BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab. 29 rencana


__ADS_3

"Ini resiko dari semua yang kita kerjakan Warsa. Karena kalau tidak begini kita bukan maling namanya, tapi orang baik. sudah kita jangan menyesal, karena dari dulu juga kita sudah tahu dengan segala Resiko pekerjaan yang kita lakukan, kita bukan tidak mengerti bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah pekerjaan yang salah."


"Tapi kenapa kita terus menjalankannya Hadi, kalau kita tahu bahwa pekerjaan itu salah?"


"Terpaksa Sa...! karena kita tidak memiliki jiwa Ksatria, tidak mau mengakui kesalahan. hingga akhirnya kita terus menjadi buron, semenjak kita menipu domba Si Eman. Sehingga kesedihan, kesengsaraan, kepahitan, tidak bisa di cegah lagi. sedangkan kebutuhan Makan, minum, merokok dan pakaian tidak bisa ditunda, kebutuhan itu harus tetap terpenuhi. untuk mencukupi kebutuhan itu, kita tidak bisa menggunakan jalan yang wajar, karena hidup kita sebagai buron. akhirnya kita harus maling, mencuri, merampok, menjambret, karena itu hanya satu-satunya jalan yang terbaik buat kita, namun resikonya beginilah harus meringkuk di dalam tahanan."


"Yang begitu sudah tidak harus diucapkan lagi Hadi, karena sudah berlalu. asam manis, pahit asin, harus tetap kita nikmati, karena ini adalah buah dari hasil pekerjaan kita yang berbeda dengan orang lain. namun sekarang kita harus berpikir, Bagaimana kalau kejadiannya sudah seperti ini, apa kita mau menyerahkan diri atau mau mencari cara agar bisa bebas. soalnya menurut pemikiranku, coba kamu dengarkan baik-baik Hadi..! kita bisa tertangkap seperti ini ada sebabnya,"


"Sebabnya apa?" tanya Hadi yang menatap kembali ke arah sahabatnya.


"Ada orang yang berkhianat, yang melaporkan kejahatan kita. yaitu Si Eman, buktinya seluruh kejahatan kita sudah diketahui oleh pihak keamanan Desa, yaitu pak Kulisi. masalah domba, masalah kalung bahkan masalah nasi yang satu bakul sampai dipertanyakan."


"Terus bagaimana kemauan kamu?"


"Jangan dulu menyerahkan diri, Kalaupun kita harus dihukum, kita harus membuat dulu perhitungan dengan Si Eman."


"Caranya bagaimana?"


"Apa?"


"Caranya bagaimana agar kita bisa membuat perhitungan dengan Si Eman?" Ujar Hadi mengulang kembali pertanyaannya.


"Ya bagaimanapun caranya, itu terserah kita. yang terpenting si Eman bisa mampus. begitu Hadi..!"


Mendengar penjelasan dari Warsa, Hadi pun terdiam berpikir mencerna pembicaraan sahabatnya. semakin lama berpikir semakin terpikir, semakin terasa pula dengan apa yang disampaikan oleh Warsa. hingga akhirnya Hadi pun menarik nafas dalam, kemudian menatap lekat ke arah sahabatnya.


"Warsa..!"

__ADS_1


"Iya apa?"


"Pembicaraan kamu memang ada benarnya, Kita harus mencari cara agar bisa membuat perhitungan dengan Si Eman. tapi cara yang bagaimana, yang akan kita ambil. karena kita sudah menjadi tahanan,"


"Lah kenapa kamu Hadi, Hadi. kamu bukan Si Eman yang bodoh dan koplok. gunakan otak kamu, agar kita bisa keluar dari tahanan ini, karena kalau tidak sekarang, nanti kita akan semakin susah."


"Soalnya?"


"Soalnya kalau sudah dipindahkan ke Kapolsek, kita tidak akan bisa kabur lagi. karena penjagaan di sana pasti akan lebih ketat, dengan orang-orang yang lebih ahli."


"Haduh...! dengus Hadi yang menarik nafas dalam karena dia pun sangat mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Warsa. "Terus bagaimana caranya Sa?" ujar Hadi bertanya.


"Apa kamu masih kuat untuk bertarung?" jawab Warsa balik bertanya.


