
Apa nggak sebaiknya kita berpindah saja?" ujar Warsa memberikan saran, karena dia sudah merasa tidak ada kesempatan Ketika Harus mencuri kembali di kampung Sukamaju. soalnya sekarang semua warga kampung terlihat bergotong-royong, merapatkan barisan menjaga keamanan Kampung mereka.
"Pindah itu, pindah Bagaimana Warsa?" tanya Hadi.
"Seperti yang sudah kita rencanakan dulu, Kita pindah usaha ke kota, agar kita bisa leluasa dan tidak akan mudah ditemukan. karena kalau kita terus bekerja di kampung, itu akan sangat sulit, soalnya lapaknya sangat sedikit sesuai dengan hasilnya, apalagi sekarang sudah tidak aman."
"Belum waktunya...," ujar Hadi dengan pelan.
"Apa?"
"Belum waktunya! mending kita habiskan dulu di sini, karena di kampung Sukamaju saja belum semua orang kita garap. sekarang sabar saja dulu, halangan rintangan seperti itu sangat wajar. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin," jawab Hadi menjelaskan.
"Caranya bagaimana?"
"Kalau kamu penasaran, kita masih bisa hidup dari kampung Sukamaju. nanti malam kita buktikan masuk ke dalam kampung!"
"Rumah siapa yang akan kita garap?" Tanya Warsa yang terlihat antusias.
"Rumahnya si tua bangka yang berada di pinggir jalan, agar memudahkan kabur, ketika kita ketahuan. tapi dalam melakukan pekerjaan, kita tidak boleh setengah-setengah, kita harus membulatkan tekad, agar hasilnya memuaskan."
__ADS_1
"Wah, itu ide bagus, siap lah...!"
Cahaya Lembayung senja sudah mulai padam, lalat dan nyamuk sudah mulai menyerang Hadi dan Warsa. suara gerapung sudah tidak terdengar lagi, Yang ada hanya suara jangkrik dan belalang ditambah dengan suara-suara hewan kecil yang biasa bersuara ketika malam hari. terlihat dari arah atas kalong-kalong berterbangan, kelelawar kelelawar pun tak kalah menunjukkan eksistensi sebagai hewan malam. mereka berterbangan sambil menangkap lalat-lalat yang keluar malam hari. sayap malam mulai direnggangkan menyelimuti Buana Panca Tengah, mengiringi orang-orang yang akan tidur lelap.
Dalam keadaan waktu semenakutkan itu, Hadi dan Warsa pun bangkit dari tempat duduknya, bersiap-siap mau melakukan aksinya di kampung Sukamaju.
Ketika Lembayung senja padam dengan sempurna, kedua orang itu turun menuruni bukit pasir Koja, menyela-nyela rerumputan yang menghalangi jalan. ujung daun tebu timbarau menggaris kedua pipi mereka, duri duri yang menempel di tangkai, menempel ke baju Hadi dan Warsa, kadang ada yang menembus sampai kulit, rasanya terasa sangat gatal dan perih, namun itu Bukan Halangan yang berarti buat orang-orang yang sudah dibutakan mata dan pikirannya.
Sebelum azan berkumandang, Hadi dan Warsa sudah sampai di pinggir kampung. Mereka pun berhenti di bawah pohon jengkol yang terlihat sangat sunyi, karena tidak jauh dari tempat itu ada rumpun bambu, ditambah dengan rumpun pisang yang daunnya sudah mulai mekar.
Anjing tanah suaranya terdengar begitu nyaring, ditimpali oleh suara jangkrik. Kang keng kong suara kodok yang terdengar dari arah sawah, dibecking dengan suara katak. dari arah dalam Kampung terdengar sesekali ada orang yang batuk, ditimpali dengan suara anak bayi yang sedang menangis. gonggongan anjing pun terdengar, mungkin menggonggong orang-orang yang lewat.
"Yang harus pertama kita kerjakan adalah mencongkel jendela. kamu harus memantau situasi takut ada ronda yang lewat. kalau ada ronda kamu harus memberikan isyarat dengan menirukan suara burung hantu. kalau keadaan sudah aman, kamu harus ikut masuk ke dalam, agar kita bisa membawa barang yang lebih banyak. Nah, begitu saja rencana kita Sa!" jawab Hadi mengatur siasat.
"Cerdas...! Ya sudah ayo, Jangan membuang waktu!"
