
Kira-kira waktu Ashar, pintu dapur rumah pak ustad ada yang mengetuk-ngetuk. membuat Bu Ustad yang sedang mengiris buncis merasa kaget, namun ketika dia hendak bangkit untuk membukakan pintu, Eman sudah Sigap membukakannya. hingga Pintu itu terbuka lebar, terlihatlah seorang perempuan tetangganya pak ustad, yang sedang menenteng bakul buntung di pinggangnya. terlihat bakul itu penuh dengan perabotan yang baru saja Dia cuci, bahkan bajunya saja terlihat masih basah karena habis pulang dari air.
"Aduh...., Ternyata Nyi Sari, Ada apa Nyai, kok terlihat seperti orang yang gugup?" tanya ibu ustad sambil menatap ke arah orang yang berdiri di ambang pintu dapurnya.
"Begini Ibu, Barusan saya mencuci piring di air. tapi saya melihat keanehan, karena banyak ikan mas yang besar terlihat seperti mau mati' seperti keracunan, bahkan sudah ada yang mengambang. takut tidak bisa diselamatkan, secepatnya ibu harus melihatnya!" jawab wanita yang bernama Sari menceritakan pengalamannya dengan begitu rinci.
"Oh, sudah ada yang mengambang, kira-kira yang mengambang banyak nggak?"
"Semuanya, kayaknya ibu. biasanya Ketika saya mencuci beras, ikan-ikan itu akan mendekat untuk memakan air cucian beras, tapi barusan sama sekali tidak melihat satu ikan pun yang mendekat."
"Terima kasih banyak Nyai! eh' jang Eman cepat susulin pak ustad, kasih tahu ikan di kolam keracunan." seru Bu Ustadz sambil bangkit dari tempat duduknya. irisan buncis dia sisihkan ke pinggir dapur, kemudian dia pun bersiap-siap menuju ke arah kolam.
Mendapat perintah seperti itu, Eman dengan cepat berjalan menuju ke arah kebun umbi, karena Pak Ustad sedang berada di sana. sedangkan perempuan yang memberikan informasi, dia pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. sedangkan ibu Ustad dia berjalan menuju ke arah kolam, tak lama suaminya pun datang diikuti oleh Eman yang dipenuhi dengan kebingungan, tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana nih, ibu....?" tanya pak ustad yang berdiri di Pematang kolam. nafasnya terlihat memburu karena tadi dia berlari, matanya terus memindai ke arah kolam memperhatikan ikan-ikan yang berkumpul di bawah Talang air.
"Celaka...! celaka! kita sangat celaka bapak, lihat banyak ikan yang sudah mati. Kenapa kejadiannya bisa seperti ini. Apa ada orang yang jahat yang menginginkan Kejadian ini?"
__ADS_1
"Hush! jangan terlalu cepat menyimpulkan seperti itu. jangan tergesa-gesa menyalahkan orang lain sebelum intropeksi diri kita sendiri' kita harus menyelidikinya terlebih dahulu. jangan cepat menuduh orang lain karena itu tidak baik, itu bisa termasuk ke dalam perbuatan fitnah, itu dosa besar ibu....!" jawab Pak Ustad mengingatkan istrinya, walaupun hatinya sama tidak tenang, namun pak ustad lebih bisa menguasai diri, sebenarnya dia juga memiliki ketakutan yang sama, takut ikannya tidak bisa diselamatkan.
"Terus kita harus bagaimana?" Tanya Bu Ustad yang terlihat panik.
"Jang Eman..., cepat kamu ambil ayakan bambu dan Ember besar. kita pindahkan ikan-ikan yang masih hidup Ke air yang bersih," seru pak ustad sambil menaikan celananya, kemudian dia pun turun ke kolam untuk menangkap ikan Mas sebesar betis orang dewasa.
Ketika pak ustad menangkapnya, ternyata benar ikan emas itu sudah lemas tidak seberingas biasanya, sehingga dengan mudah ikan itu bisa tertangkap. dengan cepat Pak ustad pun membawa ikan itu untuk dipindahkan ke kolam yang satunya lagi, beruntung kolam itu ada dua kolam sehingga masih bisa ada penangkaran.
Setelah dilepaskan, ikan itu awalnya terlihat sangat lemah, namun lama-kelamaan ikan itu bisa berenang seperti biasanya.
