
"Terus bagaimana usaha kita untuk membebaskan Eman yang sedang ditahan di desa?" tanya Rani yang sudah tidak diliputi dengan amarah.
"Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Hadi dan Warsa. soalnya menurut Eman kedua orang itulah penjahat yang sebenarnya. jadi anak kita hanya kambing hitam, seperti menolong anjing yang sedang terjepit."
"Ya sudah! Tolonglah anak kita...! kalau bukan sama bapaknya mau mengandalkan siapa lagi, karena kalau mengandalkan ibunya. Rani hanya seorang perempuan yang langkahnya pun terbatas. kalau menurut orang tua yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan hanyalah menangis."
"Mau Mak..! mau. Bapak juga tidak akan membiarkan anak begitu saja, Bapak akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anak kita."
Begitulah pembicaraan suami dan istri yang sedang di Terpa musibah melalui anaknya yang dituduh mencuri kalung dan anting. Padahal mereka juga sadar eman tidak mungkin berbuat seperti itu, karena sudah bisa terpikir kalau mencuri emas menjualnya harus ke kota. sedangkan Eman jangankan pergi ke kota, main keluar kampung saja tidak pernah ia lakukan. dia lebih memilih bermain di hutan mengasingkan diri karena malu dengan kenyataan hidupnya yang sangat berbeda dengan orang lain.
~
Keesokan paginya, Dodo sudah bersiap-siap untuk mencari keberadaan dua penjahat yang mengakibatkan anaknya ditahan. Setelah semuanya siap dia pun berpamitan sama istri, mau mulai mencari dan menjalankan ikhtiar, agar bisa keluar dari masalah yang sedang menyelimuti.
Akhirnya Dodo pun berangkat mencari tapak lacak jejak kedua maling itu. Namun sayang Dodo yang bukan ahlinya, sehingga dia sangat kesusahan. jangankan menemukan orang yang dicari menemukan jejaknya pun tidak bisa. ditambah kedua orang itu sudah lama tidak tinggal di rumah, menambah rintangan pekerjaan Dodo.
Hari pertama mencari tidak membuahkan hasil, hari kedua tidak jauh berbeda. hari ketiga apalagi, hingga seminggu berlalu Dodo belum bisa menemukan Hadi dan Warsa. begitupun dengan usaha Pak Kulisi yang kehilangan jejak tidak bisa menemukan penjahat sebenarnya. sehingga mau tidak mau membuat Eman harus terus-menerus ditahan di kantor desa, karena mereka berdua ingin menemukan orang yang jahatnya. tapi ternyata itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, yang ada hanyalah rasa capek, rasa jengkel karena kemampuan yang terbatas.
__ADS_1
Sedangkan pihak Hana terus mendesak sama pak Kulisi supaya Eman diteruskan ke Kecamatan. biar urusannya ditangani oleh pihak yang lebih tinggi. namun Pak Kulisi meminta ke bijaksanaan dari keluarga Hana agar permasalahan yang sedang mereka hadapi diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
~
Satu hari kedua belah pihak pun dikumpulkan di desa. keluarga Hana bersama suaminya dipanggil untuk mengikuti acara musyawarah itu. begitupun juga Mang Dodo sebagai pihak yang terdakwa. disaksikan oleh pak Kades dan aparatur pemerintahan desa lainnya.
Hasil dari musyawarah itu. Mang Dodo terpaksa harus mengganti perhiasan Hana yang sudah hilang. walaupun sebenarnya Eman tidak mengakui bahwa dia yang mengambil kalung dan anting milik Hana. bahkan sempat dipaksa untuk menunjukkan tempat di mana dia menyimpan hasil curiannya, namun dia tetap tidak menyebutkan karena memang Eman bukanlah pencurinya.
Akhirnya Mang Dodo memutuskan dia akan menebus Eman Sesuai dengan keputusan hasil musyawarah. Dia mau menyelamatkan harga diri, jangan sampai anaknya dibawa ke Kecamatan. karena kalau sampai di bawa, urusannya akan semakin ribet. jangankan sampai ke Kecamatan, baru di desa saja urusannya sudah sangat memusingkan. ditambah rasa malu dengan warga kampung karena anaknya berbuat nista seperti itu.
