
Di tempat lain, tepatnya di pinggir hutan yang sangat Teduh. suasananya terasa segar angin kecil semilir membuat orang akan betah berlama-lama tinggal di tempat seperti itu. apalagi jarang ada orang yang lewat, sehingga ketenangan kenyamanan, tidak akan ada yang mengganggu. paling ada hanyalah Bapak Tani, itu pun tidak setiap hari, hanya sesekali saja ketika mereka mau mengecek tanamannya.
Namun meski Tempatnya sangat sepi, ada dua orang yang selalu tinggal di tempat sunyi ini. Entah mengapa mereka lebih memilih mengasingkan diri, daripada berbaur dengan manusia pada umumnya.
Kedua orang itu terlihat sedang duduk dengan begitu nyaman, yang satu menyandarkan punggungnya ke batu besar, kakinya ditahankan ke pohon mahoni. yang satu orang lagi sedang berbaring dengan menjadikan akar pohon sebagai bantal, kakinya terlihat di naikan ke atas batu.
Awalnya Mereka terlihat saling terdiam, mengantar lamunan masing-masing. seperti Sedang berpikir yang sangat serius, memutarkan otak, mencari jalan supaya memiliki rezeki yang lumayan besar. soalnya sudah lama bekerja namun tidak membuahkan hasil yang membuat kedua sudut bibir mereka terangkat. bahkan sudah beberapa hari terakhir, mereka tidak bisa menemukan rokok walaupun hanya satu batang. sehingga kedua mulut mereka terasa masam seperti lodong tidak diasapi.
"Warsa...!" panggil orang yang sedang berbaring.
"Iya, ada apa Hadi?" jawab orang yang sedang menyandarkan tubuh ke Batu. yang ternyata mereka adalah Hadi dan Warsa, buronan warga Kampung Sukamaju yang beberapa bulan lalu meloloskan diri dari kepungan orang-orang, ketika mencuri nasi pak ustad yang diantarkan oleh Eman untuk para pekerja.
"Coba tolong bantu mikir...! masa kamu tidak ingin merokok?" ujar Hadi sambil bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia Duduk menatap ke arah sahabatnya yang bernama Warsa. mereka sudah lama tinggal di hutan tidak berani pulang ke kampung karena sudah lama menjadi buron. kalau tidur mereka tidak memiliki tempat yang yang tentu, kadang di Gowa, kadang di saung kebun milik warga. kalau mau makan mereka mencuri atau menjambret, bahkan berani merampok.
"Kenapa Harus berpikir, kalau kamu mau rezeki kita tinggal pergi ke kampung. pasti di sana banyak rezeki yang tersedia buat kita. Dan kalau kamu mau, kita ke kampung Sukamaju karena kita sudah lama tidak menjenguk Kampung kelahiran kita. mungkin sekarang mereka sudah lupa tentang kejadian ketika mereka mau berhasil menangkap kita. jadi kita bisa leluasa untuk mencari dan mengambil apapun yang bisa dijadikan uang. Aku yakin mereka sekarang sudah sangat lengah, karena kejadian itu sudah sangat lama," jawab Warsa yang terlihat sangat pintar mengatur siasat.
"Iya benar, tapi kapan?"
__ADS_1
"Apanya?"
"Yeeh! Ya Berangkat ke kampung sukamajunya kapan?"
"Sekarang juga bisa, kalau kamu mau!" jawab Warsa memberikan saran.
"Tapi kalau pergi ke Sukamaju, rasanya agak risih, agak was-was saja. takut bertemu dengan pak Kulisi yang sangat galak, karena walau bagaimanapun sekarang kita sudah menjadi buron yang sedang diincar oleh pihak yang berwajib, gara-gara si bodoh dan si koplok Eman sial4n," sanggah Hadi memberikan pendapat.
