AURIGA

AURIGA
BAB 25 : Masalah Baru


__ADS_3

"Lo cinta sama dia?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah kedatangan tiga sahabatnya kemarin sore, perasaan Nadine mulai membaik, begitu pula dengan kondisi badannya. Tapi atas perintah ayahnya, Nadine belum boleh untuk sekolah hari ini.


Sekitar pukul 8 malam, kedua orang tuanya baru saja kembali ke rumah setelah beberapa hari meeting di luar kota.


"Bagaimana kondisi badan kamu sekarang? Sudah sehat?" tanya Pak Gavin, saat sedang menyantap makan malam di meja makan mereka.


"Sudah, Pa." jawab Nadine.


"Kalau begitu besok kamu harus sekolah! Sudah ketinggalan berapa pelajaran!?" semprot Bu Friska.


"Iya, Ma..." jawab Nadine takut.


"Lagian kamu ini! Sembuh dari sakit kemarin saja belum sebulan, sudah tumbang lagi!"


"Cuman nggak enak badan doang, kok, Ma..."


"Kalau cuman nggak enak badan doang sekolah, dong! Lebay amat, sih, kamu!"


"Mama ini kenapa, sih!?" tukas Pak Gavin. "Kalau Nadine dipaksa sekolah, Mama mau Nadine pingsan kayak kemarin lagi? Sampai nggak sekolah berhari-hari? Kalau Nadine istirahat di rumah, kan, besok Nadine sudah bisa sekolah lagi."


"Terserah Papa, lah!" sergah Bu Friska. "Mama udah muak! Papa terlalu memanjakan anak itu! Mau jadi apa coba nanti!"


Pak Gavin menghela nafas panjang, lalu kembali melahap makan malamnya.


Hening.


Hanya ada suara gesekan sendok dan piring.


"Oh, iya! Mama baru ingat! Sebelum kamu sakit, kamu kerja kelompok dulu, kan!?"


Pertanyaan Bu Friska yang tiba-tiba sanggup membuat jantung Nadine berdetak dua kali lebih cepat.


"I-iya, Ma..." jawab Nadine.


"Kamu pasti sakit karena nggak biasa keluar rumah! Kata Mama juga apa! Nggak usah ada acara belajar-belajar diluar jam sekolah! Atau kamu sebenarnya nggak kerja kelompok dan malah main!?"


"Nggak, kok, Ma! Nadine beneran kerja kelompok..."


"Awas kamu berani bohong sama Mama!"

__ADS_1


"Kalau nggak percaya, Mama tanya aja sama Syarla."


"Syarla? Kenapa jadi Syarla?"


"Kan kemarin Nadine dijemput sama Syarla ke rumahnya Sakti."


"Kenapa kamu dijemput Syarla? Syarla, kan, nggak sekelas sama kamu?"


Oh, ****!


Nadine harus jawab apa ini...?


"Iya, nggak sekelas..."


"Terus kenapa dia mau jemput kamu kerja kelompok di rumah Sakti? Syarla nggak ikut kerja kelompok, kan?"


"Syarla antar Nadine karena sekalian mau main ke rumah temannya, Ma. Rumah Sakti sama rumah temannya satu arah."


Sebisa mungkin Nadine bersikap tenang agar suaranya tidak bergetar.


"Nggak bohong kamu!? Kamu nggak ikut main ke rumah temannya Syarla!?"


"Nggak, lah, Ma. Ngapain juga,"


Nadine menggigit bibirnya yang kini sudah sariawan akibat digigit beberapa hari lalu di perpustakaan.


"Jangan gitu, lah, Ma! Nadine pasti nggak akan enak sama teman-temannya nanti kalau begitu." ucap Pak Gavin.


"Nggak, Pa! Ini semua demi kebaikan dia! Dia nggak bisa terlalu sering keluar rumah kayak anak-anak lain yang nggak keurus sama orang tuanya! Dia anak rumahan! Buktinya dia langsung sakit, kan!?"


