BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
Bab 20. Eman semakin minder


__ADS_3

"Aduh, Kang Dodo...! saya sangat ikhlas, silakan saja Akang lakukan Apapun yang menurut Akang baik. saya hanya kesal dengan orang yang memfitnah Eman, bukan kesal sama anak kita."


"Yah, Akang juga ngerti. tapi jangan sampai kamu melampiaskannya ke anak sendiri, karena kalau bukan kita yang menyayangi Eman, mau siapa lagi? cukup orang lain saja yang menghina, jangan sampai orang tuanya ikut-ikutan." ujar Dodo yang terus menasehati keluarganya sambil menasehati dirinya sendiri.


Rani pun terdiam, dia tidak berbicara lagi dengan semua kenyataan yang sudah menimpanya. begitulah keadaan rumah tangga keluarga Mang Dodo saat ini, yang sedang panen dengan musibah yang terus menimpanya.


~


Keesokan paginya, Mang Dodo menawarkan padinya ke Bandar, walaupun dengan harga murah dia tetap menjualnya, karena sangat Kepepet dan sangat butuh uang. namun hasil penjualan padi belum mencukupi, Akhirnya dia pun menangkap ayam kemudian dibawa ke bandar dan setelah dijumlah kan semuanya ternyata masih kurang. hingga akhirnya benda berharga milik Rani yang melingkar di jarinya, dipinjam terlebih dahulu, untuk mencukupi kekurangan uang yang harus disetorkan kepada keluarga Hana.


Setelah menjual beberapa barang, uang yang terkumpul cukup untuk mengganti kerugian kalung dan anting Hana. meski dengan keadaan tidak rela namun Dodo tetap menyerahkan uang itu. Di dalam hatinya mengumpat untuk mengobati rasa kecewa, dia menegaskan bahwa uang yang dikasih itu adalah uang pembuang sial.


Seusai uang diserahkan, akhirnya urusan Eman dan keluarga Hana pun selesai. tapi urusan keamanan dan ketertiban warga Kampung Sukamaju tidak selesai sampai di situ. soalnya, walaupun pelaku kejahatan sudah tertangkap, masih banyak berita dan laporan bahwa hampir setiap malam warga Kampung Sukamaju Ada yang kehilangan. Ada yang kehilangan hewan ternak, Ada yang kehilangan ikan di kolam, ada juga yang kehilangan uang di kamar, bahkan sampai ada yang mengalami rumahnya dibongkar, banyak benda berharga seperti perhiasan yang hilang. membuat pak Kulisi yang dijadikan tempat pengaduan merasa bingung, soalnya dia harus menghadapi penjahat yang seperti menghinanya.


"Waduh....! harus bagaimana ini? sudah selesai masalah si Hana sekarang urusan-urusan yang lain datang tak terbendung. kalau kejadiannya seperti ini pasti ada orang yang lebih jahat daripada Si Eman," begitulah gumam hati Pak Kulisi, hati yang terasa panas. soalnya dia merasa dihina seperti ada yang membakar amarahnya. rasa jengkel, rasa kesal dikumpulkan ke satu tujuan, yaitu penjahat yang selalu mengintai ketentraman warga kampung sukamaju.

__ADS_1


Dari dasar dan kejadian yang terus menimpa warga Kampung Sukamaju, akhirnya pak Kulisi memutuskan untuk mengajak musyawarah besar bersama warganya, yang isinya dia menghimbau dan mengajak untuk sama-sama menjaga ketentraman dan kenyamanan kampung.


Setelah tiba dengan waktu yang ditetapkan, semua warga Kampung Sukamaju mereka berbondong-bondong mendatangi kantor Desa, untuk ikut bermusyawarah sesuai dengan undangan Pak Kulisi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ujar pak Kulisi yang berdiri, agar warganya bisa melihat dengan jelas Siapa orang yang berbicara.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab warga Kampung Sukamaju dengan serempak.


