BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
Bab 17. Eman ditahan


__ADS_3

Tak lama diantaranya, akhirnya Hana pun datang kemudian dia masuk ke ruang tamu. matanya menangkap Eman yang tidak mengenakan bajuĀ  tiba-tiba saja hatinya terasa panas, sehingga dia tidak bisa menggunakan akal sehat, karena dia sedang tidak enak Pikiran.


"Pak isi....! nih ini maling yang merebut kalung dan anting saya. Dasar kurang ajar....! sudah bodoh, koplok lagi. tidak sangka ternyata murid pak ustad itu menjadi maling?" bentak Hana yang tiba-tiba berucap seperti itu, pemikiran yang sedang kalut setelah harta Bendanya hilang dicuri oleh Hadi dan Warsa.


"Sebentar sebentar Nyai...! jangan tergesa-gesa menyimpulkan, apalagi harus sampai berbicara sekasar itu. kita selidiki terlebih dahulu siapa biang keladi sebenarnya. Sekarang jawab pertanyaan Mamang, Apakah tadi Nyai melihat langsung maling yang mengambil perhiasan Nyai?" Tengah Pak polisi agar Hana tidak cepat menyimpulkan dan menuduh bahwa Emanlah yang melakukan kejahatan.


"Nggak ada yang terlihat Pak Isi, soalnya mata saya langsung ditutup, bahkan nafas pun terasa sesak, karena leher saya di cekik." jawab Hana menjelaskan kejadian yang menimpanya.


"Tapi, tadi Nyai bilang ketika sedang dicuri ada suara orang yang mau menolong. kira-kira Nyai hafal atau tidak dengan suara itu, Coba tolong jelaskan Siapa orangnya!"


"Tidak, saya tidak hafal Pak ici! karena pikiran saya sedang kalut, yang Saya hafal hanya baju yang dipakai menggunakan penutup wajah saya."


"Kira-kira baju siapa?"


"Bagaimana pak isi?"


"Kira-kira baju siapa yang dipakai menutup wajah Nyai?"


"Kayaknya baju si Eman Pak Ici! apalagi sekarang sudah ada buktinya, dia tidak mengenakan baju seperti itu. tidak akan salah lagi bahwa dialah maling sial4n itu. dan si bodoh inilah yang mengambil kalung dan anting saya,"


"Sebentar, sebentar dulu...! tadi Nyai bilang kalau orang yang merebut kalung dan anting tidak melakukannya sendirian, melainkan dibantu oleh orang lain. kira-kira Ada berapa orang yang melakukan pencurian itu?"

__ADS_1


"Eeeeeuu, eemmmm, nggak tahu pak isi," jawab Hana yang sedikit tergagap.


Mendengar pengakuan korban, pak Kulisi pun terdiam, kembali menerka-nerka kejadian yang sebenarnya terjadi. namun itu tidak lama, dengan cepat dia pun membuka bungkusan koran yang di dalamnya ada sebuah baju, kemudian dia membuka baju itu dengan lebar lalu melirik ke arah Eman.


"Ujang...!" Panggil Pak Kulisi.


"Saya Pak...!" jawab Eman sambil manggut.


"Apa Kamu hafal dengan baju ini?"


"Sangat hafal Pak, karena itu adalah baju saya."


"Syukur kalau Jang Eman mengakui. kalau baju ini adalah baju Jang Eman. nah, ini akan memudahkan pemeriksaan, tidak akan berbelit lagi. karena satu-satunya yang bisa dijadikan barang bukti hanyalah baju ini. Coba sekarang bapak minta jawaban yang pasti, yang jujur jangan dicampur dengan kebohongan. apa Ujang merasa kalau merebut kalung Nyai Hana?" tanya Pak Polisi dengan pelan namun terdengar tegas.


"Apakah Ujang bisa membuktikan, kalau Ujang benar-benar tidak bersalah?"


"Bisa, bisa, bisa!" jawab Eman yang terlihat ragu-ragu, karena dia merasa bingung kalau dihujani dengan pertanyaan yang begitu banyak. ketika menjawab Dia tidak memiliki ketenangan, dari Kejadian seperti ini bisa memberatkan Eman, karena dia adalah saksi kunci satu-satunya. padahal Eman Memang begitulah keadaannya, Dia tidak memiliki pemikiran sempurna seperti orang lain.


