AURIGA

AURIGA
BAB 8 : Sore Ini


__ADS_3


Sakti masih sibuk sendiri di kamar kost nya. Semua pakaiannya berserakan di atas ranjang. Apa yang harus ia kenakan untuk berkencan dengan Salsa sore ini? Semuanya terlihat tak berkelas dan membosankan.


Tak mau membuang waktu, Sakti pun akhirnya hanya memakai jins warna hitam, hoodie warna hitam, dan tak lupa masker warna putihnya.


Outfit andalannya.


Sakti pun mengabari Salsa kalau ia sudah siap. Tak lama kemudian, datanglah Salsa dengan mobil Peugeot RCZ nya.


Salsa menurunkan kaca mobilnya dan terbelalak melihat penampilan Sakti.


"Sakti! Kamu?" Salsa memindai Sakti dari atas ke bawah, bawah ke atas. "Kamu wibu?"


Sakti menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak juga, sih... Cuma anime lovers, hehe..."


"Sama aja!"


"Beda, Salsa. Anime lovers itu orang yang suka nonton anime. Kalau wibu, orang yang memuja-muja anime, dan udah jatuh cinta sama budaya Jepang. Bahkan terobsesi dan terlalu berlebihan!"


"Ya intinya outfit kamu kayak wibu."


Sakti mulai merasa tak percaya diri. "Sakti jelek, ya...?"


Salsa tertawa geli. "Kata siapa kamu jelek? Justru kamu makin ganteng dengan outfit begini! Lebih cool!"


Sakti merasa lega. "Makasih, Salsa."


Salsa pun keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untuk Sakti. "Silahkan masuk, cowok wibu."


"Terima kasih." Sakti pun memasuki mobil Salsa yang penuh dengan aksesori hello kitty.


Mobil yang dikendarai Salsa pun meluncur pelan meninggalkan Ananda Kost.


Sakti melirik Salsa melalui sudut matanya. Memindai penampilan gadis itu yang terkesan lebih tua lima tahun dari usia aslinya. Mungkin karena wajahnya dipoles make up yang tebal. Dan saat mata Sakti turun menuju leher jenjang dan bahu putih gadis itu yang terbuka, Sakti langsung membuang pandangannya cepat-cepat.


"Kita mau kemana, Salsa?" tanya Sakti.


"Aku sama Rheina udah janjian ketemu di Pacific Place."


"Mall?"


"Iya. Pacific Place itu salah satu mall termegah di Jakarta Selatan. Ada enam lantai dan tiga belas restoran. Aku yakin kamu pasti suka!"


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di Pacific Place, mall kelas atas itu. Sakti sampai melongo melihat tiga bangunan yang sangat besar dan megah.


"Itu pusat perkantoran One Pacific Place, dan itu tiga menara hotel The Ritz-Cartlon Pacific Place." ujar Salsa. "Nah, kalau yang ini tempat yang mau kita kunjungi, Pacific Place Mall."


Salsa pun menggandeng tangan Sakti menuju pintu mall yang langsung dimanjakan dengan dibukakannya pintu oleh wanita cantik penjaga mall dengan senyum ramahnya.


"Selamat datang." sapa penjaga pintu mall wanita itu.


Begitu memasuki Pacific Place, Sakti benar-benar takjub memandang sekelilingnya. Baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di sebuah mall, apalagi semewah ini. Dulu di kampung, paling-paling ia menginjak toko.


Mereka pun menaiki lift yang membawa mereka ke Kimukatsu di lantai 5, tempat makan yang menawarkan aneka katsu. Salsa pun membawa Sakti menuju meja berisi empat bangku yang sudah ditempati oleh dua orang.


"Hai, Bestie!" seru Salsa.


Rheina, sahabat Salsa, yang juga duduk di kelas IPA 9 itu langsung menoleh ke arah Sakti dan Salsa lalu tersenyum. "Wah! Lo beneran bawa si Sakti?"


"Emang lo kira gue bercanda?" Salsa pun duduk di salah satu bangku dari dua yang tersisa.


Sakti pun mendudukkan bokongnya di satu bangku terakhir, di sebelah Salsa dan berhadapan dengan teman laki-laki Rheina.


"Kalian udah lama nunggu kita?" tanya Salsa.

__ADS_1


"Nggak juga sih, paling sekitar lima belas menitan." jawab Rheina. "Oh iya, kenalin, ini bestie aku, namanya Salsa." ujar Rheina pada laki-laki di sebelahnya. "Salsa, ini teman cowok gue, namanya Rafael."


"Salsa." ucap Salsa sambil mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Rafael.


"Rafael." sahut Rafael.


"Kalau ini Sakti, temannya Salsa." ujar Rheina.


Sakti dan Rafael pun berjabat tangan.


"Kalian ketemu dimana?" tanya Salsa.


Rheina dan Rafael saling bertatapan.


