BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab. 7 Eman semakin Tersiksa


__ADS_3

Akhirnya semua orang yang berada di halaman rumah pak ustad Mereka terlihat mengobrol sambil mengistirahatkan rasa capek setelah mengejar maling dan mencari Eman. dengan sigap Bu ustad pun mengambil air minum bersama makanannya, karena pak ustad masih tergolong orang yang berada, sehingga makanan tidak luput di rumahnya.


Setelah lama mengobrol dan rasa capek sudah hilang. akhirnya para warga pun mulai berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing. bahkan Mang Dodo juga ikut berpamitan untuk pulang ke rumahnya. sedangkan Eman terlihat seperti orang yang kesambet, dia tidak berbicara sama sekali, dinasehati oleh orang tuanya dia hanya mengangguk-nganggukkan kepala.


Bu Ustad yang melihat Eman dengan pakaian penuh lumpur, dengan segera dia pun mengajak Eman masuk ke dalam dan menyuruhnya untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. kemudian Eman disuruh makan dan beristirahat. Bu Ustad terlihat menyayangi Eman, sama seperti suaminya. dia tidak membeda-bedakan dengan anak yang lain, padahal Eman hanya anak didiknya.


*****


Dari semenjak kejadian yang dialami oleh warga Kampung Sukamaju. hati Eman terus bergejolak tidak menentu, dia merasa dirinya tidak bisa menyamai dengan orang lain. sehingga timbullah rasa minder yang sangat melebihi dari batasan. Eman merasa rendah diri dengan kekurangan yang dimiliki. akibatnya ketika bekerja dia kurang bersemangat, ketika belajar terlihat malas-malasan. Waktunya lebih sering dihabiskan untuk berdiam diri, memikirkan nasib yang begitu sangat menyedihkan.


Lama-kelamaan pak ustad dan istrinya merasa kehabisan cara dalam mendidik Eman. karena setiap yang diajarkan tidak Ada Yang diingat sedikitpun. satu hari, kedua pengasuh Eman memutuskan untuk mengembalikan anak didiknya untuk pulang ke rumah orang tua aslinya. namun mereka bingung dengan alasan apa untuk memulangkan eman ke rumahnya, takut orang tuanya tidak terima, sehingga menimbulkan masalah yang baru. akhirnya mereka pun mengambil keputusan untuk terus merawat Eman, karena mereka sadar apa yang ditentukan oleh sang pencipta, itu adalah yang terbaik untuk cerita hidupnya.


Eman Terus diajarkan dalam bekerja, mulai dari mencari rumput, mengambil air, mengurus sawah, kolam dan hewan ternak lainnya. namun begitu, pikirannya yang berbeda dengan orang lain, sehingga semua pekerjaan yang dilakukan oleh Eman, terlihat berantakan, namun masih dalam batas kewajaran. sebenarnya Eman sudah tidak betah tinggal di rumah pak ustad, karena dia merasa risih selalu merepotkan gurunya itu. Setiap hari dia selalu melakukan kesalahan. beruntung pak ustad orangnya sangat baik sehingga tidak pernah dimarahi dengan keras.


~

__ADS_1


Satu hari, Eman disuruh Pak Ustad untuk menyemprot hama di sawah. setelah diajarkan Eman pun berangkat menuju ke sawah dengan menggendong semprotan, menenteng ember kecil, ditambah alat-alat lainnya.


"Kenapa hari ini terasa sangat malas sekali, aku takut pekerjaanku salah lagi." Gumam hati Eman yang sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya. sebelum bekerja dia sudah menyerah. Eman terus dihantui rasa takut akan kegagalan, karena hampir setiap hari ada saja pekerjaan yang di salahkan, sehingga semakin lama rasa percaya diri terhadap dirinya semakin menghilang.


Sesampainya di sawah, Eman pun duduk di pematang sawah dekat rumpun pisang. padinya terlihat sangat hijau namun sudah ada tanda-tanda akan diserang oleh hama. makanya pak ustad menyuruh Eman untuk segera menyemprotnya, agar hama itu tidak menyebar karena cepat ditanggulangi.


