
"Mau sekarang apa nanti malam Had?" tanya Warsa sambil melirik ke arah Hadi.
"Kalau menunggu sampai malam, itu sangat kelamaan. Takut keburu dipregoki oleh orang lain. mending sekarang aja, kita jangan muluk-muluk ingin mendapatkan rezeki yang besar. Yang terpenting cukup buat makan dua hari saja, itu sudah untung."
"Ya sudah, ayo..! kayaknya jam segini sangat aman, karena warga Kampung Sukamaju sedang berada di hutan atau di kebun atau di sawah. jarang orang yang tinggal di rumah paling hanya orang tua dan anak kecil."
"Iya Ayo! jalannya lewat tepian selokan, nanti Tembusnya ke kolam pak ustad. kita naik ke halaman rumah Mang sufri, kemudian kita berhenti di perempatan, Siapa tahu saja di situ kita menemukan mangsa."
"Ya sudah, ayo!" jawab Warsa.
"Ayo!"
"Eh, ayo kamu duluan!" seru Warsa.
"Kamu yang duluan, aku yang mengikuti dibelakang," jawab Hadi yang tidak mau kalah.
"Iya! Iya!" Ujar Warsa yang terlihat mendengus sesaat namun meski begitu Ia pun tetap menurut.
Kedua orang itu keluar kembali dari Saung, kemudian mereka berjalan mencari tempat-tempat yang sepi, karena merasa takut diperegoki oleh warga. Namun ketika mereka melewati kebun bambu, dari arah jauh terlihat ada seorang wanita yang sedang berjalan. wanita itu terlihat masih muda dengan membawa ember, menenteng bakul. sehingga membuat kedua penjahat itu berhenti bersembunyi di tempat yang dirasa aman. mata mereka terus menatap ke arah wanita yang sedang berjalan. setelah melihat dengan jelas, Hadi terlihat sangat bergembira, kalau tidak takut ketahuan Mungkin dia akan bersorak penuh kegirangan. kemudian dia pun melirik ke arah temannya yang bernama Warsa.
"Warsa! lihat sama kamu lehernya Memakai kalung," ujar Hadi dengan berbisik memberitahu sahabatnya.
__ADS_1
"Iya benar, kalungnya juga terlihat sangat besar. mungkin tidak kurang dari 20 gram, itu sangat lumayan buat modal hidup kita selama satu bulan," jawab Warsa yang terlihat menelan ludah seperti orang yang sedang sangat kelaparan.
"Gimana dong kalau sudah begini? bentar! bentar, kayaknya itu Ceu Hana bukan Sa?" ujar Hadi sambil menyipitkan mata memfokuskan pandangan.
"Jangan bingung dan jangan bodoh Hadi! kita sergap dari belakang, kemudian tutup matanya." jawab Warsa memberikan saran.
"Nanti kalau hanya matanya yang ditutup, dia bisa berteriak."
"Ya ampun, Hadi! Hadi! Kenapa kamu sekarang ketularan Si Eman, bodohnya dimakan sendiri. ya sekalian tutup semua wajahnya, agar tidak bisa melihat dan tidak bisa berteriak!" ujar Warsa yang semakin memelankan suaranya, karena orang yang menjadi incaran sudah semakin dekat.
"Terus bagaimana?"
"Emang bener-bener koplok kamu Hadi, kayak yang baru saja melakukan hal seperti ini. kita bagi tugas, kamu yang menutup wajahnya, nanti biar aku yang mengeksekusi. aku yang akan mengambil kalungnya, kalau kalung itu sudah berpindah tangan, nanti kita Jorokkan ke parit, kemudian kabur dengan cepat, agar si Hana tidak bisa melihat kita. Bagaimana cerdas bukan?" tanya Warsa sambil mendelik.
Emas yang berada di lehernya terlihat berkilau ketika disorot oleh sinar mentari, membuat Siapa pun orang yang melihatnya akan tertarik ingin memiliki benda berharga itu. apalagi belum lama Hana memiliki emas yang ada di lehernya, sehingga dia masih senang memakai dan memamerkan apa yang sudah dimiliki, bahkan sampai ke air tetap dipakai.
