AURIGA

AURIGA
BAB 20 : Formalitas Belaka


__ADS_3

Begitu Sakti mendapat pesan dari Nadine bahwa ia sudah di depan kost nya, Sakti langsung membuka pintu dan mendapati Nadine sudah berdiri diluar sana sambil bersedekap.


"Nadine..." sapa Sakti.


Nadine menoleh lalu tersenyum tipis. "Udah siap?"


"Udah."


"Bentar lagi taksi online nya sampai."


Nadine pun mendudukkan bokongnya di teras kost Sakti.


"Nadine mau masuk dulu?" tawar Sakti.


"Nggak apa-apa. Disini aja."


Sakti pun duduk tak jauh di sebelah Nadine.


"Nadine kesini sama siapa? Supir Nadine?"


"Bukan. Gue kesini sama temen gue."


"Boleh sama orang tua Nadine?"


Nadine mengulum bibirnya. "Orang tua gue lagi di luar kota. Gue bilang ke mereka kalau gue ada kerja kelompok di rumah lo, dan berangkatnya bareng sama temen gue."


"Padahal Nadine pernah bilang sama Sakti kalau bohong itu dosa."


Nadine menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Kali-kali..."


Sedari jam 5 sore, Nadine sudah di jemput Syarla dengan pakaian kasual dan ransel sekolah yang berisi baju dan rok span yang ia gunakan sekarang, dan beberapa alat make up. Kepada Mang Asep dan Bi Irni, Nadine berkata sudah mendapat izin dari Pak Gavin untuk pergi kerja kelompok bersama temannya. Terlebih yang menjemputnya adalah Syarla, teman terdekat Nadine yang sudah sangat kenal dengan Mang Asep dan Bi Irni.


Berganti pakaian di rumah Syarla, pukul 19.00, Syarla mengantar Nadine ke kost-an Sakti, sedangkan Syarla langsung meluncur ke rumah pujaan hatinya.


Syarla balikan dengan David?


Tapi kan, mereka nggak pernah pacaran?


Dan Nadine tidak terlalu mengurusi soal itu.


Kembali menyorot dua insan yang tengah duduk berdua sambil memandangi langit malam tanpa suara.


Sakti melirik Nadine yang tampak sangat cantik malam ini. Baru kali ini Sakti melihat Nadine tidak memakai seragam secara langsung.


Alisnya tebal dan terbentuk indah tanpa buatan pensil, bulu matanya lentik tanpa bantuan maskara, hidungnya sangat bangir ketika dilihat dari samping, bibir tipisnya yang diberi polesan liptint, dan bahu ramping putih nya yang terbuka.


Merasa diperhatikan, Nadine refleks balas melirik Sakti, yang membuat Sakti langsung salah tingkah.


"Kenapa?" tanya Nadine.


"Nggak..." Sakti langsung menengadahkan wajahnya kembali.


Walaupun dengan penampilan sederhana, tapi entah kenapa Sakti terlihat sangat tampan. Pesona yang dikeluarkannya, bahkan bisa mengalahkan cahaya dari jutaan bintang di atas langit sana.

__ADS_1


Tak salah orang tuanya memberikan nama Auriga padanya.


Rasanya tak ingin lepas Nadine memandangi susunan wajah sempurna Sakti.


Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang hinggap di pipi Sakti, hendak menghisap darahnya.


PLAK!


"AWH!!!" Sakti memekik sambil mengusapi pipinya yang kebas. "NADINE!?"


"S-sorry, Sakti! Tadi ada nyamuk!" ucap Nadine panik.


"Dapat, nggxak!?"


"Nggak..."


"Yah, rugi! Mana Nadine namparnya keras banget lagi!"


"Aduh, Sakti...! Maaf... Gue refleks..."


Nadine meringis saat melihat pipi Sakti yang putih terdapat bekas tamparan tangannya.


"Sakti... Maafin gue... Nyamuk sialan!" rutuk Nadine.


Nadine pun mengulurkan tangannya membelai pipi Sakti.


"Sakit, ya...?" tanya Nadine dengan penuh penyesalan.


Melihat wajah cemas Nadine dihadapannya, menimbulkan secuil harapan di hati Sakti.


