
"Kenapa....! kenapa...! soalnya kamu menguras galon semprotan menggunakan air kolam, sambil membuang airnya ke dalam kolam. itu sama aja kamu meracuni ikan. aduh....! kamu tuh ada-ada aja eman! eman...!" ujar pak ustad yang terlihat meringis menahan perih, namun untuk menyalahkan dia tidak berani, karena dia sudah mengetahui kelalaian dan keteledoran Eman.
Sama seperti pak ustad istrinya pun terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. yang bisa beliau lakukan hanya mengelus dada, meredam emosi yang bergejolak di dalamnya. Melihat kesalahan Eman dia tidak banyak berbicara, Bukannya tidak bisa memarahinya, tapi dia sudah mengerti kalau eman tidak akan mengerti dengan apa yang dia bicarakan, apalagi kejadiannya sudah jelas seperti itu.
Berbeda dengan Eman. dengan kejadian yang menimpa keluarga Pak Ustad membuatnya semakin merasa bersalah, hidupnya semakin tidak tenang menjadikan siksaan bagi pemikirannya yang berbeda dengan orang lain. Dia hanya bisa terdiam, wajahnya terlihat pucat,.jantungnya terus berdegup dengan kencang, hatinya berdebar tak berirama. rasa malu sama pak ustad semakin bertambah, orang yang sudah merawat dan mendidiknya penuh kasih sayang, namun apa balasan yang diberikan hanya kerugian dan kerugian. Apalagi kalau mengingat orang tuanya yang pasti akan marah gara-gara keteledorannya sehingga dia semakin merasa ketakutan.
"Ya Allah, kenapa aku sampai sebodoh ini, bagaimana kalau kejadiannya sudah seperti ini. pak ustad mendapat kerugian yang tak terkira, ikannya banyak yang mati itu semua gara-gara kebodohanku. ya Allah, semoga engkau menolongku. ya Allah....!" begitulah gumam hati Eman Ya nggak tahu harus berbuat apa, Dia hanya bisa berdoa sama sang penciptanya. sebenarnya hati Eman sudah mulai mengerti karena setiap habis magrib dia selalu diberikan pelajaran ilmu agama oleh keluarga Pak Ustad, namun begitulah Eman memiliki kekurangan susah mengerti cepat lupa.
Setelah terdiam agak lama, Pak ustad pun akhirnya mulai sadar, bahwa kejadian yang menimpanya tidak terlepas dari qudrat iradat sang pencipta. sehingga dia pun menerima dengan lapang dada, karena walaupun Sekuat apapun dia berusaha, kejadian itu sudah terjadi. yang ada hanya tinggal bersabar dan berserah diri kepada sang pembuat cerita kehidupan.
"Sudah Jang Eman...! jangan terlalu banyak pikiran...! Anggap saja ini adalah cobaan dan satu pelajaran buat Ujang ke depannya. karena kehidupan seseorang tidak terlepas dari qada dan qadar baik ataupun burukĀ semuanya datang dari sang pencipta, kemarin bapak sudah menjelaskan sama Ujang, ketika seseorang iman atau percaya sama Allah, maka harus Iman sama yang lain-lainnya. yang utama adalah rukun iman yang enam. dari salah satu yang enam diantaranya kita harus percaya dengan qada dan qadar, Dan kejadian inilah buktinya kamu sudah bisa rasakan dan bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri. Semoga kedepannya ini menjadikan pelajaran buat kamu dan mengingat semua pelajaran yang sangat berharga ini," ujar pak ustad dengan intonasi suara yang lembut, takut membuat Eman semakin tertekan. Sebenarnya dia sedang mengobati perasaannya yang terluka. karena walau bagaimanapun Ustad hanyalah seorang manusia, yang memiliki rasa kecewa sama seperti manusia pada umumnya.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya Bapak, karena dengan keteledoran saya. Sehingga bapak harus mengalami kerugian yang sangat besar," jawab Eman dengan suara parau batinnya terasa tertekan, karena sudah jelas musibah yang dialami oleh keluarga Pak Ustad itu adalah ulahnya yang sangat teledor.