"Sebenernya kebetulan banget, sih..." ucap Rheina. "Dia nggak sengaja nyerempet mobil gue pakai motornya seminggu lalu. Tapi dia udah ganti rugi dan sekarang kita temenan."


"Wah? Lo nggak pernah cerita sama gue? Bestie lo sendiri?"


"Ya kan, biar surprise untuk hari ini!" Rheina mengangkat dagu Rafael agar menghadap Salsa. "Gimana? Ganteng nggak, temen gue?"


Salsa memindai wajah Rafael. "Ganteng, sih... Tapi lebih ganteng temen wibu gue yang satu ini, Sakti Auriga Kaivan!"


Sakti menunduk malu, sekaligus risih.


"Kalo lo sama Sakti ketemu dimana?" tanya Rafael.


Rheina tertawa geli. "Aku, Salsa sama Sakti itu sekelas."


Rafael ber-oh tanpa suara.


"Kalo lo emang kelas berapa?" tanya Salsa pada Rafael.


"Gue mahasiswa tingkat akhir di UNAS."


"Oh! Lo udah kuliah! Jurusan apa?'


"Wah! Hebat!"


Mereka pun asyik berbincang, kecuali Sakti yang hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.


Kenapa ia tidak bisa tegas menolak ajakan Salsa untuk ke tempat ini?


Sakti menyesal.


Rasanya ingin pamit undur diri.


"Katanya si Nadine tadi pingsan, ya?" tanya Rheina yang tadi memang bolos sekolah.


Mendengar nama Nadine sontak membuat jantung Sakti berdegup kencang.


Bagaimana keadaan gadis itu? Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apakah besok ia akan masuk sekolah?


Andai saja Nadine ada saat ini, pasti tidak akan semembosankan ini.


"Iya, malah tadi yang gendong dia dari lapangan sampai ke UKS si Sakti!" delik Salsa.


"Idih! Mau-maunya lo gendong anak tengil itu!" sergah Rheina pada Sakti.


"Ibadah." sahut Sakti.


Rheina mencibirkan bibirnya.


"Ya udah, sekarang mending kita pesan makanan. Hari ini, gue yang traktir kalian!" ujar Rafael.


"Wah! Serius lo?" tanya Salsa.

__ADS_1


"Ya iya lah! Masa iya gue bercanda!"


Rafael pun melihat-lihat buku menu yang ada si setiap meja. "Kamu mau makan apa, Rhei?"


"Aku mau chicken katsu mozarella cheese ala carte."


"Minumannya?"


"Enough orange juice."


"Okay, me, too." Rafael pun menyodorkan buku menu pada Salsa. "Silahkan kalian mau apa."


Salsa pun mengambil buku menu itu. "Kamu mau apa, Sakti?"


"Apa saja."


"Aku mau beef katsu rasa garlic,"


"Samain aja,"


"Minumannya?'


"Salsa mau apa?"


"Aku sih, paling milk tea."


"Samain aja juga,"


"Oke."


Sakti menghela nafas berat. Detik demi detiknya akan terasa menyiksa sore ini untuk Sakti.


...****************...


"NADINE!!!"


Nadine terlonjak dari ranjangnya akibat terkejut saat tiba-tiba ketiga sahabatnya memanggilnya kencang saat ia sedang terlelap.


"BAJING-"


"Eits! Lagi sakit nggak boleh toxic!" Chika langsung memotong umpatan Nadine.


Nadine menatap nyalang ketiga sahabatnya yang sedang mengerumuninya. "KALIAN INI BENER-BENER, YA!? MASUK KAMAR ORANG TANPA IZIN! NGGAK SOPAN BANGET!"


"Idih alah! Kayak ama siapa aja sih, lo!" tukas Alea.


"Kita ini khawatir banget sama lo! Makanya bela-belain pulang sekolah langsung kesini!" ucap Syarla.


"Iya! Emang dasar nggak tahu terima kasih banget jadi orang!" timpal Chika.


"Tapi kan, kalian bisa pelan-pelan bangunin gue! Nggak usah manggil keras-keras kayak tadi! Kalian tahu kan, gue lagi tidur!? HAMPIR COPOT JANTUNG TAU, NGGAK!?" teriak Nadine kesal.


"Iya, iya, maafin kita. Tadinya kita mau bikin kejutan buat lo." ucap Chika. "Udah, ya marahnya..."


Nadine mengatur nafasnya. "Lain kali jangan gitu, ya..."


"Siap, Cantik!" Alea menyentuh dahi Nadine. "Lo udah mendingan belum? Badan lo udah nggak terlalu panas."


"Tinggal lemasnya aja." sahut Nadine.


"Lo udah minum obat?" tanya Syarla.


Nadine menggeleng pelan.


"Lho? Kok, belum minum obat?"

__ADS_1


"YA GIMANA MAU MAKAN OBAT, KALO MAKANAN LO AJA MASIH UTUH GINI!?" geram Chika, saat melihat makanan di atas nakas belum tersentuh sedikitpun.


__ADS_2