Beberapa saat berlalu, Eman terus diam sambil terus melamun. pikirannya mulai terbang ke kejadian-kejadian yang sudah berlalu, kemudian pikiran itu terbang memikirkan dirinya yang berbeda dengan orang lain. membuat dia malas melakukan apa-apa. menurut keinginannya, dia lebih akan menikmati hidup, kalau berbaring di atas rumput di bawah pohon rambutan.


huh!


"Kayaknya kalau aku terus melamun, pasti nggak akan ada ujungnya. mendingan aku mulai kerja agar cepat selesai," ujar Eman memotivasi dirinya sendiri. kemudian dia pun bangkit dari tempat duduknya, lalu mengambil air di kolam ikan menggunakan ember, kemudian dimasukkan ke dalam galon semprotan untuk dicampur dengan racun. Setelah semuanya disiapkan dia pun mulai bekerja menyemprot padi, agar terbebas dari gangguan hama.


Dari awal bekerja sampai akhirnya selesai, tidak ada gangguan sedikitpun, pekerjaannya sangat lancar tak seperti biasa.


Selesai mengerjakan penyemprotan sawah, Eman pun duduk di Pematang kolam sambil menikmati rasa lelah setelah menyelesaikan pekerjaan. matanya terus menatap ke arah kolam yang terlihat ikannya sangat banyak dan sangat besar-besar.

__ADS_1


Semilir angin menerpa tubuh Eman, menambah kesegaran dari teriknya matahari, diiringi suara burung-burung dari arah kebun terdengar begitu berkicau. sambil beristirahat Eman pun mengambil air menggunakan ember, kemudian dimasukkan ke dalam galon semprotan, lalu dia pun memutar-mutar Galon itu agar lebih bersih.


Eman tidak sadar, ditambah pengetahuannya yang sangat minim. air kurasan dari galon semprotan, Dia buang ke kolam. kemudian dia pun mengambil air lagi menggunakan ember, lalu dimasukkan ke dalam galon, setelah diputar-putar air kurasannya dibuang kembali ke dalam kolam. Eman terus mengulang pekerjaan itu sampai beberapa kali, sampai merasa bahwa galon semprotan itu sudah bersih.


"Kayaknya sudah bersih, soalnya sudah beberapa kali dikuras." ujar Eman kemudian Dia merapikan semua alat semprotannya, lalu pulang menuju ke rumah pak ustad.


Mentari sudah terlihat condong ke arah selatan, namun panasnya Tak sedikitpun berkurang, langit terlihat sangat bersih, tidak ada sedikitpun awan yang menghalangi.


"SUdah selesai kamu menyemprotnya Jang Eman?" sambut pak ustad yang melihat kedatangan anak didiknya.


"Sudah, Bapak!" jawab Eman kemudian Dia merapikan alat-alat semprotan ke tempatnya. kemudian dia duduk di bangku yang berada di samping dapur, wajahnya terlihat lemas seperti tidak bersemangat, seperti orang yang sangat kecapean.


"Ya Sudah ayo makan dulu Ujang! tapi sebelum makan cuci dulu tangannya yang bersih takut menjadi penyakit, soalnya habis memegang racun." seru Bu Ustad yang selalu lemah lembut sama Eman.


"Baik Ibu..!" jawab Eman sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia menuju ke air untuk mencuci tangannya. Bahkan tak lupa dia pun menggunakan sabun, agar racun hama di tangannya menghilang dengan sempurna.

__ADS_1


Setelah mencuci tangan dia pun kembali ke dapur lalu makan dengan begitu lahap, karena habis bekerja berat di sawah. setelah makan dia pun kembali lagi ke air untuk membersihkan tubuh, lalu melaksanakan salat zuhur, kemudian kembali lagi ke rumah pak ustad untuk beristirahat.


__ADS_2