi nyesal batal janji dengan dia malam ini!"


"Jangan playing victim, Nadine! Sakti bilang begitu karena Nadine duluan yang bilang kalau Nadine nyesal udah bawa Sakti! Terserah Nadine mau percaya atau nggak, tapi yang jelas Sakti emang cinta sama Nadine!"


"Salsa juga, kan!? Kamu cinta Salsa juga, kan!?"


"Sekarang Sakti yang nanya sama Nadine! Apa Nadine cinta sama Sakti!? Atau Nadine masih cinta sama Dikta!?"


Nadine terdiam. Tak mampu menjawab pertanyaan yang satu ini. Karena ia pun tak pernah tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.


"Jangan egois Nadine!" lanjut Sakti.


"Jahat kamu, Sakti!"


"Siapa yang jahat!? Nadine yang jahat! Nadine yang egois!"


"Tahu apa kamu soal aku!?"


"Mulai sekarang, jangan pernah dekati Sakti lagi! Jangan pernah kasih Sakti harapan lagi! Jangan pernah tarik ulur perasaan Sakti lagi!" Sakti pun bangkit dari posisi jongkoknya sedari tadi. "Lebih baik sekarang Nadine telepon supir Nadine atau teman Nadine buat jemput Nadine. Ini udah malam."


"Terus kamu gimana, Sakti...?"


"Nggak gimana-gimana."


"Aku akan pesan taksi online buat kamu."


"Nggak perlu! Sakti bisa pulang sendiri! Sakti akan disini sampai ada yang jemput Nadine!"

__ADS_1


...****************...


"Jadi mereka benar-benar pacaran?"


Pertanyaan itu meluncur dari mulut Dikta yang tengah memperhatikan Nadine yang sedang duduk di bangku taman berpelukan dengan Sakti yang sedang berjongkok dihadapannya, di dalam mobilnya bersama Viona.


"Kamu masih belum percaya? Disaat mereka sudah sedekat itu?" Viona balik bertanya. "Bahkan disaat Sakti sudah membuatnya malu di depan banyak orang, Nadine malah semakin lengket sama dia!"


Dikta menghela nafas kasar. "Aku curiga anak kampung itu punya pelet!"


"Memangnya kamu masih berharap sama Nadine?"


"Dari dulu sampai sekarang, perasaan aku untuk Nadine nggak pernah berubah! Aku masih berharap suatu saat nanti dia mau menerima aku jadi pacarnya lagi..."


Hati Viona berdenyut nyeri. "Kenapa kamu nggak coba melupakan dia? Masih banyak cewek lain yang lebih mencintai kamu..."


"Aku selalu coba itu... Tapi nggak pernah bisa..." Dikta memijat pelipisnya yang terasa pening. "Sia-sia aku sengaja bikin makanan Sakti jadi nggak enak! Bahkan makanan aku aja sampai kena semprot mulut dia! Bukannya ilfeel, Nadine malah kayak makin sayang sama dia! Sial!"


"Mungkin Nadine emang udah benar-benar bucin sama cowok itu! Udah lah, Dikta! Nyerah aja!"


"Nggak! Aku nggak akan pernah nyerah sampai Nadine kembali lagi jadi pacar aku! Ini juga semua gara-gara kamu! Kalau aja aku nggak ngajak kamu nonton waktu itu, Nadine pasti masih jadi milik aku!"


Dikta dan Viona memang sudah berteman sejak kecil karena rumah mereka yang bersebelahan. Tapi seiring berjalannya waktu, Viona mulai bisa merasakan kalau ia mencintai Dikta. Namun Viona tidak pernah mengungkapkan perasaannya.


Dan ketika Dikta berpacaran dengan Nadine, bukan main sakit hati Viona. Segala macam upaya ia lakukan untuk memisahkan Dikta dengan Nadine. Bahkan ia selalu menghasut Dikta dengan menjelek-jelekkan Nadine.


"Kamu percaya Nadine belum diizinin pacaran sama ortu nya? Kamu **ng**gak curiga dia punya cowok lain di belakang kamu?"


"Mungkin dia bukan sibuk belajar, tapi mau jalan sama pacarnya yang lain!"


"Dikta, zaman sekarang mana ada, sih yang belum diizinin pacaran sama orang tuanya!? Dia ngerahasiain hubungan sama kamu karena takut ketahuan sama pacarnya yang lain!"


"Kalau kata aku, sih ya, mending kamu putusin aja hubungan kamu sama Nadine! Buat apa pacaran kalau jarang ketemu, jarang komunikasi! Kita ngg**ak tahu disana dia ngapain aja, sama siapa aja!"


"Kalau dia **ngg**ak bisa nemenin kamu nonton, mending sama aku aja!"


Terkadang, Dikta pun termakan hasutan Viona.


Rasanya tidak adil untuk Viona, disaat bahunya yang menjadi tempat Dikta bersandar, telinganya yang mendengarkan seluruh keluh kesah Dikta, selalu ada setiap Dikta terluka dan membutuhkannya, tapi Nadine lah yang selalu ada di dalam pikiran Dikta.


Dikta tidak pernah peka akan perasaannya.

__ADS_1


Apakah Dikta pikir tidak mungkin ada cinta dalam suatu persahabatan?


Tapi ini bukan salah cinta, kan?


...****************...


Pagi sekali, Sakti sudah datang ke sekolah dan duduk di bangkunya seorang diri dalam kelas.


Rasanya masih sulit untuk menerima bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi semata.


Ia dipermalukan di depan semua orang, di maki-maki oleh Nadine, meninggalkan Nadine sementara Nadine mengejarnya sampai terjatuh, melihat Nadine menangis dan meminta maaf, menyatakan cinta pada Nadine, menunggu jemputan Nadine dengan membisu, berjalan seorang diri dengan perasaan hampa menuju kost nya yang tidak bisa dibilang dekat dengan jarak taman Azalea, beberapa puluh meter dari restoran Japanese food sialan itu, setelah Syarla datang untuk menjemput Nadine.


Itu semua terjadi dalam satu malam yang singkat.


Bahkan semalam, Sakti tidak bisa benar-benar terlelap. Pikirannya terus menerawang.


Sakit hati? Itu yang dirasakannya.


Hingga tanpa bisa ditahan, mulutnya kelepasan bicara blak-blakan pada Nadine soal perasaannya.


Dan ironinya, Nadine sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata cinta pun untuk Sakti.


Berarti dugaan Sakti benar, kan?


Nadine hanya membutuhkan Sakti untuk menjadi pacar pura-puranya di depan Dikta. Tidak lebih.


Mungkin semua air mata yang Nadine keluarkan palsu. Nadine tidak pernah benar-benar meminta maaf pada Sakti. Tidak pernah benar-benar tak menyukai kedekatannya dengan Salsa.


Dan kini pilihannya hanya satu.


Melupakan Nadine!


Dengan cara apa?


Mengalihkan perasaannya pada orang lain?


Pada siapa?


"Sakti..."


Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang selalu memberi perhatian kepadanya, memanggilnya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2