Selesai bermusyawarah, akhirnya Eman pun bisa dibawa pulang oleh Dodo. dan dia meminta jangka waktu kepada keluarga Hana untuk mengumpulkan uang sesuai dengan yang mereka minta, karena dia tidak memegang uang sebesar itu. beruntung suami Hana sangat bijaksana, dia memberikan tenggang waktu yang leluasa, dia tidak terlalu memberatkan pihak Dodo.
"Rani....! kehidupan itu seperti peribahasa takdir tidak bisa dipungkir, kadar tidak bisa disinglar. jodoh, pati, bahagia, celaka, sudah ada yang mengatur, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala. Sekarang kita sedang di timpa musibah, dicoba kesabaran, diuji keimanan. Anak kita sudah bebas, namun syaratnya harus ditebus dengan harga kalung Hana yang hilang. Kalau tidak mau menebus, maka anak kita akan dibawa ke Kecamatan, ke Kapolsek.." ujar Dodo membuka pembicaraan dengan menjelaskan hasil musyawarah di desa.
Mendengar penjelasan dari suaminya, terlihat rani pun terperanga kaget, lemas dan lesu ketika mendengar keterangan yang memberatkannya.
"Masya Allah....! Apa itu nggak salah Kang Dodo?" tanya Rani yang terdengar parau.
__ADS_1
"Ya nggak salah Mak...! begitulah kenyataannya. karena ini sudah menjadi jalan cerita hidup kita, yang tidak bisa dihindari."
"Kenapa, kok Bapak Sanggup menerima persyaratan seperti itu?" Tanya Rani seperti yang memojokkan keputusan suaminya.
"Ya harus bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak kita," jawab Dodo menjelaskan dengan pelan agar istrinya tidak terpancing emosi.
Eman...! Apakah kamu merasa kalau kamu merebut kalung Hana?" tanya Rani yang terlihat jengkel, matanya membulat menatap tajam ke arah anaknya.
"Tidak Ma..! tidak merasa...! Eman tidak merasa mengambil kalung Ceu Hana."
"Sudahlah Mak...! sudah nggak ada baiknya terus menyalahkan anak. Kasihan dia, tadi di desa saja dia sudah sangat tertekan karena terus dihujani dengan pertanyaan dan tekanan. bahkan sama si Hana sampai dihina habis-habisan, Sampai dia berani bilang bodoh, koplok, jahat dan lain sebagainya, yang membuat Siapa saja yang mendengarnya pasti akan teriris. Nah, coba kita sebagai orang tua Jangan sampai seperti itu, Jangan sampai keterlaluan, karena sudah begini kejadian dan kenyataannya. Sekarang saatnya kita berpikir ke mana mencari uang untuk mengganti perhiasan si Hana?" ujar Dodo yang terus menasehati, supaya istrinya sadar bisa menerima kenyataan.
Rani pun terdiam, dia tidak berbicara lagi. sedangkan Eman dia hanya tersedu sedan, memainkan bola mata yang dipenuhi dengan cairan kesedihan. hati Eman terasa semakin menciut, harga dirinya terasa semakin jatuh. hidupnya terasa tidak berguna karena sudah datang lagi kejadian yang merugikan orang lain dan orang tuanya.
"Rani....! padi yang kita miliki terpaksa kita harus jual sebagian, buat tambah-tambahnya kita akan menjual ayam. kalau masih kurang, cincin kamu Akangpinjam dulu." putus Dodo dengan suara parau, Sebenarnya dia sangat sedih tidak rela melepaskan harta yang bukan sedikit jumlahnya. namun mau bagaimana lagi, demi membela anak, terpaksa harus menjalankan semua yang menurutnya sangat pahit.
"Ya sudah...! nggak apa-apa Kang! pakai saja. saya hanya bingung Kang Dodo,"
__ADS_1
"Sudah nggak usah bingung-bingung...! kita ikhlaskan saja semuanya. karena semua yang kita lakukan hanya untuk membela anak kita, jangan sampai memiliki perasaan yang terpaksa. soalnya sudah tidak ada jalan lain, seperti yang sudah kamu ketahui Akang sudah seminggu terus mencari keberadaan si Hadi dan si Warsa untuk memperingan tuduhan terhadap anak kita, namun semuanya tidak membuahkan hasil."