AURIGA

AURIGA
BAB 14 : Nice Try


__ADS_3

Pukul 14.45, bel pulang berbunyi nyaring. Semua murid meninggalkan kelas masing-masing dan berhamburan menuju gerbang sekolah yang sudah terbuka.


Nadine dan Sakti juga sudah duduk berdua di halte untuk menunggu jemputan Mang Asep. Tak ada yang memulai percakapan sedari tadi masih di kelas.


Bunyi dering telepon Nadine mengejutkan mereka berdua.


Dengan malas Nadine membuka ponselnya dan melihat nama Chika disana.


"Ada apa?" tanya Nadine to the point.


"Jangan bilang lo lupa kalau hari ini ekskul!?"


"Izin."


"Izin kemana?"


"Kerja kelompok."


"Dimana?"


"Rumah Winda."


"Sama siapa aja?"


"Kepo banget sih, lo!"


"Wajib!"


"Sama Sakti, Zidan, Fardan."


"What!? Enak banget, lo mau kerkom sama dua pangeran gue!"


"Nggak ada yang mau diomongin lagi, kan? Kalau gitu gua tutup teleponnya."


"Eh, jangan dulu, jangan dulu! Gue mau ikut!"


"Ngapain lo ikut!?"


"Pengen ikut kerja kelompok... Please..."


"Ngawur, lo!"


Nadine mematikan teleponnya secara sepihak.


"Siapa?" tanya Sakti pada Nadine.


"Chika." jawab Nadine.


"Apa katanya?"


"Nanyain ekskul apa nggak. Gua izin dulu."


"Nadine ekskul PMR?"


"Iya."

__ADS_1


Menit demi menit berlalu hingga tak terasa sudah satu jam saja. Sekolah sudah sepi. Namun Mang Asep belum juga muncul dengan mobilnya.


"Mang Asep kemana dulu, sih!? Kok, nggak datang-datang! Di chat dari tadi nggak dibaca!" rutuk Nadine yang sudah sangat kesal.


"Coba telepon." saran Sakti.


Nadine pun menelepon kontak Mang Asep namun tidak dijawab.


"Nggak diangkat! Sialan! Brengsek!" umpat Nadine.


"Eh! Nggak boleh ngomong gitu, Nadine!"


"Tapi ini udah lama banget, Sakti! Winda juga udah nge-chat gue terus! Gue juga nggak enak sama lo..."


"Nggak enaknya?"


"Ya jadi nunggu lama kayak gini. Kalau lo bareng mobil Winda tadi, lo pasti udah duduk manis dirumahnya Winda sekarang. Biar gue aja sendiri yang belanja."


"Ya ampun, Nadine! Nggak apa-apa, lah! Justru Sakti seneng bisa berduaan lama sama Nadine kayak gini."


Nadine membulatkan matanya. "Seneng?"


Sakti sontak salah tingkah. "Iya... Soalnya jarang kan, Nadine sama Sakti bisa kayak gini... Sakti seneng banget bisa duduk berdua sama Nadine gini..."


Nadine memalingkan wajahnya yang pasti sudah memerah saat ini. "Ngawur, lo...!" dengusnya.


"Sakti nggak ngawur, Nadine!"


"Gue yakin lo juga ngomong kayak gitu sama Salsa."


"Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Bohong dosa, lo!"


"Sakti nggak bohong! Jadi Sakti nggak bakal dosa."


Nadine berdecak kesal.


"Emang Nadine gak seneng, ya?" tanya Sakti.


Nadine mendelik, menatap binar kedua bola mata hitam dan indah yang penuh harap itu. "Seneng kenapa?"


"Bisa berduaan gini sama Sakti."


"Ngapain gue harus seneng?"


Aduh, sakit!


"Jadi beneran nggak seneng?"


Nadine kembali membuang muka. Tak sanggup menahan kesaltingan yang luar biasa.


"Nggak?" tanya Sakti lagi setelah beberapa detik.


"Nggak apa?" Nadine balik bertanya.


"Nggak senang?"

__ADS_1


"Nggak."


NT kadang-kadang, NT!


Nice try, Sakti...


Sakti menghela nafas panjang lalu menjaga jarak duduk mereka berdua dari 15 cm menjadi 30 cm.


"Kenapa lo ngejauh?" tanya Nadine.


"Nggak."


"Nggak jelas!"


"Soalnya kan, Nadine nggak suka kalau dekat-dekat sama Sakti."


"Gue bilang nggak senang, bukan nggak suka!"


"Sama aja."


Nadine menatap jengkel Sakti yang kini membuang mukanya.


Sakti marah?


"Aneh banget sih, lo! Lo yang nanya, lo yang marah!" sergah Nadine.


"Sakti nggak marah." sahut Sakti sambil terus membuang muka.


"Nggak marah, nggak marah! Hadap muka gue, kalau lo nggak marah!"


Sakti tetap bergeming.


Nadine memutus jarak duduk di antara mereka menjadi 10 cm. Lalu entah dorongan dari mana, dengan lancangnya kedua tangan Nadine terulur mendekap kedua belah pipi Sakti lalu memutarnya agar menghadap wajahnya.


"Aneh banget sih, lo!" sergah Nadine.


Diperlakukan secara tiba-tiba seperti itu, sontak membuat Sakti terkejut bukan main. Kedua tangan halus dan ramping itu terasa hangat di pipinya, bahkan sampai ke hatinya.


"Lo yang nanya ke gue, gue senang apa nggak! Gua jawab nggak malah ngambek! Gimana gue bisa senang, sih? Duduk berjam-jam disini sambil nungguin si Asep yang hilang nggak tahu kemana! Gue benar-benar kesal tau, nggak!? Dan lo malah ngasih pertanyaan nggak berbobot kayak gitu!?" tutur Nadine.


Setiap kata demi kata yang terucap dari mulut Nadine sama sekali tak masuk ke otak Sakti. Wajah Nadine yang berada dihadapan wajahnya terlihat sangat cantik dan membuat lidah Sakti menjadi kelu, otak menjadi buntu.


Hingga secara tak sadar, ada seseorang yang memotret mereka dengan ponselnya dari kejauhan.


"Senang sama suka itu beda jauh, Sakti!"


Sakti tak menjawab sepatah kata pun. Tangan kanannya naik menyentuh tangan kiri Nadine yang berada di pipi kanannya. Sementara tangan kirinya naik menyentuh pipi kiri Nadine.


Seharusnya mereka tak lupa, bahwa itu adalah halte sekolah walaupun suasananya tengah sepi. Tapi dunia seolah milik mereka berdua. Tak perduli sudah seromantis apa kini mereka berdua.


Beep!


Beep!


Suara klakson mobil Toyota Alphard menyadarkan mereka dari dunia mereka berdua.

__ADS_1


"Hayoh! Non Nadine, lagi ngapain!?"


__ADS_2