
"Iya bapak, saya sangat mengerti dengan kondisi saya. terus saya harus bagaimana? Karena saya tetap ingin hidup sama seperti orang lain, ingin hidup cerdas selayaknya manusia, ingin memiliki keterampilan yang serba bisa, tapi."
"Sudah...! sudah! sudah! jangan terlalu banyak dipikirkan, kamu harus tetap bersabar menerima dengan semua kenyataan yang menimpamu. sekarang kamu tinggal di sini, bantu Bapak sebisa kamu, semampu kamu. jangan keluyuran ke mana-mana, karena Bapak takut kalau kamu ada yang menipu lagi, ada yang menyiksa kamu lagi. karena sekarang kamu sudah punya musuh yaitu Hadi dan Warsa."
"Saya tidak merasa mempunyai musuh bapak, cuman merekanya saja yang jahat sama saya," sanggah Eman tidak setuju dengan pembicaraan orang tuanya.
"Lah....! dasar kamu Eman, masa kamu nggak ngerti, si Hadi itu sangat dendam sama kamu!" jawab Dodo menjelaskan.
"Sebab?"
"Sebab dari Semenjak mereka menipu domba kita, mereka terus diburu oleh pihak yang berwajib, layaknya buronan pada umumnya. Nah, dari dasar itu sekarang mereka tidak berani menginjakkan kaki di kampung kita, karena orang tuanya saja sudah tidak peduli. dari kejadian yang menimpa mereka, pasti si Hadi dan si Warsa mereka sangat marah sama kamu, soalnya kamu sudah dianggap berkhianat melaporkan kejahatan mereka ke pihak yang berwajib. padahal yang lapor bukan kamu, melainkan bapak." ujar Dodo menjelaskan dengan rinci kepada anaknya, karena sekarang Eman sudah memiliki orang yang mengincarnya. pasti suatu saat hadi dan Warsa akan melampiaskan kekesalannya terhadap Eman.
__ADS_1
Mendengar penjelasan orang tuanya, Eman terlihat terdiam seperti berpikir. namun Sebenarnya dia tidak mengerti karena menurut anggapannya dirinya sendirilah yang memusuhi Hadi dan Warsa, soalnya kedua orang itu sudah menipu 2 kambing dan merebut nasi milik Pak Ustad.
"Ujang, kamu jangan sampai keluyuran yang jauh. apalagi kalau malam hari, Kamu harus lebih berhati-hati!" Timpal Rani yang sejak dari tadi memperhatikan.
"Baik Mak....!" jawab Eman singkat.
Begitulah pembicaraan Eman dan kedua orang tuanya. Inti dari pembicaraan itu, Eman diajarkan oleh ibu dan bapaknya agar selamat dari gangguan Hadi dan Warsa. sedangkan di luar terdengar suara ayam yang berkokok di sahuti suara kambing dari arah kandang. kadang juga terdengar suara dengusan kerbau milik tetangganya.
Sehari, dua hari berlalu. Eman Dia sangat patuh menuruti apa yang disampaikan oleh orang tuanya yang menyuruh Eman untuk tinggal di rumah, tapi lama-kelamaan Eman pun merasa bosan, tidak betah lama berdiam diri di rumah. hingga akhirnya dia pun suka main kalau sudah siang untuk mengusir rasa jenuh ketika harus terus berdiam diri di rumah. ke kebun, ke sawah, pulangnya dia suka membawa kayu bakar dan apapun yang dianggapnya bisa bermanfaat.
