
"Semut rangrang kita masukkan ke dalam batok, kemudian kita ikat tempelkan ke pusarnya si koplok, supaya semut itu memakan perut si koplok Eman sampai ke ususnya."
"Terus bagaimana?"
"Rambut yang ada di kepala, kita gunduli menggunakan golok, terus kita kasih gula agar dikerumuni semut." ujar Hadi menambahkan pendapatnya.
"Tapi kan, gulanya tidak ada."
"Eh, iya benar ya...! hehehe. Ya gimana aja lah, Yang penting dia tersiksa, yang diakhiri dengan kematian."
Begitulah rencana Hadi dan Warsa yang terdengar jelas oleh telinga Eman, membuatnya merasa takut, bulu kuduknya saja sampai berdiri. Eman terlihat menggelinjang ingin melepaskan diri dan kabur dari tempat itu, namun tangannya diikat mulutnya tidak bisa berbicara, karena masih dipenuhi oleh dedaunan.
Bray! bray!
Keadaan alam semakin terang, hingga akhirnya sampai ke tepian malam, menginjak ke pintu siang. burung-burung terdengar berkicau saling menyahuti dengan burung-burung yang lainnya, seperti yang sedang berbahagia karena mereka bisa melihat kembali sang surya yang sebentar lagi akan keluar.
Air embun tertahan di ujung daun, terlihat sangat mengkilap ketika tersinari oleh sinar mentari pagi, bak mutiara yang menggantung. kalau daunnya tergoyangkan oleh loncatan burung, air embun itu terjatuh mengkilap sangat lucu.
Wajah Eman semakin lama semakin terlihat jelas, wajah itu terlihat pucat Pasih, di dalam jiwanya sudah dipenuhi oleh ketakutan. sedangkan Hadi dan Warsa wajahnya terlihat masih lebam, soalnya tadi malam dia habis dipukuli oleh warga Kampung Sukamaju, sekarang mereka mau membalaskannya terhadap Eman.
__ADS_1
"Hei Eman...! kamu adalah orang yang membuat kami celaka. bahkan sampai harus kehilangan nyawa, Kalau kami tidak ada keberuntungan. sekarang kau terima pembalasan kami, karena umur kamu hanya sampai hari ini. silakan kamu sebut nama orang tua kamu, Dan cepat baca doa Mampus. Biar nanti kamu tidak menyesal di kemudian hari," ujar hadi sambil menarik dedaunan yang menutup mulut Eman. membuat Eman bisa menarik nafas lega, matanya terlihat menatap tajam, mengisyaratkan mata yang sangat beringas, dipenuhi rasa kesal terhadap Hadi dan Warsa.
"Hai manusia kurang didikan. temannya setan, sahabatnya iblis...! Kalian tidak ada sedikitpun rasa kemanusiaan, kayaknya kalian sangat senang ketika menyiksaku. Dasar setan alas....! kurang ajar...! kurang didikan....! kurang kerjaan....! dan...! dan....! Dan Kurang apalagi ya?" ujar Eman sambil mengatur nafas, dia ingin memarahi musuhnya namun dia kehabisan pembicaraan.
"Hahaha....! silakan kamu ngebacot sampai kenyang, ngebual sampai berbusa. karena kalau sudah terbujur kaku, Kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa, paling kamu di kerumuni lalat kebo, dipatuk oleh burung gagak, diacak-acak oleh serigala. hahaha....!" sahut Hadi sambil mencebi.
"Silakan kamu berbicara sampai puas, sampai lidahmu tidak bisa bergerak lagi....!" tambah Warsa yang menyambung perkataan sahabatnya. kemudian dia pun bangkit mendekat ke arah Eman, dengan iseng dia menarik kumis tipis milik Eman, membuat tahanan mereka mengkreyep menahan rasa Pedih.
"Aduh....! dasar gil4.....! Kenapa kamu menarik kumis ku. Dasar kurang ajar....! Dasar setan....! dan dasar sebagainya...!" bentak Eman yang terlihat mengiba, dari sudut matanya keluar cairan bening, karena ditarik kumis rasanya bukan main, bahkan sampai terasa ke ulu hati.
