
Misi?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf, Tante. Tapi Nadine sudah nyaman di Tunas Bangsa." ucap Nadine.
"Oh, begitu, ya?" Tante Verra sedikit terlihat kecewa.
"Memangnya misi apa, Mom?" tanya Dikta yang sedari tadi diam saja.
"Jadi, Mommy dan Tante Friska sudah merencanakan perjodohan kamu dengan Nadine!"
Nadine langsung tersedak.
"Astaga! Hati-hati, sayang!" ucap Tante Verra panik.
Dikta sedikit terperangah. "Perjodohan?"
"Verra, harusnya kamu tidak memberitahu mereka sekarang!" protes Bu Friska.
"Forgive me, Fris! Aku tidak tahan!"
Nadine menatap ibunya dengan kecewa.
Apa-apaan ini?
Kenapa harus ada acara perjodohan segala?
Jadi ini alasan ibunya sangat ingin Nadine ikut makan malam dan tampil secantik mungkin?
"Maaf sebelumnya, tapi kenapa kalian menjodohkan aku dengan Dikta?" tanya Nadine.
"Sebenarnya bukan perjodohan, Nadine. Mama dan Tante Verra adalah sahabat. Tentunya kami ingin sekali berbesanan. Tapi kami juga tidak akan memaksa kalian. Kami ingin kalian mencoba dekat satu sama lain, sampai merasa benar-benar cocok. Nanti akan tiba saatnya kalian memulai hubungan yang lebih serius." jawab Bu Friska.
Nadine mendengus pelan tanpa ketahuan.
Ini sama saja dengan perjodohan. Apa bedanya?
"Iya, jadi kami juga tidak akan menuntut kalian untuk memulai hubungan dari sekarang. Walaupun kami berharap begitu. Tapi tidak ada salahnya kan, kalian mencoba dekat lebih dulu? Nadine belum punya pacar, kan?" tanya Tante Verra.
"Tenang saja, Verr! Nadine belum boleh pacaran!" ucap Bu Friska.
"Syukurlah, kalau begitu!"
"Kalau Dikta bagaimana? Dia tidak sedang punya pacar, kan?"
Dikta tersenyum tulus. "Saya belum pernah pacaran, Tante!"
Bu Friska tersenyum puas. "Baguslah! Kalian benar-benar cocok!"
Nadine benar-benar kesal. Ingin sekali ia angkat kaki dan berlari jauh dari tempat itu. Andai ibunya tahu, kalau anak sahabatnya itu dulu pernah berpacaran lalu menyakiti perasaan Nadine.
Nadine benci, benci sekali pada Dikta. Andai cinta itu masih ada, mungkin tak akan seburuk ini. Tapi sayang, cinta itu sudah hilang walaupun dengan susah payah. Kini cinta Nadine hanya untuk Sakti, yang mungkin tak lebih baik dari Dikta.
Nadine melirik sedikit ke arah Dikta yang kini tengah menatapnya penuh harap.
...****************...
"ALEAAA!!!"
Si pemilik nama menoleh ke arah gadis heboh yang baru saja memasuki kelas sambil mengernyit. Siapa lagi kalau bukan Chika Aurelia?
__ADS_1
"Apaan, sih!? Berisik banget!" ketus Alea.
Chika langsung duduk di bangkunya yang terletak di depan meja Alea. "Anter gue ke kelas 10 IPS 5 yuk, please..." mohonnya.
"Ngapain?"
"Ketemu Andrew!"
"Andrew? Siapa Andrew?"
"Crush baru gue!"
"Ngapain lo kesana?"
"PDKT lah!"
"Sendiri aja sana!"
"Lea...! Masa, lo nggak mau antar gue?"
"Ogah, ah! Mager!"
"Lea, please...!"
"Nggak!"
"Please..."
"Gue bilang nggak, ya nggak!"
"Lea... Kali ini aja... Kita sahabat, kan...?"
Alea menatap kedua manik mata Chika yang tampak berkaca-kaca. Ia pun menghela napas panjang sebelum berkata, "Ya udah, ayo!"
"YESSS!!!" seru Chika girang, "Kansamhamnida, Lea!!!" lalu mencium pipi Alea keras.
"Hehehe, maaf! Ayo!"
Chika menarik tangan Alea menuju kelas 10 IPS 5. Melihat ada kakak kelas yang terkenal sadis dan banyak masalah, semua adik kelas langsung menunduk, tak berani menatap sedikitpun. Bahkan ada yang berlari terbirit-birit atau bersembunyi, saat melihatnya berjalan dari kejauhan.
Dan Alea tak terlalu senggang untuk memperdulikan semua itu.
Itu wajar saja, karena Alea pernah menampar salah satu adik kelas karena tak sengaja menumpahkan minuman ke seragamnya.