"Para saudara sekalian, warga Kampung Sukamaju yang saya hormati dan semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. dalam kesempatan kali ini, saya tidak perlu berbicara panjang lebar karena kita semuanya sudah mengetahui bahwa Kampung kita sedang tidak baik-baik saja. karena banyak maling yang mengganggu ketentraman kampung kita, Saya yakin para warga sekalian lebih tahu dengan berita yang sedang gempar di tengah-tengah kita, apalagi warga-warga yang sudah pernah merasa menjadi korban. untuk menjaga keamanan dan kenyamanan kampung, kita jangan terlalu mengandalkan petugas, soalnya tidak akan terpantau semuanya, karena kampung Sukamaju lumayan sangat besar. maka dari itu, ronda mau tidak mau harus diadakan lagi. ketua RT, harus memantau setiap malam mengontrol ke setiap Pos, takut ada orang yang tidak meronda. yang harus kita ingat, Kampung kita tidak akan ada yang menjaga kecuali kita sendiri yang menjaganya. untuk menciptakan warga kampung yang hidup tentram dan nyaman, maka kita wajib ikut andil dalam mewujudkan keinginan itu, yaitu dengan menjalankan, melaksanakan tugas ronda. segitu saja yang bisa saya sampaikan, akhirul kalam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Malam hari, benar apa yang diucapkan dan dijanjikan oleh para warga, karena setiap pos ronda terlihat ramai banyak orang yang berjaga sampai semalam suntuk. mereka dengan sadar dan sabar menjaga keamanan kampungnya, ada yang menjaga pos, ada juga yang berkeliling memantau situasi dan kondisi keamanan Kampung Sukamaju. suara pentungan yang dipukul terdengar Ratok saling menyahuti, sehingga suasana perkampungan terasa sangat ramai, bercampur aduk dengan suara jangkrik yang terus bersuara tidak mau diam.


trong! trong! trong!

__ADS_1


Tong! tong! tong!


Bangun! bangun! bangun!


Suara pentungan yang dipukul dan teriakan-teriakan mengingatkan para warga agar tidak terlalu nyenyak ketika tidur, di sahuti oleh orang yang berada di rumah yang kebetulan bukan tugasnya untuk meronda. membuat suasana malam pun terasa hangat, tidak semenakutkan seperti malam-malam sebelumnya.


Dari semenjak kegiatan ronda mulai digebyarkan kembali, tidak ada berita atau laporan Orang kehilangan. karena setiap maling yang mau masuk mereka sangat kesusahan, Mereka takut diperegoki oleh ronda yang sedang berjaga. dalam kurun waktu seminggu, Kampung Sukamaju terasa aman tidak ada kejahatan yang terjadi.


****


Di tempat lain, tepatnya di pasir Koja. satu bukit yang tidak jauh dari kampung Sukamaju. ketika itu suasananya menunjukkan waktu sore, karena matahari sudah berada di atas ubun-ubun gunung, Mungkin sebentar lagi akan turun bersembunyi di baliknya. suara grapung atau tonggeret terdengar begitu merdu, di sahuti dengan burung-burung yang berkicau yang loncat-loncat seperti sedang mencari penginapan. terlihat ada dua orang yang sedang duduk di akar pohon mahoni, kedua orang itu tak lain dan tak bukan itu adalah Hadi dan Warsa, yang masih betah tinggal di hutan untuk bersembunyi menyelamatkan diri dari aksi kejahatan yang mereka kerjakan.


"Hadi Bagaimana dengan kita?"


"Bagaimana apanya Warsa?" tanya Hadi sambil melirik dengan sudut mata.

__ADS_1


"Yah usaha kita! sudah datang lagi gangguan yang baru. karena sudah hampir seminggu kita tidak bisa masuk ke dalam kampung, karena banyak ronda yang berjaga. memang Sial bener nasib kita," adu Warsa kepada sahabatnya.


"Ah, kenapa kamu susah susah amat Sa! Biarkan saja, nanti juga mereka bosan meronda. yang terpenting kita jangan sampai lengah memantau situasi dan kondisi. Agar ketika orang lain lengah, maka kita harus pandai memanfaatkannya."


__ADS_2