BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
Bab. 9 Kenapa Bisa Terjadi


__ADS_3

Pak ustad terus berjalan mendekat ke arah Eman yang sedang kesusahan  karena terperosok ke galian lobang yang berada di tengah kolam. namun pak ustad yang sedang dilanda kepanikan, sehingga dia pun lupa bahwa di tengah kolamnya agak dalam. hingga akhirnya dia pun ikut terperosok tenggelam sampai leher. Sama seperti Emang dia pun panik.


"Tolong....! tolong...!" teriak pak ustad tangannya terus menggapai sesuatu, agar dia bisa keluar dari kubangan kolam.


Melihat suaminya tenggelam, Bu ustad pun dengan gugup mendekat ke arah sang suami untuk menolongnya.


"Kenapa kok bisa ketularan bodohnya....., sih...!" gerutu Bu Ustad sambil terus mendekat hendak menolong suaminya dan Eman.


"Awas jangan terlalu dekat! Nanti ibu juga ikut terperosok." Ujar pak ustad mengingatkan istrinya.


Mendapat peringatan dari suaminya. bu ustad pun berhenti kemudian dia berjalan dengan penuh kehati-hatian, takut terperosok ke dalam kubangan kolam yang lumayan dalam sampai seleher orang dewasa. setelah berada di tepian kolam dia pun mengulurkan tangan kanannya ke arah Pak Ustadz, tanpa berpikir panjang Pak ustad pun memegang tangan istrinya lalu naik ke atas kolam. nafasnya terlihat sangat memburu, namun dia masih sadar bahwa ada orang yang harus diselamatkan. dengan segera dia pun mengeluarkan tangan ke arah Eman, untuk mengajaknya naik dari kubangan kolam. sehingga Eman pun bisa naik dengan selamat, wajahnya terlihat sangat pucat, bajunya basah kuyup tak tersisa.


"Dasar sial...! bukannya menolong ikan malah aku sendiri yang ikut tenggelam. sial...!sial...! Eman cepat kamu tangkapin ikan yang masih hidup, kemudian pindahkan ke kolam sebelah.


"Siap Pak! siap...!" jawab Eman tanpa membuang waktu dia pun mulai menangkap ikan yang terlihat sangat lemah, dia tidak peduli dengan tubuhnya yang sangat menggigil karena kedinginan. Eman mulai menangkap ikan mujair yang terlihat mangap-mangap seperti ikan-ikan yang lainnya, membuat gurunya hanya mengeratkan gigi menahan amarah yang memenuhi dada.


"Eman....! eman...! jangan mengutamakan ikan yang kecil. tuh, tangkap ikan yang besar, ikan mas...! buat apa ikan mujair. Kenapa kamu sangat bodoh, Apa kamu ingin ditenggelamkan ke Lumpur." Bentak pak ustad yang lupa diri dengan Tata kesopanan, sehingga dia berbicara ngelantur kemana-mana.


Mendapat bentakan seperti itu, eman semakin gugup tidak tahu harus berbuat apa. bahkan sejak dari tadi dia belum bisa menangkap Satu ikan pun. karena yang menyuruhnya selalu mengagetkannya dengan bentakkan-bentakan yang membuatnya semakin merasa panik. namun lama-kelamaan akhirnya Eman pun bisa menjalankan tugas, menangkap ikan-ikan mas yang besar dan masih bisa diselamatkan. Dia mulai bisa memilih mana ikan yang berharga dan mana ikan yang tidak memiliki nilai uang.

__ADS_1


Namun sayang pekerjaannya yang dipenuhi dengan kegugupan, sehingga pekerjaan Eman dan pak ustad terasa sangat lambat. sehingga banyak ikan yang tidak bisa diselamatkan, awalnya ikan itu mangap-mangap kemudian mengambang melepaskan nyawa.


Ikan yang mati semakin lama semakin banyak, ditambah cuaca yang sangat panas sehingga mempercepat dan memperbanyak ikan yang sedang keracunan untuk melepaskan nyawanya.