Ia juga pernah membully adik kelas OSIS bersama teman-teman lelaki nya karena menasehatinya saat di ruang BK sampai jatuh stress dan pindah sekolah.
Itu semua sudah menjadi rahasia umum.
Seharusnya Alea sudah di drop out, tapi apa daya orang tua Alea adalah donatur tetap di Tunas Bangsa.
Begitu memasuki kelas 10 IPS 5, Chika langsung menuju bangku paling belakang yang sudah diisi oĺeh siswa berkacamata yang tampak sibuk membaca buku sejarah.
"Mana Andrew?" bisik Alea.
"Ya, itu!" jawab Chika sambil menunjuk si siswa berkacamata.
"Hah? Serius lo?"
"Emang kenapa?"
Alea menatap Chika ngeri lalu beralih pada Andrew. Kok, bisa Chika menyukai adik kelas yang tampak pendiam dan cupu? Letoy pula! Biasanya kan, Chika suka pada cowok ganteng diatas rata-rata, body atletis, pokoknya pasaran kaum hawa dan sulit untuk dimiliki!
"Andrew!" seru Chika, lalu dengan lancang duduk di bangku depan meja Andrew.
__ADS_1
Andrew mengalihkan pandangannya dari buku kepada Chika yang duduk dihadapannya dengan hati-hati. "K-kakak, siapa...?" bahkan suaranya saja bergetar saat bertanya.
"Aku yang kemarin malam chat kamu." jawab Chika.
"Oh... Kak Cita?"
Chika mengerutkan keningnya. "Cita? Bukan Cita! Chika Aurelia!"
Andrew langsung kembali menunduk saat Chika meninggikan suaranya. "M-maaf, Kak..."
Alea yang tengah duduk di bangku lain berdecak malas. Ingin segera angkat kaki dari sana.
"Kemarin kan, kita baru kenalan lewat chat, sekarang aku mau kita kenalan secara langsung dan lebih dekat!" ucap Chika.
"B-boleh, Kak..." sahut Andrew tanpa mengangkat wajahnya.
"Jangan gugup dong, Drew!" Chika mengangkat dagu Andrew, sampai laki-laki itu terkesiap. Terkejut dengan perlakuan kakak kelasnya yang terlalu agresif. "Lihat wajahku, dong!"
"I-iya, Kak..."
"Aku Chika Aurelia, kelas 12 IPS 1. Aku lihat kamu beberapa hari lalu di perpustakaan. Mau ngajak kenalan, tapi kayaknya kamu lagi fokus banget ngerjain tugas! Sewaktu aku tanya Lita, temanku di PMR, dia ternyata sekelas sama kamu! Makanya aku langsung minta nomer kamu sama dia."
"Oh, iya, Kak..."
Agak hening beberapa detik, sampai Chika kembali bertanya, "Kamu punya pacar nggak?"
"Nggak, Kak..." jawab Andrew.
"Berarti bisa dong?"
"Bisa apa?"
"Chika, ayo balik ke kelas!" seru Alea.
Andrew dan Chika sontak menoleh ke arah Alea yang sudah berdiri dari bangku yang agak jauh dari mereka.
Secara tak sengaja, kedua mata Alea bertemu dengan kedua mata Andrew yang tampak terpukau memandanginya sampai-sampai mulutnya sedikit terbuka.
"Sebentar lagi dong, Lea!" bujuk Chika.
"Ya udah, terserah, kalau lo masih mau disini! Gue udah pengap pengen segera keluar!"
"Panas ya, lo liat gue sama Andrew?"
"Idih! Enak aja! Ngapain gue panas!?"
"Ya udah, okay, okay! Kita balik ke kelas!" Chika pun beralih pada Andrew. "Drew, aku ke kelasku lagi, ya? Temanku udah nggak betah disini!"
"Namanya siapa, Kak?" tanya Andrew.
"Namanya Alea. Oh, iya, aku lupa kenalin kalian! Alea, sini! Kenalan dulu sama Andrew!"
Alea menaikkan sebelah alisnya. "Kenalan? Ngapain?"
"Ya biar kenal, lah!"
"Nggak mau, ah!"
Chika pun menghampiri Alea lalu menarik tangannya menuju Andrew. "Ayo kenalan dulu, jangan sombong!"
Alea menghela napas kasar, lalu mengulurkan tangannya pada Andrew. "Alea Zefanya, 12 IPS 1!" ucapnya ketus.
Andrew pun menjabat uluran tangan Alea dengan hangat. "Andrew Mavendra,"
__ADS_1
Jabatan tangan Andrew terasa erat hingga sulit Alea lepaskan. Tapi melihat kedua manik mata Andrew yang tampak bersinar penuh harap memandangnya di balik kacamata, hati Alea terasa tergetar.
"senang berkenalan dengan Kak Zefa..."