
"Saya sangat mengerti dengan apa yang sedang kamu rasakan, kamu harus bersabar, harus tetap bersemangat, jangan sampai putus asa! kita sebagai makhluk hidup harus bisa menerima dengan qada dan qadar yang diberikan oleh Allah, karena semua tingkah laku kita sudah diatur dari sebelum kita lahir ke dunia. tapi walaupun kita sudah diatur, kita diharuskan untuk berusaha, tidak boleh berhenti ikhtiar, tidak boleh berputus asa! kamu harus terus menjalankan semua cara agar bisa merubah nasib yang kurang baik menjadi nasib yang lebih baik. soalnya Allah tidak akan merubah nasib satu kaum, kalau kaum itu tidak merubahnya sendiri. jadi sangat jelas yang terpenting itu adalah usaha terlebih dahulu, masalah hasilnya itu Allah yang menentukan," Jelas Pak Ustad panjang lebar.
"Iya Bapak, tapi bagaimana dengan keinginan saya yang hendak pulang ke rumah, apakah saya diperbolehkan untuk pulang?" Ujar Eman yang sudah membulatkan tekad untuk kembali ke rumah orang tua aslinya.
"Boleh Jang...! boleh, Bapak tidak akan pernah menghalangi niat seseorang, tidak akan memaksa dengan orang yang sudah tidak memiliki niat. Dari awal juga bapak hanya berniat untuk menolong orang yang sedang berusaha, karena bapak diamanatkan oleh Bapak kamu, mang Dodo. tapi kalau kamu mau pulang, kamu jangan sampai tidak memaafkan Bapak, Karena banyak kekurangan. Bapak hanya manusia yang tidak akan terlepas dari sifat salah dan lupa."
"Sebaliknya bapak, bapak juga harus memaafkan saya, karena saya sangat sadar kalau saya sering melakukan kesalahan, sering merepotkan, sering merugikan."
"Jangan dijadikan pikiran, kita sama-sama saling memaafkan saja. Ya sudah, kalau Ujang mau pulang, sekarang rapikan dulu baju kamu, nanti bapak akan mengantarkan ke rumah Mang Dodo," ujar pak ustad yang akhirnya memberikan izin Eman, untuk kembali pulang ke rumahnya.
Eman pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk kembali ke dalam rumah langsung masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, dia pun mulai merapikan baju-bajunya yang sudah lumayan banyak, karena semenjak tinggal di rumah pak ustad dia sering dibelikan pakaian oleh ibu ustad. walau bagaimanapun sebenarnya Ibu Ustad sangat menyayangi Eman, namun mau bagaimana lagi, sekarang Eman mau pulang ke rumah, dia tidak bisa menolak karena ini sudah menjadi keputusan Eman sendiri, Bu Ustad hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak didiknya.
Seusai merapikan pakaian, Eman pun keluar dari kamar langsung menuju ke arah teras, menemui kembali kedua orang tua angkat sekaligus gurunya.
"Sudah siap Jang eman?" tanya Pak Ustad sambil menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah siap pak!"
"Ya sudah kamu izin dulu sama ibu!" seru pak ustad.
"Ibu saya mohon maaf kalau selama saya tinggal di sini Saya hanya bisa merepotkan ibu, selalu membuat Ibu kesal."
"SUdah kamu jangan banyak pikiran yang engga-engga, Ibu doakan semoga kehidupanmu bisa berubah bisa menjadi lebih baik bisa berguna bagi kehidupan orang banyak, ibu juga minta maaf kalau selama ini Ibu banyak salah sama kamu. Dan kalau sudah tinggal di rumah jangan lupakan ibu, karena jarak rumah Mang Dodo sama Ibu tidak terlalu jauh, kamu harus sering menjenguk ibu," jawab ibu ustad yang terlihat matanya mengembun, merasa sedih akan ditinggalkan oleh Eman. walaupun hatinya sering dikecewakan, tapi kalau ditinggalkan seperti itu entah mengapa hatinya tidak ikhlas.
Akhirnya Eman pun mengulurkan tangan untuk mengajak Bu Ustadz bersalaman, setelah berpamitan kedua orang itu pun berangkat menuju ke rumah Dodo, yang berada di sebelah timur Kampung Sukamaju.