"Nanti saja, sabar dulu. kita tunggu waktu agak malam sedikit, karena jam segini yang punya rumah pasti belum tidur."
"Oh iya, benar juga ya. hehehe," ujar Warsa sambil mengulum senyum, tangannya menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
__ADS_1
Hewan-hewan malam terus bersuara tanpa henti, semilir angin kecil menerpa wajah rasanya sangat dingin seperti mencuci muka dengan air es. keadaan langit yang terlihat mendung, seperti mau turun hujan, tidak ada bintang yang terlihat. tidak lama diantaranya terdengar suara bedug Isya yang dipukul dari arah mushola, diikuti dengan suara yang azan, Suaranya sangat menusuk hati membangunkan jiwa-jiwa yang sedang melamun. orang-orang yang hatinya sudah sadar menerima keputusan yang ditentukan oleh sang pencipta, ditambah dengan ketaatan yang sudah tercipta di dalam dada. mereka dengan tergesa-gesa menuju ke air untuk mengambil air wudhu, hingga akhirnya mereka pun berlarian menuju ke arah Masjid mengikuti salat berjamaah.
Tapi bagi orang yang hatinya sangat keras, mengalahkan kerasnya batu. mendengar suara Adzan berkumandang hanya terdengar suaranya saja, tidak bisa menerima artinya yang begitu luar biasa. tidak pernah dipikirkan maksud dan tujuannya. apalagi yang mendengar sekelas Hadi dan Warsa, mendengar suara adzan mereka hanya tersenyum merasa bahagia, karena menurut pemikiran mereka waktu itu sudah menunjukkan malam, Sebentar lagi orang-orang yang berada di rumah akan terlelap dalam tidurnya.
"Sebentar lagi Warsa!"
"Iya benar, karena kebiasaan warga kampung setelah lewat waktu Isya mereka akan tidur. Tapi kita harus tetap bersabar, jangan tergesa-gesa! kita tunggu dulu sampai mereka tidur terlelap."
"Ya iyalah..! Emangnya aku sebodoh kamu."
Akhirnya tempat persembunyian kedua maling itu Menjadi sepi kembali, hanya dengusan nafas yang terdengar. sedangkan di rumah yang sedang mereka incar, terlihat ada dua orang yang sedang mengobrol di tengah rumah, mengobrolkan kehidupan sehari-hari, mengenai kebutuhan yang tidak ada hentinya. suami istri itu terlihat saling sahut menyahuti, memberikan masukan dan pendapat yang menurut mereka benar. namun ketika terdengar suara bedug dari arah mushola, terlihat suaminya Sudah beberapa kali menguap.
"Kenapa ya, Kok malam ini rasanya sangat ngantuk, seperti ada santet yang dikirimkan ke rumah kita?" ujar sang suami sambil mengusap wajahnya, badannya terasa sangat lemas seperti tidak memiliki kekuatan.
"Iya, benar...! saya juga merasakan hal yang sama. saya sangat ngantuk, mata juga sampai susah digerakkan. kira-kira ada pertanda apa ya, soalnya perasaan kita sangat berbeda, tak seperti biasanya? terus kenapa suara belalang hijau terdengar begitu nyaring dari arah samping rumah," jawab sang istri sambil melirik ke arah jendela, Bahkan kemudian dia bangkit mendekat ke arah jendela, agar lebih yakin bahwa jendelanya sudah terkunci dengan aman.
"Sekalian cek lagi semuanya. kita tidur...! Bapak sudah ngantuk nih, huaaaaah!" seru sang suami sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke kamar langsung menjatuhkan tubuh di atas kasur. tak lama diantaranya terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari bibir.
Sedangkan istrinya, Dia memindahkan lampu Damar ke lentera, karena ketika tidur tidak butuh penerangan lebih. sehingga Lentera lah pilihan yang paling tepat untuk menerangi Tengah rumahnya. setelah semuanya dirasa rapi dan dirasa aman, istrinya pun masuk ke dalam kamar lalu berbaring di samping suaminya yang sudah mendengkur. tak lama kemudian, suara dengkuran pun saling sahut menyahuti, ternyata benar-benar mereka sangat ngantuk. sehingga sebentar saja udah berpindah alam dari alam nyata ke alam impian, seperti orang yang terkena ilmu sirep, karena biasanya mereka tidak tidur sesiang itu, paling siang mungkin pukul 09.00 malam.
__ADS_1