BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab 35. Menyedihkan


__ADS_3

"Siapa itu?" tanya pak Kulisi sambil berlari mendekat ke arah orang yang sedang di tolong, diikuti oleh para ronda yang mengikuti di belakang. mereka meloncati rumpun tebu timbarau, ingin segera sampai ke tempat kejadian, ingin mengetahui lebih jelas Siapa orang yang sedang terluka.


"Mang Dodo, celaka Pak Kulisi," jawab orang yang menemukan tubuh Dodo sambil bangkit. dia juga merasa kaget soalnya melihat Dodo yang ditemukan dengan keadaan tidak sadar, wajahnya pucat, pipinya juga penuh dengan lebam, Begitu juga dengan Pakaiannya yang dipenuhi oleh air embun pagi.


"Masya Allah, apa yang menimpa Mang Dodo, Coba tolong periksa....!" Ujar pak Kulisi memberikan arahan.


"Punduknya terlihat lebam Pak kulisi," jawab laki-laki yang menemukan.


Dengan segera pak kulisi pun berjongkok di samping tubuh Mang Dodo, kemudian dia memindai area pundak orang yang terkapar di tanah. setelah diperhatikan ternyata benar apa yang disampaikan, punduk Mang Dodo terlihat lebam membuat pak polisi hanya terdiam berpikir. sama seperti orang yang menyaksikan hanya bisa menatap penuh keheranan, mereka merasa kasihan dengan apa yang menimpa Dodo. Akhirnya pak polisi memerintahkan agar membuat tandu, untuk menggotong tubuh Dodo.


Kira-kira waktu subuh, akhirnya tandu pun selesai dibuat kemudian tubuh Dodo digotong dibawa ke Kampung Sukamaju, digiring oleh orang-orang yang tadi mencari maling, disambut dengan suara ayam jantan yang terdengar berkokok. membuat suasana semakin terasa sedih dan menyakitkan hati, Bagaimana tidak sedih, maling yang mereka cari tidak ditemukan, yang ada temannya yang menjadi korban.


Dur....! Dur! Dur!


Suara bedug subuh yang dipukul terdengar dari arah mushola, rombongan orang-orang Yang menandu Dodo akhirnya sampai ke kampung Sukamaju, dengan segera Mereka pun membawa tubuh itu ke rumahnya, membuat Rani gelagapan karena melihat sang suami ditandu seperti itu.


"Ya Allah....! Ya Allah....! kenapa dengan suamiku. ya Allah....!ya Allah!" ujar Rani yang terlihat sangat gugup.

__ADS_1


"Sabar Bi, sabar....! Mang Dodo tidak apa-apa, hanya celaka sedikit," ujar Pak Kulisi menenangkan, Padahal dia belum mengetahui kejadian yang sebenarnya, karena dia belum memeriksa dengan teliti.


Tapi Rani tidak bisa di bohongi, karena melihat dari kenyataan saja sudah begitu memilukan. itu menunjukkan bahwa Dodo mendapat celaka yang sangat besar. akhirnya Rani hanya bisa menangis tidak bisa ada yang menahan. tandu yang masih digotong dia pegang dengan begitu erat, seperti hendak membantu.


Tandu itu terus di bawah ke tengah rumah, kemudian diturunkan ke pelupuh, tubuh Dodo dipindahkan ke tikar daun pandan yang sudah tinggal sepotong, kepalanya di bantali oleh bantal, membuat Rani semakin memperkencang suara tangisnya, karena melihat wajah sang suami yang terlihat pucat pasi seperti tidak ada kehidupan.


"Ya Allah....! kenapa ini ya Allah, kenapa...?"


Teriak Rani sambil memegang tubuh suaminya, di saksikan oleh orang-orang yang mengantarkan tubuh Dodo. Pak Kulisi tidak bisa berbuat banyak, dia membiarkan orang yang menangis sampai merasa kenyang. setelah agak lama Pak kulisi pun memberanikan diri untuk berbicara.


"Bi....! Bibi harus sabar, biarkan Jangan Sampai gugup Dan Panik, karena Mang Dodo masih bisa ditolong , dia hanya pingsan. Sudah Bibi harus sabar, harus tawakal...!"


"Belum ada yang bisa menjelaskan, karena ketika tadi ditemukan Mang Dodo sudah pingsan. sekarang kita tolong terlebih dahulu, kita obati sampai dia tersadar. Nanti kalau sudah siuman baru kita tanya, kenapa kejadiannya bisa seperti ini?"


