BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab 31, rencana


__ADS_3

"Waktu terbaik adalah waktu Fajar, karena menurut perkiraanku orang-orang akan kecapean, sehingga mereka akan tidur dengan lelap. Jadi waktu Fajar akan sangat sepi, itu akan menguntungkan buat kita," jawab Warsa mulai mengatur siasat kembali.


"Pintar juga kamu Warsa! Ya sudah Ayolah, tapi."


"Tapi apa Had?"


"Mau langsung Kita serang ke rumahnya, apa tunggu sampai dia keluar dari rumah."


"Siapanya?"


"Yah si emannya lah Warsa!"


"Langsung Serang Ke rumahnya saja."


"Ke rumahnya langsung?" Ujar Hadi mengulang perkataan sahabatnya seolah Dia ragu dengan apa yang disarankan.


"Yah, Kamu siap nggak Hadi?"


"Siap lah!"


Akhirnya kedua orang itu terlihat terdiam kembali, mereka mengistirahatkan rasa capek, sehabis menghabiskan tenaga ekstra untuk melarikan diri. sambil terus menunggu waktu Fajar, nyamuk nyamuk terus menyerang seperti sangat bahagia, karena menemukan makanan yang sangat melimpah, sehingga membuat Hadi dan Warsa terlihat sibuk menepuk nepuk nyamuk, kalau ada yang dapat mereka gilas sampai berubah menjadi daki


Udara semakin terasa dingin, hujan air embun mulai turun, keringat alam mulai menempel di dedaunan. bahkan keringat Hadi dan Warsa sudah mulai hilang terkalahkan oleh dinginnya suasana waktu itu. rasa gerah mulai menghilang, diganti dengan rasa perih terkena oleh air embun.


Dari arah Lembah terlihat kedipan cahaya senter, terdengar suara orang yang saling berteriak mungkin itu adalah warga Kampung Sukamaju yang tidak menyerah, mereka terus mencari maling yang sudah kabur, meski mereka sudah kehilangan jejak. sedangkan orang yang mereka kejar hanya mengulum senyum merasa bahagia atas keunggulan dan kepintarannya yang mampu meloloskan diri dari penjara.


"Warsa...!" Panggil Hadi memecah suasana heningnya malam.


"Apa..?" jawab Warsa sambil melirik ke arah sahabatnya.

__ADS_1


"Tuh, lihat orang-orang bodoh yang sedang mencari kita."


"Biarkan saja, karena mereka tidak akan sanggup untuk sampai ke tempat ini."


"Tapi bagaimana kalau kita intip, siapa tahu saja Si Eman ikut mencari. karena kalau ikut, itu sangat menguntungkan bagi kita," ujar Hadi yang mendapatkan ide dia tidak mau menunggu lebih lama untuk melampiaskan dendam yang sudah memenuhi dadanya.


"Ayolah...! tapi itu bahayanya sangat besar."


"Bahaya itu tidak ada yang kecil, semua bahaya pasti besar."


"Benar juga, ya sudah ayo!"


Dari rasa dendam yang sudah memenuhi dada, hingga mengalahkan akal sehat. Hadi dan Warsa tidak memperdulikan rasa sakit yang sedang mereka Derita, dengan perlahan Mereka pun bangkit dari tempat duduk masing-masing, kemudian mereka berjalan hendak menyambut orang yang sedang mencari, seperti tidak memiliki ketakutan dalam hidupnya.


Mereka berdua berjalan dengan penuh kehati-hatian, bahkan tidak menimbulkan suara sedikitpun, bak kucing yang sedang mengintip tikus. Sesampainya di rumpun yang agak rimbun, Mereka pun bersembunyi. matanya terus menatap ke arah lembah, memperhatikan orang-orang yang sedang menyela-nyela rumpun sambil mengarahkan cahaya center ke tempat-tempat yang tersembunyi.


"Tuh, tuh.....! Kulisi gil4 Warsa!" ujar Hadi dengan berbisik.


Kedua pasang mata menatap ke arah pak Kulisi yang sedang ditemani oleh dua orang, yang satu terlihat membawa obor yang satunya lagi membawa senter, sehingga tempat pak Kulisi terlihat terang, sehingga Hadi dan Warsa bisa mengetahui raut wajah orang yang menangkapnya.