"Jangan pakai telunjuk...! Ayo turun, bantu menangkap. karena masih banyak ikan yang harus diselamatkan. Ya Allah ternyata sudah ada ikan yang mati juga, kenapa ini bisa seperti ini." ujar pak ustad yang terlihat sangat kecewa, dia pun mulai disibukkan dengan menangkap ikan-ikan yang masih hidup. kemudian dipindahkan ke kolam yang lain.
Mendapat teguran dari suaminya, Ibu Ustad tidak berbicara lagi. dia pun mengencangkan ikatan sarungnya, kemudian dia turun ke kolam. namun keadaan yang begitu gugup, sehingga dia tidak berhati-hati ketika turun. Ibu ustad pun terpeleset lalu jatuh ke dalam kolam, belum saja bisa menangkap ikan, tapi bajunya sudah basah kuyup.
"Woi....! hati-hati dong! masa nggak tahu, itu kan tebing kolam lumayan tinggi, kenapa malah jatuh segala," gerutu pak ustad yang terlihat memarahi istrinya karena kurang ke hati-hatian.
"Eh, dasar aki-aki....! bukannya nolongin malah ngedumel!" jawab Bu Ustad sambil menekuk wajah, kemudian dia pun bangkit lalu membenarkan ikatan sarungnya yang terlihat mau lepas. kemudian bu Ustad mendekat ke arah ikan yang terlihat sedang mangap-mangap seperti sedang sangat kesakitan.
__ADS_1
Eman yang ditugaskan mengambil ayakan dan Ember besar terlihat sudah datang. tanpa diseru dia pun turun ke kolam, kemudian dia menangkap ikan yang sudah mati kemudian dimasukkan ke ember, membuat pak ustad semakin merasa kesal, wajahnya terlihat memerah, giginya memancing, matanya melotot.
"Jang Eman.....! Biarkan saja yang sudah mati nggak usah diambil. karena ikan mati sangat mudah untuk ditangkap. yang harus diutamakan adalah ikan yang masih hidup, kemudian pindahkan ke kolam yang sebelah...!" gerutu pak ustad yang terlihat sangat kesal.
Eman yang diliputi dengan kepanikan, Sebenarnya dia tidak mendengar apa yang disampaikan oleh pak ustad. mau bertanya dia takut lebih marah, sehingga dia pun mengambil ember yang sudah terisi penuh dengan ikan mati. kemudian dia berjalan mendekat ke arah kolam yang satunya lagi, tanpa berpikir panjang dia menuangkan ikan mati ke kolam penangkaran.
Melihat kejadian seperti itu membuat pak ustad menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal, dia terlihat sangat marah melihat kelakuan anak didiknya.
"Kenapa kamu Eman....! Hidupmu terlalu bodoh. Buat apa kamu memindahkan ikan yang sudah mati. tuh ikan yang masih hidup, baru kamu pindahkan....! cepat kamu pindahkan.....! kenapa bodoh kamu dihabiskan sendiri," Bentak pak ustad dengan membulatkan mata, giginya terlihat mengancing, matanya memerah sempurna. Mungkin kalau dia kanibal sudah menelan bulat-bulat Eman.
"Siap Pak! siap...!" jawab Eman yang terlihat gugup.
"Siap, siap....!' jawab Pak Ustad tanpa menurunkan intonasi suaranya.
Eman semakin gugup, dia pun melempar ember ke Pematang kolam, Begitu pun dengan ayakan bambu dia hempaskan sehingga masuk ke dalam air sampai Tak Terlihat Lagi. matanya terus memindai area sekitar kolam mencari-cari ikan yang harus segera diselamatkan. lama melihat Akhirnya dia pun menemukan ada seekor ikan yang terlihat mengap-mengap di tengah kolam, dengan cepat dia pun berlari untuk menyelamatkan ikan itu. Namun sayang ketika dia sampai ke tengah kolam, ternyata Tengah kolam dibuat lebih dalam, sehingga Eman pun tenggelam. tangannya terlihat bergerak-gerak seperti meminta tolong.
"Aduh kamu Eman......! eman! ada aja kesalahan kamu. Kenapa bodoh kamu dimakan sendirian," Gerutu pak ustad yang terlihat sangat kesal, tapi walaupun begitu dia tetap berjalan mendekat ke arah Eman, karena dia takut kalau anak didiknya meninggal di kolamnya.
__ADS_1