BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
Bab 25. Mengintai


__ADS_3

Orang itu tidak mengeluarkan suara sama sekali, dia terus berjalan menyusuri tepian kolam menuju ke arah hilir mengikuti alurnya.


"Hantu menyingkir...! setan menjauh...! jangan mengganggu ketenanganku," ujar orang itu sambil terus berjalan sendirian, Dia sangat berani berjalan di kegelapan malam seperti tidak memiliki ketakutan di dalam hidupnya, seperti orang yang memiliki keberanian besar di hati.


Setelah lama diperhatikan, ternyata orang itu tidak lain adalah Eman yang sudah membulatkan tekad, menyatukan pemikiran, untuk membantu kesusahan semua orang. dia ingin menangkap sang maling yang mengganggu ketentraman warga Kampung Sukamaju.


Eman terus berpatroli ke semua penjuru tempat yang berada di kampung Sukamaju. dia tidak tidur walaupun hanya sekejap mata, namun dia tidak berani mendekat kearah ronda. ketika kebetulan mau bertemu dengan cepat dia pun menghindar, menyembunyikan diri di kegelapan malam, dia tidak mau orang mengetahui Apa yang sedang ia lakukan.


Malam itu, eman tidak menemukan apapun, tidak ada kejadian yang meresahkan. Sehingga Eman pun pulang ke rumah, ketika fajar sudah terlihat menyingsing di sebelah barat. dia langsung masuk ke rumah menuju kamar untuk membaringkan tubuh. tak lama diantaranya terdengar suara dengkuran keluar dari bibir Eman, dia tertidur dengan lelap karena semalam suntuk dia bergadang meronda Kampung Sukamaju.


Kira-kira jam 07.00 pagi, dia pun bangun dari tidurnya. kemudian dia melakukan aktivitas seperti biasanya, tak seperti orang yang malamnya tidak tidur.


Malam hari, Eman pun melakukan hal yang sama dengan malam sebelumnya, namun sama seperti hari kemarin dia tidak menemukan hal yang aneh. Namun meski begitu dia tidak Patah Arang, Eman terus menerus berpatroli menjaga keamanan Kampung Sukamaju setiap malam. Tapi dia belum menemukan hal yang aneh yang menunjukkan tanda-tanda akan adanya sang maling, yang dia temukan hanyalah Kadal, tikus, anjing dan burung hantu.


Malam kedelapan, ketika Eman berpatroli, dia melihat ada orang yang mengendap-ngendap di samping rumah Pak RT. membuat Eman terperanjat, jantungnya terasa berdegup hatinya berdebar.


"Sekarang ketemu kau maling, Awas kamu akan aku ikuti..!" begitulah gumam hati Eman, dia bersembunyi di rumpun-rumpun yang rimbun, berjalan dengan perlahan bak kucing yang sedang mengintip tikus. matanya menatap tajam memperhatikan dua bayangan hitam yang berada di samping rumah Pak RT.


Keadaan malam itu mungkin kalau diukur dengan jam berada di pukul 11.00 malam. karena sudah tidak terdengar orang-orang yang mengobrol, hanya sesekali masih terdengar suara pentungan dari arah pos, memecahkan heningnya suasana malam.


Sedangkan dua bayangan hitam terlihat berhenti, telinga Eman dipasang dengan seksama, mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Namun sayang suaranya tidak terdengar jelas, sehingga Eman tidak mengetahui Apa maksud mereka.


"Kayaknya aku terlalu jauh mengintip mereka," gumam Eman dengan perlahan dia pun mendekat dengan penuh kehati-hatian, karena dia takut di curigai oleh musuh. Hingga Eman pun sampai ke rumpun pisang, matanya terus menatap ke arah dua bayangan hitam.


"Warsa...!"

__ADS_1


"Apa?"


"Tolong kamu awasi jalan...! Awas nanti ada ronda!"


Gumam kedua orang yang sedang diintip, ternyata itu adalah Hadi dan Warsa yang sudah mulai datang kembali menjenguk Kampung Sukamaju, seperti biasa Mereka ingin bekerja melakukan aksinya.


"Sebentar dulu Had, sebenarnya rumah mana yang akan kita garap?"


"Rumah mertua Pak RT, tadi siang dia baru menjual kacang tanah, pasti uangnya akan banyak," jawab Hadi yang terdengar pula oleh eman, membuat hatinya terasa bergetar tidak karuan, kalau Eman mengikuti keinginannya dia ingin cepat membabat habis kedua maling itu. namun beruntung dia sadar diri, Eman tidak akan kuat kalau harus bertarung melawan dua orang.