Pak polisi terus menggerutu karena maling yang sangat susah ketika ditangkap, sekarang sudah kabur melarikan diri. bahkan yang merasa kecewa bukan hanya pak Kulisi, seluruh warga kampung Sukamaju merasakan hal yang sama. apalagi Dodo dan Eman, bahkan kedua orang itu sempat menyalahkan ronda yang berjaga, namun ronda itu tidak bisa menjawab, hanya menundukkan kepala, menerima semua kesalahan yang mereka lakukan.


"Ayo terus naik ke bukit...! Ayo semuanya maju...!" seru Pak kulisi membuat orang-orang yang ikut terus menaiki bukit, semakin lama orang orang yang mengejar semakin mendekat ke arah rumpun yang dipakai bersembunyi oleh Hadi dan Warsa.


"Halah...! bagaimana kalau sudah begini Hadi?" bisik Warsa yang terlihat ketakutan.


"Tetap diam dan Jangan bergerak sama sekali, karena mereka tidak akan mampu menemukan kita."


Dengan perlahan Mereka pun terus masuk ke dalam rumpun yang sangat rimbun, wajah yang terasa perih tergores oleh ujung daun ilalang, tapi tak menjadi halangan buat mereka, karena keselamatan lebih penting dari semua yang menimpanya.

__ADS_1


Kemerosok suara orang yang terus menyela-nyela rerumputan, sehingga pohon-pohon ilalang bergoyang tertabrak oleh orang-orang yang lewat. cahaya senter terus merebak menerangi tempat-tempat tersembunyi, bercampur dengan suara-suara orang yang sedang mengobrol.


Ada dua orang yang lewat ke dekat rumpun, senter yang mereka bawa diarahkan ke arah persembunyian. membuat jantung Hadi dan Warsa terasa berdegup kencang, takut ketahuan, takut ditemukan.


Salah satu ronda mengambil batu, kemudian dilemparkan ke arah rumpun, melayang menuju ke arah Hadi dan Warsa. beruntung batu itu hanya lewat, tidak mengenai tubuh orang yang bersembunyi membuat kedua maling itu menahan nafas.


"Lempar pakai batu besar...!" seru yang satunya lagi.


"Benar...!" jawabnya sambil mengarahkan senter mencari batu, tak lama mencari dia pun menemukan batu sebesar kepala, tanpa berpikir panjang dia mengambil batu itu lalu dilemparkan ke arah rumpun.


Blug!


Suara batu yang jatuh berada satu jengkal di belakang tubuh Warsa, membuat mereka semakin mengeratkan tubuh ketanah agar tidak berteriak. beruntung ada suara decit tikus yang keluar dari arah rumpun, kemudian berlari menjauh mungkin merasa terganggu dengan batu yang dilemparkan.


Melihat yang keluar hanya seekor tikus, kedua ronda pun tak menghiraukan lagi, lalu mereka terus merangseg menaiki bukit. suara kemrosok orang yang sedang mencari masih terdengar, namun semakin menjauh naik ke atas bukit. sehingga membuat tempat persembunyian Hadi dan Warsa kembali seperti semula.


Kedua maling yang sedang bersembunyi terlihat mereka menarik nafas lega, karena bisa berhasil menghindari bahaya yang sedang mengintai. Mata mereka terus menatap ke arah lembah, yang terlihat masih ada cahaya senter yang dinyalakan.


"Kita ke bawah yuk...!" ajak Warsa dengan berbisik.


"Jangan, itu sangat berbahaya!"


"Tidak akan berbahaya, karena orang-orang sedang berada di arah atas, paling ketika ada yang kemerosok, mereka akan menganggap kita adalah temannya."


"Ya sudah, Ayolah....!"


Kedua orang itu terus berjalan menuju ke arah Lembah, sehingga akhirnya sampai di selokan. mereka berdua turun kemudian berjalan di selokan yang tidak berair, mereka terus menyusuri selokan dengan penuh kehati-hatian dan penuh kewaspadaan.


Dari arah depan terlihat ada cahaya semerbak senter yang semakin mendekati, membuat hadi dan Warsa dengan cepat naik kembali, lalu bersembunyi di rumpun. tak lama orang yang membawa senter pun melewati persembunyian Hadi dan Warsa. ternyata orang itu berjumlah dua orang, yang depan membawa senter yang belakang membawa pentungan.

__ADS_1


"Kurang ajar, dasar maling sial4n, kalau tahu akan melarikan diri, Sudah Aku bunuh dari tadi....!" ujar orang yang paling depan.


"Iya bener pak...! Sebenarnya tadi juga saya mau membunuh mereka, tapi sayang dihalangi oleh pak Kulisi," jawab yang belakang.


__ADS_2