"Coba Bagaimana cara membuktikannya?"


"Intinya, saya tidak merasa mencuri perhiasan Ceu Hana, karena yang mengambil kalung itu si Warsa, sedangkan si Hadi yang memeganginya. saya hanya ingin menolong, namun saya tidak bisa, tidak berhasil." sanggah Eman seperti kehabisan pembicaraan.

__ADS_1


"Huh....! Jangan dipercaya Pak isi, mana ada maling yang ngaku. biasanya pencuri itu pandai berbohong, kalau mereka jujur penjara pasti akan penuh. sudah jangan banyak pikiran lagi tangkap saja Si Eman. masukkan langsung ke penjara Pak isi..! jangan mencari hantu yang tidak terlihat, karena malingnya sudah berada di hadapan bapak." kompor Hana mulai dinyalakan, terdengar kereketan giginya yang dikencangkan. dia sudah sangat benci terhadap Eman, sehingga dengan mudah dia menuduh orang yang tak bersalah.


"Sabar, sabar Nyai! Tenangkan hati, jernihkan pikiran. karena pemeriksaan itu harus matang, tidak bisa menyimpulkan dengan cepat," sanggah pak polisi yang tidak setuju.


"Halah...! mau menuduh siapa lagi, karena tidak ada orang yang lain selain Si Eman. bukti sudah ada, bahkan Si Eman, si bodoh, si koplok ini sudah mengakuinya. sudah jangan ragu-ragu tolong tangkap maling sial4n ini..! hei Eman, kembalikan kalungku jangan kau miliki benda orang lain. Dasar bodoh, dasar koplok....!"


"Saya tidak pernah mengambil perhiasan Eceu, Saya tidak merasa mengambil."


"Halah...! jangan banyak alasan kamu koplok...! katanya kamu bodoh tapi ternyata kamu sangat pintar kalau dalam masalah Mencari Alasan." ujar Hana yang tetap Kukuh dengan pendiriannya menuduh Eman yang semakin terdesak kalah berbicara. karena Eman tidak pandai untuk melakukan bersilat lidah untuk membela diri.


Sama seperti Hana, Sebenarnya Pak Kulisi juga tidak bisa menuduh orang lain. Namun pak polisi belum menekan sama Eman, masih menggunakan akal sehat, takut-takut masih ada orang yang lain yang melakukan kejahatan. karena Hana juga sudah menyebutkan bahwa yang mencuri perhiasannya bukan seorang diri.


"Sudah, sudah, sekarang begini saja Nyai Hana. sekarang pulang dulu ke rumah, biarkan urusan ini akan saya telusuri terlebih dahulu dengan teliti. namun buat Jang Eman maaf kalau Ujang belum bisa pulang, Ujang ditahan dulu di sini sebelum pencuri sebenarnya bisa tertangkap." ujar pak polisi memberi keputusan sambil menatap ke arah Eman.


"Baik pak isi, tapi awas...! kalung dan anting Saya harus kembali lagi!" ancam Hana sambil cemberut, sudut matanya mendelik ke arah Eman, kebetulan Eman pun sedang menatap ke arahnya, membuat tatapan mereka beradu. dengan cepat Hana pun menaikkan ancamannya dengan membulatkan mata seperti hendak menelan bulat-bulat orang yang sedang duduk di hadapannya. membuat Eman hanya bisa menundukkan pandangan, sambil menarik nafas pelan. di dalam hatinya, Eman merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.


Keputusannya hari itu, Eman ditahan terlebih dahulu di rumah pak Kulisi desa, dijadikan jaminan dari Kejahatan yang tidak pernah ia lakukan.


~


sore hari pak Kulisi memanggil Mang Dodo untuk menghadap ke rumahnya. dengan segera Ayah Eman pun menemui untuk menghadap keamanan desa, hatinya merasa tidak tenang Karena dia sudah mendengar bahwa anaknya sedang ditahan di rumah Pak Kulisi.

__ADS_1


"Ada apa nih pak isi?" tanya Dodo Setelah dia berada di rumah pak Kulisi, hatinya tidak tenang, jantungnya terasa berdegup dengan kencang.


__ADS_2