"Yah, benar! tapi, harus bagaimana lagi, Soalnya kalau ke kampung yang lain, kita sudah mencoba namun hasilnya sangat nihil, karena kampung yang lain tidak serannum Kampung Sukamaju yang sangat hijau dengan orang-orang yang kaya. ditambah kalau ke kampung yang lain kita belum terlalu hafal situasi, berbeda dengan Kampung Sukamaju yang sejak dari kecil kita tinggal di sana," ujar Warsa membenarkan, namun dia tidak kehabisan akal untuk menjawab keraguan sahabatnya.
"Tapi walau begitu, kita harus tetap berpikir bagaimana caranya agar kita bisa leluasa menjarah Kampung Sukamaju, sehingga mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Saya sudah bosan tinggal di hutan seperti ini, saya kangen dengan kehidupan yang nyaman, berbaur dengan orang-orang."
"Benar....! Sebenarnya kita memiliki ketakutan yang sama, namun Apakah kita harus tinggal di hutan selama-lamanya, apa kamu tidak ingin pulang dan tinggal layaknya seperti manusia pada umumnya. karena kalau kita tinggal di hutan sangat menyusahkan, bahkan tidur saja kita tidak memiliki tempat yang pasti, yang penting gelap di situ Kita pasti akan tidur. Begitu juga dengan makan yang tidak sesuai dengan aturan, kalau bertemu makanan baru bisa makan, kalau tidak ya kelaparan. lihat baju dan celana kita yang terlihat sudah dekil, mungkin kalau dicuci di kali pasti ikannya akan keracunan. hehehe,"
"Sabar Hadi....! sabar! Siapa tahu saja ke depannya kita menemukan rezeki yang sangat besar. kita akan memborong pakaian yang banyak, kalau kamu mau, kamu bisa membeli dengan tokonya. Oh iya Aku punya rencana nih!"
"Rencana apa Sa?"
__ADS_1
"Kalau kita punya bekal, kita mendingan membuka usaha di kota."
"Ke kota bagaimana?" tanya Hadi sambil menatap heran ke arah Warsa.
"Iya kita bekerja di kota! katanya di sana sangat mudah menemukan jalan perusahaan, karena biasanya orang-orang kota pada kaya-kaya," ujar Warsa menjelaskan cita-citanya yang terlihat sangat tinggi, sedikitpun dia tidak ingin bertobat Karena dia sudah sangat menikmati Jalan hidupnya yang berprofesi sebagai maling atau rampok.
"Lah...! sekarang Jangan terlalu jauh terlebih dahulu, yang dekat saja masih banyak sasaran empuk. kecuali kalau yang dekat sudah susah. pergi mencari lapak baru di kota itu akan lebih baik, walaupun mau sampai ke Betawi juga." Sanggah Hadi yang terlihat tidak setuju.
"Terus bagaimana sekarang dong Had?"
"Kita cek ke kampung Sukamaju , Siapa tahu saja di sana ada ikan yang besar."
"Ya sudah, ayolah!"
Setelah mereka mendapat keputusan, kedua pemuda Begundal itu bangkit dari tempat duduknya. lalu bersiap-siap untuk berangkat pergi ke Kampung Sukamaju. terlihat Hadi sedang memindai area sekitar, padahal Tidak ada orang lain selain mereka.
Setelah dirasa rapi, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan tempat sunyi menyusuri lembah-lembah yang ditumbuhi oleh rumputan yang sangat rimbun, menyela-nyela di pohon-pohon yang tumbuh menjulang tinggi. mereka tidak sedikitpun merasa ketakutan berjalan di tempat yang semengerikan itu, Bahkan mereka merasa senang karena bisa aman dari pantauan orang lain.
__ADS_1
Setelah menghabiskan sejam perjalanan, akhirnya Mereka pun sudah sampai ke kampung Sukamaju. namun mereka beristirahat dan bersembunyi terlebih dahulu di saung yang tidak jauh dengan area Kampung. dua mata mereka terus memindai area sekitar, takut ada yang memeregoki keberadaannya.