"Ya sudah...! tolong sembuhkan suami saya Pak Kulisi....! terus ke mana Si Eman sampai tega sama orang tua, tidak terlihat membantu sedikitpun." Ujar Rani yang terlihat celingukan membagi tatap mencari keberadaan anaknya. dia sekarang baru sadar bahwa Eman tidak ikut pulang, membuat pak Kulisi pun tersadar karena memang benar Eman dan Dodo dari tadi juga mereka terus beriringan.


"Lah, Iya Ya...! Siapa di sini yang bertemu dengan Eman?" ujar Pak Kulisi bertanya sama orang-orang yang berada di situ. tapi orang yang ditanya, semuanya menyebutkan bahwa mereka tidak bertemu dengan Eman. membuat kekhawatiran Rani semakin bertambah, ketakutannya menjadi terbagi dua, seperti orang yang sudah jatuh tertimbun tangga.

__ADS_1


"Kemana kamu Eman, jangan-jangan....! ya Allah." Gumam Rani yang tidak melanjutkan pembicaraan, hatinya semakin tidak enak. ingat sama anak dan khawatir dengan suaminya takut tidak tertolong.


Rani terus ditenangkan, dibesarkan hatinya, agar dia terus bisa menerima kejadian yang menimpanya, bisa sabar, bisa tenang. sedangkan Dodo yang belum tersadar ditolong dengan sekemampuan warga-warga untuk disadarkan.


Setelah lama ditolong, akhirnya Dodo pun terlihat bergerak. kemudian dia pun bersin, diakhiri dengan meringis dan mengeluh kesakitan. tangan kanan terlihat meraba punduknya membuat Rani yang melihat semakin mengiba. namun hatinya sedikit tenang, karena suaminya ternyata masih hidup hanya terluka berat. apalagi ketika melihat sang suami bisa ditanya, hatinya terasa semakin Tegar.


Keadaan waktu di luar semakin terang, orang-orang yang lewat mau ke air mau membersihkan tubuh semakin ramai. semakin banyak pula orang yang menjenguk keadaan Mang Dodo, sehingga membuat rumahnya yang kecil penuh dengan orang-orang yang ingin tahu kondisinya, bahkan sampai ke halaman rumah.


Dodo belum dimintai Keterangan Yang jelas, karena merasa kasihan masih terlihat sakit. membuat pak Kulisi pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumahnya, dia pun berjanji, nanti setelah agak siang dia akan menjenguk kembali.


Bray!


Suasana pun semakin terang, sayap-sayap malam sudah tertutup digantikan oleh sayap siang. Dari ufuk timur terlihat cahaya mentari yang baru keluar, disambut oleh kicau suara burung dan kokokan suara ayam jago.


Kira-kira pukul 07.00 pagi di rumah Dodo terlihat Masih banyak orang, menunjukkan semakin jelas bahwa waktu itu ada seorang yang tidak pulang, yaitu Eman. membuat semua orang merasa bingung, karena tidak ada yang mengetahui sama sekali. mereka saling bertanya ke mana kepergian Eman, namun tak seorangpun ada yang mengetahui. membuat pak Kulisi semakin merasa khawatir, hingga akhirnya dia pun memberanikan diri untuk bertanya sama Dodo, meski Sebenarnya dia sangat kasihan melihat kondisi warganya yang sedang ditimpa musibah.


"Mang Dodo, Apa mamang sudah kuat untuk berbicara?"

__ADS_1


"Sudah kuat Pak isi, namun Punduk saya masih terasa sakit, rasanya seperti remek," jawab Dodo sambil mengusap punduknya yang terasa sakit tak tertandingi.


"Begini Mang Dodo, maling yang kabur kita tidak bisa menangkapnya kembali. jangankan menangkapnya, jejaknya pun kita tidak bisa menemukan. malah kita mendapat kerugian yang sangat besar, pertama Mamang harus mengalami kecelakaan yang sangat parah. yang kedua Jang Eman belum pulang ke rumah. saya sudah bertanya sama orang-orang yang ikut mencari, namun mereka tidak ada seorangpun yang mengetahui. kira-kira Ke mana perginya Jang Eman. dari dasar itu saya mohon maaf meminta kesediaannya untuk menjelaskan. karena mamanglah yang terakhir kali bersama Eman, dan Mamang pulalah orang yang belum ditanyai. apa Mamang pernah bertemu dengan Eman dan terus apa yang sebenarnya terjadi terhadap mamang sampai harus mengalami kenyataan seperti ini?" tanya Pak Polisi panjang lebar, membuat orang-orang yang berada di situ terdiam memperhatikan, matanya terlihat menatap lekat ke arah Dodo, ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.


__ADS_2