"Mending aku laporkan saja sama Pak Isi, Semoga saja mereka tidak lolos lagi," gumam hati Eman memutuskan, dengan segera dia pun meninggalkan tempat persembunyian menuju ke rumah pak Kulisi.


Sesampainya di rumah pak Kulisi, terlihat orang yang dicari Eman sedang berkumpul dengan kepala ronda di halaman rumahnya. mereka terlihat sangat siaga untuk menghadapi semua kemungkinan, membuat Eman merasa bahagia karena dia tidak harus susah mencari. dengan segera dia pun mendekat ke arah Pak Kulisi, membuat keamanan Desa itu terlihat kaget.


"Siapa itu...?" bentak Pak Kulisi bertanya.


"Oh, Jang eman, Kirain siapa. Ada apa Jang, jam segini masih berkeliaran?"


"Lapor Pak Kulisi," Jawab Eman seperti sedang menghadap atasan di barak.


"Mau laporan apa?"


"Ada dua bayangan orang yang mengendap-ngendap di samping rumah Pak RT, saya Mendengar pembicaraan mereka bahwa kedua bayangan itu akan merampok rumah mertuanya Pak RT."


"Yang benar?" Tanya pak Kulisi yang terlihat kaget.

__ADS_1


"Benar pak....! kalau saya bohong silakan potong leher saya, gorok tenggorokan saya, patahkan kaki saya, mau diiris tipis-tipis, mau dicincang besar-besar juga saya siap."


"Oh ya sudah, syukur kalau begitu."


"Maksudnya?"


"Syukur...., kalau begitu. Kang Wandi!"


"Siap."


"Wildan...!"


"Saya Pak,"


"Kasih tahu orang-orang ,kita akan mengepung maling. tapi jangan membuat kegaduhan, nanti malingnya kabur."


"Siap pak Kulisi, namun mau bagaimana cara menangkapnya?" tanya salah Seorang warga yang bernama Wandi.


"Kita kepung rumah aki Marna, Kalian harus tetap berhati-hati dan berwaspada. jangan sampai membuat kegaduhan, nanti malingnya bisa kabur. untuk menyergapnya nanti saya akan memberikan aba-aba."


"Siap...!" jawab ronda dengan sergap. kemudian Wandi dan wildan ditambah warga-warga yang lain Mereka menuju ke masing-masing pos ronda untuk memberitahu keberadaan maling yang sudah masuk kampung kembali. ketika melewati rumah warga, dengan pelan-pelan mengetuk rumah itu memberitahu agar menambah kekuatan.


Warga-warga yang sudah diberitahu bahwa malam itu mereka akan mengepung maling, dengan Sigap Mereka pun keluar dari rumah dengan membawa senjata yang lengkap. ada yang membawa golok, ada juga yang membuat tombak, ada juga yang membawa pentungan, bahkan linggis. semua orang terlihat bersenjata lengkap seperti hendak bertempur ke medan perang.


Sedangkan Pak Kulisi Setelah semuanya dirasa rapi. Mereka pun berjalan menuju tempat Yang dilaporkan oleh Eman. di perjalanan dia pun bertemu dengan para warga-warga lain yang sudah terlihat bersiaga. pak Kulisi menyeru warga-warga yang sudah bertemu untuk membangunkan warga-warga lain agar terus menambah kekuatan, karena berkaca dari Kejadian yang sudah berlalu, mereka selalu gagal menangkap maling. sehingga pak Kulisi sekarang tidak ingin bermain-main lagi.

__ADS_1


Selanjutnya, rumah Pak RT yang berdampingan dengan rumah aki Marna mertuanya sendiri, dipagari oleh warga-warga yang sudah mengitari kedua rumah itu, sehingga tidak ada celah untuk melarikan diri.


Setiap penjuru dijaga oleh 10 sampai 15 orang dengan senjata yang sangat lengkap. Mereka terlihat sangat patuh dengan apa yang diperintahkan pak Kulisi, mereka tidak ada yang berbicara sedikitpun, bahkan suara nafasnya pun diatur. karena para warga juga memiliki kekesalan yang sama dan dendam yang tak jauh beda kepada kedua maling yang selalu meresahkan kampungnya.


__ADS_2