AURIGA

AURIGA
BAB 13 : Sakti Auriga Kaivan


__ADS_3

Nadine menghela nafas kasar. "Ya udah, gue boneka!"


"YES!" seru Winda. "Gitu dong, Dine!"


"Ah! Nggak asik, lo, Dine!" sarkas Zidan.


"Kalau iya, emang kenapa!?" bentak Nadine sambil membulatkan matanya.


Seram.


"Nggak... Nggak apa-apa..." cicit Zidan takut.


"Jadi mau kapan ngerjainnya?" tanya Fardan.


"Lebih cepat, lebih baik." timpal Sakti.


"Ya udah, hari ini aja. Pulang sekolah, di rumah gue. Gimana?" tawar Winda.


"Emang rumah lo dimana, Win?" tanya Zidan.


"Di Mampang. Tenang aja, nanti gue minta kakak gue buat jemput kita pakai mobil."


"Okay, kalau gitu. Yang lain gimana? Setuju hari ini, nggak?"


"Boleh." jawab Sakti.


"Gue kapan aja okay!" timpal Fardan.


"Kalau lo, Dine?" tanya Winda.


"Hm..." Nadine berpikir sebentar. "Gue minta izin ke ortu dulu, gimana?"


"Boleh."


Nadine pun mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada ibunya.


^^^mama^^^


^^^nadine bole kan kerkom di rumah windaa??^^^


Tak lama datang balasan dari ibunya.


Winda siapa?


Dimana rumahnya?


Kenapa gak dirumah kita aja?


^^^semua uda sepakat di rumah windaa^^^


^^^windaa temen sekelas nadine juga^^^


^^^rumahnya ga jauh dari sekola^^^


Kapan kerja kelompoknya?


^^^pulang sekola^^^


^^^please bole ya ma?^^^


Dan Bu Friska hanya membaca pesan terakhir Nadine.


"Gimana, Dine?" tanya Winda.


"Nggak dibalas..." jawab Nadine.

__ADS_1


"Yah..." keluh Zidan. "Masa iya, sih kerja kelompok aja nggak boleh?"


Nadine menunduk sedih. "Lo nggak tahu gimana nyokap gue..."


Sakti menatap Nadine iba.


Orang tua overprotektif.


Nadine pun berinisiatif untuk meminta izin pada ayahnya. Ia pun izin keluar kelas lalu menelepon kontak Pak Gavin.


"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Pak Gavin dari seberang telepon sana.


"Papa, maaf Nadine ganggu. Nadine mau minta izin buat kerja kelompok di rumah teman Nadine, Winda. Rumahnya nggak jauh dari sekolah. Nadine udah minta izin sama Mama lewat chat. Tapi Mama cuma read chat nya Nadine..."


"Tentu boleh, Nak. Tapi kamu nggak boleh bohong, ya? Bilang kerja kelompok padahal main."


"Nggak bakalan, lah, Pa. Kalau perlu Nadine video call Mama sama Papa selama kerja kelompok."


"Iya, iya. Papa percaya. Kapan kerja kelompoknya? Pulang sekolah?"


"Iya, pulang sekolah langsung ke rumah Winda."


"Naik apa?"


"Katanya kakaknya Winda bakal jemput pakai mobil."


"*Kamu ngg*ak perlu naik mobil kakaknya temanmu. Nanti Papa suruh Mang Asep buat antar kamu kesana."


"Hm... Boleh, Pa."


"Oke, Nak!"


"Kalau gitu, Nadine tutup dulu teleponnya, ya? Nadine mau belajar lagi."


"Oh, iya, sayang! Yang semangat belajarnya! Love you, girl..."


Nadine pun menutup teleponnya, lalu masuk ke kelas lagi dan menghampiri teman-teman satu kelompoknya.


"Gue udah dapat izin!" seru Nadine.


"Sip!" seru Winda.


"Tapi gue nggak bakal ikut mobil kakak lo."


"Kenapa?"


"Gue bakal diantar supir pribadi gue."


"Okay, kalau gitu."