"Untuk apa?"


Hadi pun terdiam kembali, Dia menimbang baik dan buruknya apa yang disarankan oleh Warsa. mengukur diri apa dia masih mampu untuk bertarung melumpuhkan kedua penjaga. soalnya itu bukan pekerjaan yang mudah, ditambah Resiko yang sangat berat. ketika dia tidak mampu melumpuhkan penjaga, mungkin sudah tidak akan ada maaf lagi, dia akan segera langsung dikirimkan ke Kapolsek.


"Bagaimana Hadi?" tanya Warsa yang tidak mendapat jawaban dari sahabatnya.


"Kepalaku masih terasa berat rasanya sangat pusing dan mengenut. soalnya tadi dipukulin, dihajar habis-habisan, hampir saja aku tidak kuat." jawab Hadi yang mengeluhkan kondisinya sekarang, karena sebelum ditangkap dia sempat dihajar warga terlebih dahulu.


"Pasti...! aku juga merasakan hal yang sama, tapi selama kita masih bernafas, kita harus berusaha sekuat tenaga sampai tetes darah penghabisan, agar kita bisa keluar dari tempat ini." ujar Warsa yang masih tetap bersemangat, tak sedikit pun dalam dirinya menyesali perbuatan yang sudah ia lakukan, padahal sekarang mereka sedang memetik hasil dari pekerjaan yang jahat.


"Ya sudah Ayolah...! tapi caranya bagaimana?" sanggup Hadi sebagai sahabat setia.


"Aku akan pura-pura pingsan!"

__ADS_1


"Terus?"


"Kamu harus ngasih tahu penjaga, agar pintu ini terbuka. nanti pasti akan ada orang yang mengobati."


"Terus?"


"Setelah pintu terbuka, sisa-sisa tenaga yang masih ada kamu gunakan semuanya untuk melumpuhkan para penjaga, agar kita bisa keluar dari tempat ini. kemudian kabur yang jauh."


"Huh....!" tanggap Hadi yang menarik nafas dalam seperti orang yang sedang kebingungan.


"Huh kenapa?"


"Ini terlalu besar resikonya Warsa, kalau kita gagal pasti kita akan langsung dibawa ke Kapolsek."


"Berdiam diri di sini resiko tidak akan berkurang. cepat atau lambat kita pasti akan pergi ke Kapolsek. bagaimana?"


"Ya sudah Ayolah....!"


"Nah, begitu...! itu baru Hadi yang aku kenal."


Dari arah luar terdengar suara jangkrik dan belalang yang tidak berhenti sedikitpun, dari arah jauh sesekali terdengar suara gonggongan anjing, memecah heningnya suasana malam. Hadi dan Warsa saling mengedipkan mata memberikan isyarat untuk memulai aksinya, tanpa berlama-lama Warsa pun membaringkan tubuh seperti orang yang sedang pingsan.


"Bang, Mang...! mang, tolong Mang....! tolong aduh bagaimana ini, tolong, tolong, bagaimana...?" teriak Hadi seperti orang yang sangat panik, membuat para penjaga merasa kaget. keduanya melirik menatap ke arah dalam kamar yang dihalangi oleh jeruji besi, keduanya pun bangkit lalu mendekat ke arah kamar.


"Kenapa kamu Hadi?" tanya salah satu ronda yang sedang menjaga.


"Si Warsa tidak kuat....! dia pingsan, badannya terasa dingin. tolong bapak, Mamang.....! jangan sampai menyiksa kami lagi, tolong.....!" jawab Hadi dengan memelas, kemudian dia pun memegang tubuh Warsa yang terlihat diam Tak Bergerak, persis seperti orang yang sedang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Mendapat penjelasan dari tahanan, kedua ronda pun saling menatap merasa bingung harus melakukan apa. hingga akhirnya salah satu ronda pun pergi meninggalkan kamar tahanan untuk memberitahu ronda-ronda lain yang berjaga di pos. sedangkan Ronda yang satunya lagi, dia masih tetap menjaga Hadi dan Warsa, dia belum berani membuka pintu takut nantinya akan menjadi bumerang terhadap dirinya sendiri.


__ADS_2