BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab 32. mengintai


__ADS_3

Mendengar dari suaranya yang berbicara, itu adalah Eman dan Dodo. karena Hadi dan Warsa sudah sangat mengenal kedua orang itu. bagaimana tidak mengenal, karena dia bisa menjadi maling, itu gara-gara Eman yang melaporkan kejahatannya ketika dia menipu kambing.


"Ikutin...!" ujar Warsa dengan berbisik.


Dua orang yang bersembunyi itu terus berjalan mengendap-endap mengikuti Eman dan Dodo. terlihat orang yang berjalan paling depan, dia memanjat ke atas tebing selokan, sedangkan Eman masih berdiri di pematang selokan.


Setelah berada di atas, cahaya senter pun menerangi arah pijakan Eman, sehingga membuat wajahnya terlihat. walaupun hanya sekilas, namun itu cukup meyakinkan buat Hadi dan Warsa, bahwa orang itu adalah orang yang mereka cari.


"Awas hati-hati Jang, ada galian tanah." ujar Dodo mengingatkan anaknya.


Tanpa ada jawaban, Eman pun meloncati selokan kemudian tangannya ditangkap oleh Dodo lalu ditarik ke atas. sehingga dia pun sudah berdiri di tebing atas selokan.


Setelah menyeberangi selokan, mereka pun melanjutkan perjalanan. sedangkan Hadi dan Warsa mereka terus mengikuti dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.


Sesampainya di bawah pohon asem, Dodo dan Eman Mereka terlihat berhenti, begitupun dengan orang yang mengikuti, mereka berdua merasa bingung harus bagaimana cara melumpuhkan musuh bebuyutannya.


"Warsa, apa kamu masih siap untuk bertarung?"


"Sudah tidak kuat Hadi, tenagaku sudah habis. Kita serang saja dari belakang, bapaknya kita getok pakai batu."


"Kalau Si Eman?"


"Kita tangkap dan kita bawa ketepian jurang."


"Ya sudah, ayo kita jalankan...!" ajak Hadi.

__ADS_1


Setelah mengatur rencana, kedua orang itu terus mendekat ke arah peristirahatan Dodo yang sedang mengarahkan cahaya senter ke berbagai arah, sedangkan Eman dia berdiri di sampingnya. Mata Eman terus memindai ke arah atas, karena di atas bukit ada warga Kampung Sukamaju yang sedang mencari kedua maling yang sudah melarikan diri.


"Kita tunggu di sini aja Pak, kalau maling lari ke sini kita tinggal membabat kakinya sampai patah, kemudian kita gorok lehernya, lalu kita jadikan tumbal selokan yang tidak ada airnya. Siapa tahu saja, kalau sudah ditumbal airnya akan lancar," ujar Eman yang terdengar sangat sombong membuat hati Warsa dan Hadi terasa panas, karena pembicaraan Eman terdengar jelas di kuping mereka.


Krosok....! krosok...!


Suara kemerosok di samping Dodo, karena Hadi diarahkan untuk memancing perhatian kedua musuhnya. dengan cepat Dodo yang terpancing dia menyorotkan senter ke arah datangnya suara. terlihatlah dengan jelas, bahwa orang yang dia lihat itu adalah Hadi. Dodo pun menarik nafas mau berteriak, ingin memberi tahu warga yang lain, karena dia sangat yakin bahwa orang itu adalah Hadi, orang yang sedang dicari oleh warga Kampung Sukamaju. namun belum saja keluar suara, dari arah belakang Warsa yang sudah bersiap dari tadi, dia melemparkan batu sebesar kelapa mengarah ke arah Dodo.


Blug!


Uuuuuuuu....!


Desis Dodo tertahan, karena batu yang dilemparkan oleh Warsa tempat mengenai punduknya, sehingga membuat tubuh itu langsung ambruk, mengkrejet seperti orang yang hendak melepaskan nyawa. tidak ada suara yang keluar, karena tenggorokan terasa ada yang menutupi.


"Aduh.....! kenapa ini bapak....?" ujar Eman yang terlihat gugup, kemudian dia memburu ke arah tubuh Dodo yang terlihat ambruk, ingin segera mengetahui kondisinya.