Lama berjalan akhirnya Hana melewati tempat persembunyian Hadi, dia yang sedang tenang tidak menyangka kalau di tempat itu ada orang yang sedang mengintainya.
Hiyaaaat!
Ujar Hadi sambil loncat, kemudian memeluk tubuh Hana dari belakang, tangan kanan melingkar ke arah leher, tangan kiri menutup matanya. sehingga membuat Hana terlihat gugup tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Mata Hana ditutup menggunakan tangan kiri, sedangkan lehernya di himpit oleh tangan kanan. sehingga membuat Hana merasa gugup, mulutnya menganga tidak mengeluarkan suara, hatinya berdegup dengan kencang, nafas terasa sangat sesak, ditambah lehernya dihampit dari belakang, tapi dia memaksakan untuk berteriak.
Tolooooong!"
"Teriak Hana dengan suara agak sedikit tertahan, kemudian dia menggerinjal memberontak ingin melepaskan genggaman orang yang sedang menyergapnya. namun Hadi yang seorang laki-laki pergerakan seperti itu tidak terlalu berpengaruh, dia tetap menghapit leher Hana menggunakan tangan kanan, bahkan memperkeras hampitannya memberikan Efek Jera agar Hana tidak berteriak lagi, tangan kiri terus Menutup Mata Hana agar tidak mengenalinya.
Dari arah depan, keluarlah Warsa yang sejak dari tadi menunggu kesempatan itu. kemudian dengan cepat dia pun melepaskan kalung yang melingkar di leher Hana. Warsa tidak menemukan kesusahan ketika merampas perhiasan Hana, dengan mudah dia bisa melepaskan kalung itu lalu di masukkan ke dalam kantong celana.
Awalnya Hadi mau melepaskan Hana. namun Warsa menahannya dengan menggunakan isyarat, karena ketika mau berbicara Mereka takut kalau Hana mengenali suaranya. Hadi pun menurut dia terus mencekik leher Hana, sedangkan Warsa memegang telinga tawanannya kemudian melepaskan anting yang dikenakan oleh Hana.
Namun baru saja melepaskan sebelah, dari arah atas terdengar orang yang berteriak.
"Lepaskan ban9sat!" bentak suara seorang laki-laki membuat Hadi dan Warsa kaget seketika, mereka berdua melirik ke arah datangnya suara. setelah mengetahui siapa yang berteriak mereka tidak gugup. Warsa memberikan isyarat agar hadi Tetap tenang, karena orang yang datang adalah Eman yang baru pulang dari tempat mainnya.
Hadi pun mengangguk menyetujui apa yang diisyaratkan oleh sahabatnya, sedangkan Warsa dengan tenang berjalan mendekat ke arah Eman.
"Mau ke mana kamu Eman?" tanya Warsa dengan suara pelan namun terlihat beringas, karena matanya membulat sempurna seperti hendak menelan bulat-bulat orang yang berada di hadapannya
"Laaaah...! kenapa pakai nanya segala, kamu nggak harus tahu aku mau ke mana. yang terpenting wanita itu harus dilepaskan...!" jawab Eman membalas tatapan Warsa, giginya terlihat mengancing dengan sempurna. namun orang yang diancamnya dia tidak terlihat meladeni amarah Eman, bahkan terlihat senyum tipis di sudut bibir penjahat itu.
"Jangan berburuk sangka Eman...! Akang tidak memiliki niat jahat sama Ceu Hana. Akang cuma sedang bermain. sedang bersendau gurau. masa kamu nggak tahu kalau Hana itu adalah pacarnya si Hadi?"
__ADS_1
"Oooooh, lagi bercanda! kenapa kalau bercanda lehernya di hapit dan matanya di tutup seperti itu?" sanggah Eman dengan mengerutkan dahi, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Warsa.