Nadine pun melirik Sakti yang sedang menatapnya hangat.


Sakti Auriga Kaivan.


Orang yang hampir setiap malam menjadi bunga dalam setiap mimpi-mimpi indah Nadine. Bahkan setiap Nadine memejamkan mata, hanya wajah tampan Sakti yang muncul dalam pikirannya.



Entah bagaimana perasaan Nadine kepada Sakti. Karena sangat sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.


Suka, rindu, canggung, dan benci bercampur aduk jadi satu.


Benci?


Ya, Nadine benci ketika Sakti jauh lebih hebat darinya. Melebihi dirinya. Menyainyi dirinya. Menandingi dirinya.

__ADS_1


Nadine juga benci ketika Sakti berdekatan dengan Salsa. Mengobrol dengan Salsa. Kencan dengan Salsa.


Apalagi ketika Sakti mulai memberikan perhatiannya pada Nadine. Nadine benci perasaan salah tingkah yang membuatnya harus memalingkan wajah.


Dan yang paling Nadine benci adalah ketika ia sadar bahwa ia tak akan pernah bisa membenci Sakti. Walaupun sejuta alasan yang mengharuskan, ada satu perasaan yang Nadine pun tak tahu apa itu namanya.


Yang tidak akan pernah membuat Nadine membenci Sakti.


"Sekarang kita pembagian tugas."


Suara Fardan menyadarkan alam bawah Nadine yang sedari tadi tanpa sadar bertatapan lama dengan Sakti.


Nadine langsung membuang mukanya dan fokus kembali pada kenyataan.


"Kalau menurut gue sih, ya, kita semua sama-sama bikin aja. Karena kita bakal buat beberapa boneka. Mending sekarang pikirin apa aja bahan-bahannya." saran Winda.


"Emang bikin boneka yang kayak gimana, sih?" tanya Zidan.


"Boneka beruang aja." usul Sakti.


"Boleh, tuh! Bahan-bahannya apa aja?" tanya Winda.


"Kain flanel, kancing, benang sulam, kapas, gunting, jarum jahit, jarum pentul dan kertas untuk membuat pola." Fardan membaca hasil searching nya di google.


"Gunting, jarum jahit sama pentul nggak usah beli." ucap Winda. "Ada dirumah punya emak gue."


"Berarti tinggal beli kain flanel, kancing, kapas sama benang sulam?" tanya Zidan.


"Yups!"


"Siapa yang mau beli kain, kancing, kapas sama benang sulamnya?" tanya Fardan.


"Gue aja!"


"Sakti aja!"


Nadine dan Sakti refleks berpandangan saat mengucap bersamaan.


"Ekhem! Ekhem!" sindir Zidan. "Tampaknya ada yang satu hati, satu jiwa, satu prinsip, satu tujuan!"


"Apaan sih, lo! Ngawur!" sergah Nadine.


Padahal dalam hati salting banget, woy!


Sakti hanya mengulum senyum.


"Ya udah, jadi siapa yang mau beli?" tanya Fardan.


"Kalau kata gue sih, mending kalian beli bareng." saran Zidan. "Takut ada yang kelupaan, bisa saling mengingatkan."


"Sakti sih, gimana Nadine aja." ucap Sakti sambil menatap Nadine.


Nadine tampak berpikir sebentar. "Ya udah, boleh. Berarti nanti kita belanja dulu pakai mobil gue."


"Okay, Nadine!"


"Kalau beli yang kayak gitu emang dimana?"


"Di toko alat jahit, lah." jawab Zidan. "Di Cipete Selatan ada kalau nggak salah."


"Hm... Oke, deh."


Nadine pun mengatur nafasnya agar tetap stabil. Karena demi apapun, jantungnya kini memompa darah lebih cepat sehingga berdegup sangat kencang.


Membayangkan nanti Sakti akan naik mobilnya dan membeli alat jahit berdua dengannya.

__ADS_1


Terkutuklah Nadine bersama rasa senang yang melandanya ini.


__ADS_2