
Warsa yang melihat kesempatan baik, dengan segera dia pun loncat menuju ke arah jendela kemudian keluar dari rumah. kemudian terdengar suara Deru langka kaki yang menjauh seperti orang yang sedang Melarikan diri. hingga akhirnya kedua maling itu tak terlihat lagi tertelan oleh gelapnya malam.
Tak lama diantaranya orang-orang pun berdatangan menuju ke arah rumah yang baru saja dirampok oleh Hadi dan Warsa. Begitu juga dengan ronda-ronda yang terlihat tak mau kalah. ada warga yang membawa obor ada juga yang membawa senter, sehingga rumah itu terlihat sangat terang benderang.
"Ke mana malingnya?" tanya salah Seorang warga yang baru datang.
"Tuh, lihat jendela ada yang terbuka...!" Jawab salah Seorang warga memberitahu sehingga membuat orang-orang pun mendekat ke arah jendela yang digunakan kedua maling meloloskan diri.
Seorang warga pun mengintip ke arah dalam, terlihatlah ada seorang laki-laki yang sedang terlentang dengan menutup kepala. terlihat darah membasahi jari jemarinya bahkan lantai kayu pun terlihat memerah.
"Ya Allah Kang jaman...! Kang jaman...! ujar salah Seorang warga kemudian tanpa membuang waktu, dia pun naik lalu masuk ke dalam diikuti oleh warga yang lain. kemudian salah satu dari mereka membukakan kunci agar para warga bisa masuk dan menolong orang yang baru saja terkena musibah.
Akhirnya orang yang terluka pun diobati, Begitu juga dengan istrinya yang pingsan. mereka dibaringkan di tengah rumah. beruntung istrinya tidak terluka parah, hanya lebam di area pelipis akibat pukulan yang dilayangkan oleh Hadi.
"Ke mana Pak Kulisi?" tanya Dodo yang terlihat gelagapan.
"Saya di sini mang, ada apa?" jawab seseorang yang terdengar dari arah luar, kemudian dia pun masuk ke dalam rumah. ketika matanya menangkap ada orang yang terbaring dia pun bertanya. "Kenapa bisa begini?"
"Terluka karena ulah maling."
"Ayo kita kejar! kejar.....! kita tangkap sekalian...!" jawab Pak Kulisi sambil mengeratkan gigi. tanpa memperdulikan orang yang sedang terluka, dia pun loncat Kembali keluar kemudian dia belari mengejar maling, sambil terus menyorot-nyorotkan senter
__ADS_1
Maling..! maling! maling..! maling! maling!
Teriak salah seorang warga dari arah selatan yang memberitahu. membuat orang-orang yang sedang mengejar berlari ke arah datangnya suara. suasana kampung Sukamaju Terdengar sangat gempar, karena ada orang yang terluka dihantam senjata tajam oleh maling.
Orang Yang mengejar mereka tidak berhenti, Namun sayang mereka kehilangan jejak. para warga kebingungan Kehilangan Arah, hingga akhirnya mereka pun berhenti, mengatur nafas yang terlihat memburu, sambil saling bertanya dengan warga-warga yang lainnya.
Melihat kenyataan yang menyakitkan, kenyataan ketidakmampuan para warga Kampung Sukamaju yang tak bisa mengejar maling. membuat pak Kulisi hanya mengeratkan gigi, mau melampiaskan amarah namun dia bingung harus melampiaskan kepada siapa. sehingga dengan berat hati dia pun membalikkan tubuh menuju ke arah Kampung Sukamaju, diikuti oleh warga-warga yang lainnya.
Tak lama akhirnya mereka pun sampai kembali ke rumah korban, di rumah itu sudah terlihat banyak orang yang menyaksikan warga yang sedang terkena musibah. di dalam rumah penuh dengan orang, bahkan di luar pun tak jauh beda. suara gemuruh orang yang saling bertanya memenuhi sekitar rumah Jaman.