Hadi dan warsa sangat cepat dalam bekerja, sehingga dalam waktu sekejap saja, tubuh Eman sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mulutnya di tutup menggunakan daun harendong.


"Ayo bawa yang jauh....! jangan disiksa di sini, karena kalau disiksa di sini tidak akan puas." Ajak Hadi yang terdengar agak gugup.


Akhirnya tubuh Eman pun dibawa menjauh dari tempat itu, Eman hanya mengikuti, karena dia tidak bisa berbuat apa-apa. pemikirannya rasanya belum kumpul seutuhnya karena masih merasa kaget mendapat Serangan yang begitu mendadak.


Eman terus dibawa melewati selokan yang tidak berair, sedangkan Dodo Dia terlihat masih menggelinjang-gelinjang karena punduknya terasa patah, tenggorokannya terasa sakit, kepala terasa pusing, keadaan sekitar terasa berputar,, hingga tubuh Dodo tidak kuat menahan semua siksaan. Akhirnya dia pun pingsan tidak ingat lagi keadaan sekitar, tubuhnya terbaring di bawah pohon asem tidak bisa berbuat apa-apa.


Sedangkan orang yang melukainya, mereka berdua terus berjalan dengan tergesa-gesa sambil menarik-narik tubuh Eman. suara kemerosok dedaunan kering yang Terinjak, wajah mereka tergores oleh ujung tebu timbarau, kadang Mereka terlihat menyela-nyela rumpun-rumpun yang sangat rimbun agar bisa mereka lewati.

__ADS_1


Di perjalanan, mereka sangat lancar. tidak ada gangguan sedikitpun, hingga akhirnya mereka sampai di salah satu tempat, di tepian Hutan Larangan, hutan yang biasa dijadikan tempat tinggal hewan buas.


Hadi dan Warsa pun berhenti, sedangkan Eman tubuhnya didorong ke arah depan sehingga tubuh itu tersungkur ke tanah, membuat perut Eman terasa mual.


"Bangun bodoh.....!" bentak Hadi sambil menarik tubuh Eman kemudian didudukkan.


Setelah duduk Eman hanya bisa mengatur nafas, dia tidak bisa berbicara karena mulutnya dipenuhi oleh dedaunan. Hadi dan warsa terlihat sangat santai, karena mereka pun duduk kemudian membaringkan tubuh, menghilangkan rasa capek yang begitu sangat, karena malam itu mereka disuguhi pekerjaan yang sangat berat.


Udara terasa semakin dingin, dari arah Timur terlihat Seberkas cahaya kuning, cikal bakal Fajar yang sebentar lagi akan menyingsing, hujan air embun terus turun, kabut kabut terlihat menyelimuti bukit bukit, berkumpul seperti gulungan kapas yang tipis.


Semakin lama suasana pun semakin agak terang, tersinari oleh cahaya Fajar yang sudah menyingsing, awan-awan yang berkumpul berkelompok warnanya terlihat kuning keemasan.


"Warsa...! kayaknya sudah masuk waktu subuh, soalnya Fajar sudah mulai menyingsing. semalam suntuk kita Berkelana sampai kita berhasil menangkap si koplok Eman. hahaha," ujar Hadi yang tertawa perbawaan hati yang merasa bahagia.


"Kita sedang berada di dalam kejayaan dan kesialan, malam ini berkumpul menjadi satu. namun dari kita bertiga yang paling sial adalah Si Eman, karena hidupnya sudah ada di telapak tangan kita. coba kamu pikir...! kira-kira mau diapakan si koplok ini. kita bunuh langsung atau kita siksa terlebih dahulu?"


"Jangan.....!"


"Jangan bagaimana?"


"Jangan sekaligus dibunuh, nanti dia keenakan. mendingan kita siksa sampai puas, bajunya kita buka, terus kita cari semut rangrang."


"Buat apa semut rangrang?"


"Lah kamu bagaimana sih Warsa, pokoknya aku memiliki ide yang cemerlang."

__ADS_1


"Semut rangrang mau diapakan?" tanya Warsa yang tidak mendapat jawaban.


__ADS_2