Mau tidak mau, Akhirnya pak ustad harus menerima dengan keadaan yang sedang dialaminya. dia harus menerima kerugian yang sangat besar, karena ikan peliharaannya banyak yang mati, meski ada sebagian ikan yang bisa diselamatkan. namun itu tidak sebanding atau tidak seimbang dengan ikan yang mati mendadak. Ikan-ikan besar pada mengambang di tengah, begitupun dengan ikan-ikan kecil yang terlihat mengambang di tepian kolam, seperti sampah yang tidak memiliki arti.


Melihat kejadian yang begitu mendadak, tubuh pak ustad terasa lemas tidak memiliki daya sama sekali, seperti kapas yang tersirami oleh air embun. wajahnya terlihat sangat pucat pasi seperti tidak memiliki darah, Dia sangat was-was melihat ikan yang berserakan di atas kolam.


"Ya Allah...! sampai harus begini cobaan yang engkau berikan. kenapa bisa seperti ini?" Ujar pak ustad yang berbicara dengan dirinya sendiri, sambil menjatuhkan tubuh di Pematang kolam, menyandarkan punggung ke pohon kedondong, bajunya terlihat basah kuyup Kakinya kotor dipenuhi dengan Lumpur.


"Iya ada-ada aja bahan pikiran tuh..! kalau lagi sial tidak ada kepalang. kenapa kita harus mengalami cobaan seperti ini, rasanya hidup kita selalu ditiban kesialan terus menerus," jawab Bu Ustad yang sama terlihat lemas dari sudut netranya ada cairan bening yang mengalir membasahi pipi.


"Perasaan kita tidak pernah jahat sama orang lain. Jadi tidak mungkin ada orang yang jahat sama kita. Dan Kita tidak punya musuh, bahkan kita sangat baik dengan tetangga ataupun dengan sesama umat manusia," sanggah Bu Ustad tidak terima, kalau kejadian yang menimpanya adalah pembalasan dari kejahatan-kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan.


"Iya benar...! tapi kenapa kita diuji seberat ini?"


Mendengar jawaban dari suaminya, Bu ustad pun tidak menimpali. matanya terus menetap ke arah ikan-ikan yang sudah berserakan di atas kolam. sebagian sudah diambil oleh Eman disimpan di ember besar. bahkan sudah 3 ember terisi penuh, namun masih banyak ikan yang belum di dimasukkan ke dalam ember. begitupun juga Pak Ustad dia pun menatap ke arah ikan, namun pandangannya sesekali melihat ke arah padi yang tadi pagi disemprot racun hama oleh Eman, membuat Dia sedikit mendapat penjelasan.


Pak ustad pun menatap ke arah Eman yang sedang sibuk mengambil ikan yang sudah mati, kemudian dipisahkan antara ikan kecil dan ikan besar.

__ADS_1


"Eman...!" Panggil Pak Ustad.


"Saya, Bapak...!"


"Kamu ke sini dulu sebentar...!" pinta pak ustad bilang tak melepaskan tatapan. dengan cepat Eman pun naik dari kolam kemudian dia duduk di hadapan gurunya.


"Begini Man, tadi pagi kamu nyemprot padi yang mana?"


"Sawah yang ini bapak!" jawab Eman sambil menunjuk ke arah sawah yang dekat kolam.


"Sebentar...! sebentar...! Bapak Jadi curiga, tadi pagi kamu menyemprot, siangnya ikan pada mati. Jadi sebelum menuduh orang lain, Bapak mau nanya dulu sama kamu! coba kamu tolong ceritakan apa saja yang tadi kamu lakukan!' tanya Pak Ustad mulai mengintrogasi muridnya.


"Seperti biasa bapak, seperti apa yang sudah diajarkan oleh pak ustad!'


"Iya, saya percaya sama kamu, karena kamu memang menurut. tapi apa saja yang kamu kerjakan, nyampur obat di mana, beristirahat kamu di mana, mengambil air di mana, buka obat di mana, Coba tolong kamu jelaskan...!" ujar pak ustad memperjelas pertanyaannya.


"Kalau begitu, berarti sudah jelas bahwa Kamulah yang salah!"


"Kenapa saya yang salah Bapak?" Banyak Eman yang tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2