"Iya, Ma... Maafin Nadine... Nadine nggak akan kerja kelompok lagi..." ucap Nadine.


"Bagus!"


"Oh, iya. Kamu bilang Mang Asep lama sekali ketika menjemput kamu beberapa minggu lalu." ucap Pak Gavin.


"Iya, Pa." jawab Nadine.


"Kenapa kamu nggak bilang sama Papa? Itu suatu kesalahan yang besar! Bisa-bisanya dia buat kamu menunggu berlama-lama di depan sekolah! Kemana dulu coba dia!?"


"Itu udah lama, kok, Pa. Mang Asep juga udah minta maaf."


"Nggak bisa, Nadine! Papa harus kasih hukuman untuk Mang Asep!"

__ADS_1


Masalah baru.


...****************...


"Permisi, Tuan..." ucap Mang Asep hati-hati ketika memasuki ruang keluarga atas perintah Pak Gavin. Hati Mang Asep berdebar-debar tatkala disambut oleh wajah masam tiga majikannya yang sedang duduk santai di sofa. "Ada apa, ya, Tuan manggil saya?"


"Anak saya baru cerita kalau beberapa minggu yang lalu saat dia akan kerja kelompok di rumah temannya, Mang Asep sampai satu jam lebih dari rumah menuju ke sekolah! Benar itu, Mang?" tanya Pak Gavin.


Mang Asep mendelik pada Nadine yang tampak memutar bola matanya malas.


Anak menyebalkan!


"I-iya, Tuan... Saya lama karena-'


"SAYA BELUM MENGIZINKAN KAMU MEMBERI ALASAN!!!'


Suara Pak Gavin menggelegar seisi ruangan. Bahkan Nadine pun sampai merinding mendengarnya.


"Maaf, Tuan..." cicit Mang Asep sambil menunduk.


"KAMU TAHU, TIDAK!? SAMPAI SATU JAM ANAK SAYA MENUNGGU DI DEPAN SEKOLAH! KEBAYANG BAGAIMANA KESALNYA!?"


"Maafin saya, Tuan... Saya benar-benar menyesal... Tapi saya sudah meminta maaf sama Non Nadine dan berjanji nggak akan mengulanginya lagi..."


"MANG ASEP TAHU, KAN!? ANAK SAYA ITU MAU KERJA KELOMPOK! BELUM MEMBELI BAHAN-BAHANNYA! BAGAIMANA PERASAAN NADINE SAAT ITU! DIA PASTI MERASA TIDAK ENAK PADA TEMAN-TEMANNYA YANG SUDAH MENUNGGU DIA! MEMANGNYA MANG ASEP KEMANA DULU!? MANG ASEP DISINI SUPIR YANG HARUS BISA ANTAR JEMPUT TEPAT WAKTU! KAMU MAU SAYA PECAT!?"


Mang Asep langsung terbelalak lalu bersimpuh di kaki Pak Gavin. "Ampun, Tuan... Jangan pecat saya... Saya mohon... Nanti anak istri saya makan apa... Saya janji nggak akan seperti itu lagi..."


Nadine mulai merasa iba pada Mang Asep, tapi tak mampu berkata apa-apa.


"Saya benar-benar minta maaf... Waktu itu, di jalan saya ketemu teman lama saya lalu diajak mampir dan ngopi bareng... Saya nggak akan melakukan itu lagi, Tuan... Saya janji... Hukum saja saya, tapi jangan pecat saya..."


Pak Gavin menghela nafas panjang. "Bangun! Jangan kayak gini!"


Mang Asep pun kembali bangkit dan berdiri.


"Maafkan saya, Tuan..."


"Maafin aja Mang Asep, Pa. Kasihan Mang Asep..." ucap Nadine.


Mang Asep merutuk dalam hatinya.


Bukannya dia yang sudah mengadu pada ayahnya? Mengapa kini menjadi sok prihatin padanya?

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, Tuan. Tapi saya mau bilang pada Tuan tentang kelakuan anak Tuan diluar rumah."


__ADS_2