Pak Kulisi dengan cepat dia pun masuk ke dalam, terlihat orang yang tadi terluka sudah kembali sadar. bahkan istrinya pun sudah bisa ditanya karena banyak orang yang menolong. bahkan aki Ridwan pun terlihat giat merawat luka yang ada di dahi Jaman.
"Bagaimana keadaannya aki?" tanya Pak Kulisi
"Malingnya ada berapa?"
"Katanya ada dua orang Jang isi."
"Siapa yang menjadi malingnya, kira-kira hafal atau enggak?" tanya pak Kulisi sambil menatap ke arah istrinya Jaman, matanya terlihat dipenuhi dengan cairan bening.
"Panik Pak Kulisi, saya sangat panik....! Saya tidak mengenali kedua maling itu," jawabnya dengan suara parau.
__ADS_1
"Sayang....! sangat sayang....! ternyata kita masih kalah, padahal sudah ada ronda tapi masih kecolongan. bagaimana pekerjaan kalian, apakah jam segini belum ada yang keluar?" ujar pak polisi seolah menyalahkan ronda yang kebetulan mereka sedang berada di tempat jaman, mereka sangat kaget melihat kejadian yang sangat mengerikan.
"Saya sedang berpatroli ke sebelah barat, yang lain berjaga di pos ronda. karena anggapan kita masih siang, belum terlalu larut malam," jawab salah seorang ronda.
Mendengar keterangan seperti itu, pak polisi hanya menggangguk-anggukan kepala, karena memang begitulah adanya. ronda tidak bisa disalahkan karena memang malingnya saja yang sangat nekat, sangat berani seperti mau menghina para petugas.
Setelah semuanya sudah jelas, akhirnya yang terluka dipindahkan ke kasur, dijaga oleh saudara-saudaranya. sedangkan para petugas ronda Mereka pun keluar untuk menaikkan level kesiagaan, takut kalau maling datang kembali.
Begitu juga dengan pak Kulisi, dia pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. hatinya semakin panas, pikirannya semakin ruwet, kesal, sama maling yang terus-terusan mengganggu dan menghinanya. dia mulai berpikir dan memiliki kecurigaan, bahwa jangan-jangan yang merebut kalung Hana bukanlah Eman. buktinya setelah ditangkap dan setelah ditahan, maling tetap merajalela.
"Tidak salah lagi.... pasti si Hadi dan si Warsa yang menjadi biang keladinya. kurang ajar....! Awas kalau kalian sampai tertangkap, tidak akan dikasih ampun lagi....!" gumam hati pak Kulisi sambil terus mengeratkan gigi melampiaskan amarah yang memenuhi dada.
Malam itu terasa semakin sangat menakutkan, apalagi kalau ditambah dengan suara gonggongan anjing semakin menambah kegetiran, membuat Siapa saja orang akan malas untuk keluar, keinginannya hanya berbaring bersembunyi di balik selimut di kamar. Sedangkan langit tetap mendung tidak ada bintang yang terlihat, jangkrik dan belalang terdengar berbunyi saling menyahuti, kemerosok daun bambu yang tertiup oleh angin malam.
dalam keadaan seperti itu, Hadi dan Warsa mereka sudah sampai di tempat yang sepi, mereka sudah sampai ke tebing bukit. Mereka pun duduk di atas rumput, nafasnya terlihat memburu karena sangat capek setelah berlari menyelamatkan diri, keringat bercucur membasahi seluruh tubuh.
"Haduh....! hampir saja sa....!" ujar Hadi yang terlihat dadanya naik turun.
"Iya benar, hampir saja kita celaka. tapi beruntung kita bisa selamat serta membuahkan hasil, lumayan buat tambah-tambah."
"Kamu dapat apa Warsa?"
__ADS_1
"Gelang satu ditambah uang Rp5.000. Lumayanlah, namun terpaksa kita harus melukai Kang jaman. golokku terlalu galak," jawab Warsa yang terlihat menyesali perbuatannya. karena sedikitpun mereka tidak ada niat untuk melukai, Mereka cuma hanya butuh dengan harta bendanya.
"Sudah...! kamu jangan banyak pikiran, aku yakin kamu bukan disengaja ini kan?"