Mereka berdua terus menyusuri Jalan yang membelah Kampung Sukamaju, hingga akhirnya mereka tiba di salah satu gang kecil, Mereka pun berbelok menyusuri Gang itu kemudian tiba di rumah yang sederhana namun layak untuk dihuni.
Tak perlu mengulang mengucapkan salam, dari arah dalam terdengar suara decit papan yang Terinjak, kemudian pintu rumah itu terbuka dengan lebar, terlihatlah Rani yang menatap heran ke arah dua orang yang sedang berdiri di ambang pintu, namun dengan cepat Rani menyembunyikan keheranannya dengan menyambut orang yang baru datang.
"Ada Kang ustad dan kamu Eman? Ayo masuk ke dalam!" ajak Rani yang mendahului masuk ke dalam ruang tamu.
__ADS_1
Dua laki-laki berbeda usia itu pun manggut, kemudian mengikuti tuan rumah. sebelum mengobrol Rani pun pergi ke arah dapur kemudian terdengar memanggil suaminya. sehingga tak lama Dodo pun menghampiri ke ruang tamu diikuti oleh istrinya yang membawa air minum, kemudian dia mengisi gelasnya lalu disimpan di hadapan kakak iparnya.
"Eh, ada Kang ustad, Ada apa Kang?" tanya Dodo yang sebenarnya sudah mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.
"Begini Mang Dodo? Akang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anak Mamang yang bernama Eman. namun Akang bukan menyerah, tapi Emannya yang sudah tidak betah, sehingga tadi siang dia menghadap menemui Akang, Dia berbicara Kalau Eman ingin pulang ke rumah Mamang," jawab Pak Ustad menjelaskan.
Mendengar jawaban seperti itu, Dodo hanya menarik nafas dalam kemudian dia melirik ke arah anaknya yang sejak dari tadi menundukkan pandangan, tak sedikitpun memiliki keberanian untuk mengangkatnya.
"Saya menghaturkan beribu-ribu terima kasih Kang, karena Kang Ustad sudah bersedia mendidik anak saya. namun mohon maaf kalau selama anak saya tinggal di rumah akang, selalu membuat keributan dan kerugian, bahkan Kemarin saya dengar bahwa ikan satu kolam mati tak tersisa." jawab Dodo sambil menundukkan pandangan.
"Sudah, itu jangan terlalu dipikirkan, karena semua kehidupan sudah ada alurnya, yang terpenting kita bisa sabar dengan cobaan yang menimpa kita. akang datang ke sini hanya menyampaikan dan mengembalikan tanggung jawab yang sempat diamanatkan oleh Mang Dodo kepada Akang," jelas Pak Ustad.
"Yah Kang Ustad, Saya sangat mengerti Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih,"
Akhirnya mereka pun mengobrol ngalor ngidor, Tak sedikitpun ada kekecewaan diraut wajah pak ustad. meski sudah banyak kerugian yang diakibatkan oleh Eman, beliau terlihat sangat bijaksana dalam menentukan sikap.
__ADS_1
Setelah puas mengobrol akhirnya Pak ustad pun berpamitan karena dia masih memiliki banyak pekerjaan di rumahnya. tinggallah Dodo dan keluarganya yang masih berkumpul di ruang tamu. Eman duduk sambil menundukkan kepala wajahnya terlihat lesu seperti tidak memiliki semangat kehidupan, merasa malu dengan kedua orang tuanya. namun beruntung Dodo yang sudah sangat paham dengan karakter anaknya dengan cepat berbicara.
"Ujang, sudah jangan terlalu banyak pikiran, Bapak sudah mengerti dengan apa yang sedang kamu rasakan, walaupun kamu tidak berbicara. sekarang kamu harus bisa menerima dengan qada dan qadar yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, kamu harus menerima dengan ikhlas karena kamu tidak akan bisa hidup seperti orang lain. soalnya otak kamu seperti memiliki keanehan, walaupun sudah diajarkan dengan berbagai cara, tapi tak satupun ilmu yang menempel di otak kamu, seperti air di daun keladi."