Sama bapaknya, Mang Dodo. Eman tidak terlalu digubris, tidak pernah disuruh bekerja ataupun disuruh berbuat yang lainnya, sehingga Eman dibiarkan begitu saja, semaunya, sekeinginannya. membuat Eman semakin merasa bahwa dirinya sangat tidak berguna, walau menjadi manusia. Dia terlihat sering melamun, memikirkan nasib yang begitu memilukan, hatinya semakin tidak tenang, dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran. Eman merasa menjadi orang paling sial di dunia ini.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana? kalau sudah begini. orang tua sudah tidak menganggap dengan tenagaku, cuma disuruh mengambil air atau membersihkan rumah, mereka seperti ketakutan kalau menyuruh hal-hal yang lebih besar. Apa mungkin mereka takut kalau aku membuat kesalahan, hingga menimbulkan kerugian yang banyak terhadap mereka. orang tua saja sudah seperti itu, apalagi orang lain, mungkin tidak akan melihat meski hanya dengan sudut mata. Aku harus bagaimana sekarang..?" begitulah gumam hati Eman ketika satu hari Dia terlihat duduk sambil menekuk dengkul, punggungnya disandarkan ke pohon jengkol, matanya menatap ke arah lembah, memperhatikan teman sebayanya yang sedang bekerja di kolam Pak Haji.
Eman merasa malu, dia merasa menjadi orang yang tidak memiliki arti di dalam hidupnya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk berdiri, tidak mau melihat orang yang sedang bekerja. Eman terus berjalan sambil menundukkan pandangan, rasa percaya terhadap dirinya sudah semakin sedikit. hatinya terus berpikir, merasa bingung harus bagaimana keluar dari masalah yang sedang menimpanya.
Eman terus berjalan tanpa arah tujuan, hingga tak terasa dia pun tiba di salah satu Bukit. dia pun berhenti kemudian duduk di akar pohon petai, punggungnya disandarkan kembali ke pohon, matanya menatap ke arah Lembah. terlihatlah sawah yang terhampar seluas mata memandang, dihiasi dengan saung-saung sebagai pembeda, dibelah oleh jalan yang menuju ke semua arah, Sungai yang panjang seperti ular yang sedang mencari mangsa, airnya mengalir ke arah Hilir. burung-burung terdengar berkicau sambil loncat-loncat ditemani oleh burung-burung lainnya. Ilir angin kecil menerpa dedaunan menimbulkan suara kemerosok, seperti sedang mengasuh burung-burung yang terlihat sangat bergembira.
Teng!
Lamunan Eman mulai melayang menuju semua penjuru arah melalui pikirannya. karena keinginannya sama seperti orang lain, begitu juga dengan cita-citanya yang tak kalah dengan orang-orang yang cerdas. Eman bukan orang yang kurang waras, bukan orang yang tidak memiliki akal, namun dia hanya bodoh, otaknya tidak bisa digunakan seperti lem yang tidak bisa dicairkan.
Tapi di dalam alam Lamunan, di dalam alam khayalan. keinginannya pengen begini pengen begitu, ingin membahagiakan orang tua, ingin membalas kebaikan ibu dan bapaknya. ajaran dan nasihat yang di berikan oleh pak ustad, ada sedikit yang menempel. bahwa seorang anak harus menghormati gurunya, berbakti terhadap ibu dan bapaknya, membalas semua kebaikan orang tua yang sudah merawatnya, ditambah beribadah sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1
"Kalau aku bisa berusaha seperti orang lain dan memiliki rezeki yang banyak. Domba bapak yang dua akan diganti menjadi 4, ikan pak ustad yang keracunan akan diganti dengan ikan sekolam. Mang sarkowi dan teman-temannya yang merasa dirugikan oleh keteledoranku karena tidak bisa mengantarkan makanan kepada mereka, akan aku ganti setiap orang mendapat satu bakul nasi. tapi kapan aku bisa memiliki rezeki sebanyak itu, bagaimana jalannya ya. bekerja di orang lain tidak mengerti dan tidak dipercaya. menggunakan tenaga tidak punya kekuatan, jualan tidak memiliki modal dan tidak akan ada orang yang mungkin mempercayai membeli produk jualanku. karena aku adalah orang yang bodoh, bodoh..! sengsara, Dasar orang bodoh...!" gumam Eman sambil menundukkan pandangan, tidak terasa air mata pun mengalir membasahi pipi langsung jatuh ke tanah. Eman terlihat menarik nafas dalam, sambil mengangkat kepalanya, berharap air mata yang keluar berhenti ketika dia mendongakkan kepala. tapi ternyata air mata itu tetap keluar mengalir melewati kedua pipinya tersebut.