Dan untuk yang kedua kalinya pula tangan halus Nadine menyentuh wajahnya.


"Udah nggak, kok, Nadine..." ucap Sakti.


Nadine pun tersadar lalu menarik tangannya. "Maaf, ya, Sakti..."


Kenapa Nadine harus menyentuh pipi Sakti!?


Kenapa ia tidak bisa mengendalikan dirinya!?


Bagaimana kalau Sakti mengira Nadine cewek yang agresif!?


"Iya, nggak apa-apa..."


"Kayaknya itu taksi online nya!" seru Nadine, lalu berlari menuju taksi pesanannya sambil menahan segala rasa malunya.


...****************...


"Rasanya kamu sudah mengenal aku, ya?" tanya perempuan yang duduk berhadapan dengan Nadine dengan senyum ramahnya yang memuakkan.


Jelas Nadine mengenalnya. Sangat kenal.


"Siapa, ya? Lupa," sahut Nadine.

__ADS_1


"Aku Viona, sahabat Dikta yang kamu kira selingkuhannya waktu itu." Viona tertawa kecil. "Waktu aku nemenin Dikta nonton karena kamu nggak bisa."


Nadine mendengus. "Maaf, gue nggak ingat wajah lo."


Di dalam sebuah restoran Japanese Food yang mewah, mereka menempati meja dengan empat bangku.


Nadine duduk bersebelahan dengan Sakti. Sedangkan Dikta bersebelahan dengan Viona.


"Jadi ini Sakti? Pacar baru kamu, Dine?" tanya Viona sok akrab.


"Iya, ini pacar baru gue." Nadine tersenyum hangat pada Sakti, yang langsung dibalas lebih hangat oleh Sakti.


"Sakti, kenalin, aku Viona, sahabat Dikta dari kecil." Viona mengulurkan tangannya pada Sakti.


Sakti langsung menjabat uluran tangan Viona. "Sakti, pacar Nadine."


Mereka pun langsung menarik tangan masing-masing.


Viona memindai tatapannya pada Sakti dari atas ke bawah, lalu tersenyum remeh. "Aku nggak nyangka kamu rela ngelepasin Dikta demi cowok ini, Dine."


Sakti langsung menaikkan sebelah alisnya.


Mata Nadine berkilat sadis. "Maksud lo, apa!?"


"Aduh, Nadine! Santai aja, kali! Aku cuman bercanda!"


"Bercanda lo nggak lucu!"


"Baperan amat kamu, Dine!" Dikta angkat bicara. "Padahal yang barusan diomongin Viona jelas bener, kok!"


"Asal kalian tahu! Gue sama Sakti belum lama pacaran! Sedangkan gue sama Dikta udah delapan bulan break up!"


"Wah! Sampai dihitung! Masih gamon, ya?" tanya Viona.


"Kalian ngajakin kita dinner apa ribut, sih!?" emosi Nadine sudah terpancing.


"HAHAHA!" Dikta tertawa keras. "Kita cuman bercanda! Bawa santai aja kali!"


"Iya, Nadine! Kita juga tahu, kok! Sakti baru kurang lebih sebulan, kan sekolah di Tunas Bangsa? Dia anak kampung yang dapat beasiswa, kan?" tanya Viona.


"Kamu tahu?" tanya Sakti.


Viona tertawa kecil seperti penyihir, lalu mengedikkan bahu. "Tahu, lah! Viona gitu, lho!"


"Tahu, apa cari tahu?" tanya Nadine sinis.


"Dengar, ya Nadine. Sakti Auriga Kaivan, orang Sukasari yang beruntung dapat beasiswa ke Tunas Bangsa, itu udah kedengar sampai sekolah kita." sahut Dikta.


"Dan katanya dia ganteng banget! Cewek-cewek di sekolah kita aja pengen ketemu dan fotbar sama Sakti kayak cewek-cewek di Tunas Bangsa! Tapi ternyata biasa aja, ya?" timpal Viona.


Deg!


Setahu itu mereka tentang Sakti?

__ADS_1


Setenar itu seorang Sakti?


Bagaimana kalau mereka tahu hubungan Nadine dan Sakti hanya sebatas formalitas belaka?


__ADS_2