Melihat tawanannya kesakitan membuat kedua orang yang menawannya tertawa terbahak-bahak, merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan. bahkan tertawa itu tidak berhenti seolah sedang memanasi hati Eman yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah puas tertawa, Hadi mengambil kepala golok yang berada di pinggang Eman, membuat hati Eman merasa miris, ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan oleh kedua manusia Durjana itu. Eman sangat takut kalau golok itu digunakan untuk memotong lehernya.
Eman menarik nafas, seperti orang yang hendak berteriak meminta tolong. namun Warsa dengan cepat menutup mulut Eman dengan menggunakan batu sebesar kepalan tangan, sedangkan Hadi berdiri di hadapannya kemudian dia melebarkan kaki Eman.
"Hahaha.....! kita sunatin lagi si koplok ini, Warsa!" ujar hadi sambil memainkan golok, membuat Eman semakin ketakutan, pantatnya terasa berkedut, hatinya terasa berdebar, detak jantungnya terasa begitu cepat, wajahnya semakin pucat pasih.
Eman tidak berbicara, dia hanya mengatur nafas yang memburu, hatinya terus memanggil-manggil nama kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bret! bret! Bret!
Bajunya disobek menggunakan golok, membuat Eman semakin putus asa, dia tidak berharap lagi untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Hahaha...! sampai pucat pasih begitu, koplok...! sebentar Jangan disunatin sekarang, nanti saja setelah kita menggunduli kepalanya." ujar hadi sambil menempelkan golok ke dahi Eman.
Trok!
Golok itu di ketrokan secara perlahan, membuat Eman semakin merapatkan pejaman mata, rasanya golok itu sudah menghantam kepalanya sampai pecah. Eman merasa takut karena golok yang dipakai oleh Hadi adalah goloknya yang baru saja diasah Untuk menumpas maling. tapi seperti ada yang menghalangi, Hadi dia tidak tega kalau harus sampai membedah, mengeluarkan darah. dia dengan penuh semangat mulai mengerok rambut Eman, menggunakan goloknya. di gunduli sampai rambutnya Habis tak tersisa.
Melihat kelakuan orang yang menawannya hanya menggunduli, membuat hati Eman terasa sedikit lega, karena kalau hanya digunduli tidak akan sampai Kehilangan nyawa.
Setelah menggunduli kepala Eman, Hadi berpamitan untuk kencing terlebih dahulu, sehingga golok pun dijatuhkan. namun Warsa dengan cepat mengambil golok itu lalu ditempelkan ke arah tenggorokan Eman, membuat mata Eman membulat dengan sempurna, karena dia merasakan ketakutan yang tidak terbatas, dia tidak bisa berbicara, Dia hanya bisa mengatur nafas yang memburu, karena merasa capek dan ketakutan.
"Hahaha, kamu takut ya, kalau kamu mampus Eman?" tanya Warsa.
Namun orang yang ditanya tidak menjawab, tubuhnya menggigil ketakutan, jantungnya semakin berdegup, wajahnya semakin pucat pasih, bak mayat yang sudah tak bernyawa.
Tapi entah mengapa Warsa juga tidak tega kalau harus menggorok leher Eman. Hingga dia pun menarik golok yang menempel di tenggorokan tawanannya, lalu tertawa terbahak-bahak merasa puas melihat ketakutan musuh bebuyutannya. WArsa pun berdiri kemudian dia menendang iga sebelah samping kanan, membuat Eman terlihat meringis menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Warsa....! kita jangan mengotori tangan kita dengan menggorok leher si koplok ini. kita cukup mengikatnya ke pohon cangkring, karena tidak akan ada orang yang menolongnya. tuh lihat di bawah ada lubang ular pyton, kalau sore ular itu akan keluar untuk mencari makanan. Siapa tahu saja si Eman akan menjadi makanannya. Kalau sudah jadi makanan ular pasti si koplok ini akan bersembunyi di dalam perutnya. setuju apa enggak kamu Warsa?" ujar Hadi mulai menjelaskan rencananya, tidak sesuai dengan rencana awal karena mencari batok kelapa di tengah hutan seperti itu sangat susah.