__ADS_1
"Ya sudah saya memaafkan Jang...! nggak apa-apa kamu nggak usah bersedih seperti itu. karena bukan disengaja ini kan? Ayo sekarang kita selesaikan pekerjaan kita. tapi Ikannya jangan dimakan, soalnya takut mengandung racun sehingga membahayakan kesehatan kita," jawab Pak Ustad dengan nada lembut kemudian dia pun bangkit. tubuhnya terasa kembali segar, Karena pak Ustadz sudah bisa menerima kenyataan yang begitu pahit, dia tidak terlarut dalam kekecewaan.
Begitu juga dengan istrinya, sekarang setelah tadi Mendengar pembicaraan suaminya, dia pun mulai sadar bahwa semua yang menimpanya itu adalah kehendak sang pencipta sebagai cobaan kekuatan iman yang dimilikinya.
Sama seperti kedua gurunya, hati Eman pun merasa tenang. namun dia semakin malu terhadap keduanya serta semakin tidak betah tinggal di rumah pak ustad, karena terlalu sering membuat kesalahan, terlalu sering membuat kerugian terhadap kedua orang yang mengurusnya.
****
Setelah mendapat waktu yang pas, akhirnya Eman pun menghadap ke Pak ustadz dan istrinya yang kebetulan keduanya sedang beristirahat di teras.
"Ada apa Jang?" tanya pak ustad yang mengerti dengan Eman, karena tak seperti biasanya Eman menghadap, biasanya Eman tidak pernah ikut mengobrol kalau tidak diajak.
"Maaf Bapak, Saya mau ada yang disampaikan sama Bapak," jawab Eman yang awalnya terlihat ragu-ragu, setelah ditanya seperti itu dengan cepat dia pun mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Silakan.....! Ujang mau berbicara apa sama Bapak? jangan ada yang ditutup-tutupi, jangan ada keraguan!" Ujar pak ustad yang lemah lembut.
"Bapak, saya sebenarnya betah tinggal di rumah bapak, namun saya sangat malu karena setiap hari saya selalu merepotkan Bapak. Namun meski Saya malu Saya memberanikan diri untuk berbicara sama Bapak, Saya mau minta izin untuk pulang ke rumah," jawab Eman tanpa berbasa-basi dia langsung ke pokok inti permasalahannya.
Mendengar keterangan anak asuhnya seperti itu membuat pak ustad dan istrinya terlihat kaget karena dia tidak menyangka kalau Eman berani berbicara demikian. pak ustad terlihat terdiam tidak langsung memberikan keputusan, kemudian dia menatap ke arah sang istri seolah meminta pendapat. namun Bu ustad pun sama tidak menjawab, hanya membalas tatapan suaminya.
"Jang eman, Kenapa Jang Eman berbicara seperti itu, Apa sebabnya sampai Jang Eman ingin pulang ke rumah?"
"Saya merasa malu Bapak, saya sadar diri, kalau saya ini berbeda dengan orang lain. nggak apa-apa saya akan menerima Jalan kehidupan yang ditakdirkan oleh Allah. tinggal bersama Bapak Saya sangat bahagia, karena saya bisa tahu nama Tuhan saya yaitu Allah. bahkan saya tahu rukun iman karena Bapak sangat rajin memberikan pelajaran terhadap saya. sebenarnya saya ingin mengetahui lebih jauh tentang ilmu mengenal Tuhan. tapi!"
"Eman!" potong pak ustad, Mungkin dia tidak sanggup mendengar kelanjutan cerita anak Malang ini.
"Saya pak ustad?" jawab Eman yang terlihat manggut memberi hormat seperti yang sudah diajarkan oleh pak ustad.
__ADS_1