
"Bagaimana pak Kulisi, kedengarannya menyebut nama Jang Eman?" tanya pak ustad yang sama menatap ke arah atas pohon.
"Betul Pak Ustad, nih jang Eman."
"Alhamdulillah kalau sudah ketemu, ya sudah Tolong bangunkan, jangan sampai tidur di situ. nanti dia jatuh," seru pak ustad yang terlihat bergembira, karena orang yang dicari sudah ketemu. kalau dia bisa memanjat Mungkin dia akan ikut naik membantu Pak Kulisi. Namun sayang jangankan memanjat dalam keadaan waktu malam, dalam keadaan siang pun Pak Ustadz tidak terlalu hafal dengan masalah itu.
Pak Kulisi dia tidak terlihat menjawab, namun dengan cepat dia pun mendekat ke arah Eman yang sedang bersembunyi di ranting pohon yang begitu besar, sehingga kalau dilihat dari arah bawah tidak akan terlihat sama sekali. setelah sampai dengan cepat membangunkan Eman, tapi tangannya dengan erat memegang tubuh pemuda itu, takut Eman terkaget lalu bangun dan jatuh ke tanah.
Lama dibangunkan, akhirnya mata Eman pun mulai mengkerayap karena silau dengan cahaya senter yang diarahkan ke arahnya. dia belum sadar kalau di sekitarnya ada pak polisi, matanya terus memindai ke area sekitar. jantungnya terasa berdegup, hatinya terus berdebar, takut terjadi sesuatu kepadanya. Tapi lama kelamaan dia pun menundukkan pandangan, kemudian menjatuhkan kakinya ke bawah.
"Jang Eman, apa Ujang sadar?" tanya pak Kulisi yang dengan cepat memegangi Eman, takut menjatuhkan diri ke bawah.
"Saya sangat sadar, Siapa kamu sebenarnya?" jawab Eman yang terlihat bergetar, matanya terus memindai area sekitar. dia merasa heran kenapa di tempat itu terlihat menjadi terang benderang.
Suasana malam di dekat Kampung Sukamaju terasa begitu menegangkan. karena baru saja menemukan Eman yang sudah lama mereka cari. Namun meski sudah ketemu tapi harus tetap berjuang untuk menyelamatkannya, karena Eman sedang tidur di atas pohon trembesi.
__ADS_1
"Lah kenapa, Katanya kamu sadar. tapi kenapa kamu tidak kenal sama bapak. sudah jangan banyak bergerak, nanti kamu bisa jatuh, Soalnya kita sedang berada di pohon bukan di bawah." ujar Pak Kulisi yang sedang berada di atas pohon, ia berniat menyelamatkan Eman.
Kemudian Pak Kulisi meminta bantuan agar ada yang memanjat untuk membantu menurunkan Eman dari atas pohon trembesi. tanpa diperintah dua kali, manjatlah seorang yang memiliki keberanian. kemudian dia mendekat ke arah Eman lalu memegang tangannya, membuat Eman semakin ketakutan, soalnya banyak orang yang memeganginya, pikiran Eman yang tidak bisa berpikir dengan baik, sehingga dia menyangka Sekarang dia sudah tertangkap oleh pihak yang berwajib, Dituduh yang bukan bukan.
"Ampun....! ampun saya tidak melakukannya... Saya tidak melakukan, tidak melakukan...!" begitulah ujar Eman terlihat badannya menggigil, matanya melirik ke arah Pak Kulisi, kemudian melirik ke arah sekeliling seperti orang yang hendak melarikan diri.
Mendengar ucapan Eman, Pak Kulisi tidak menjawab karena dia masih menganggap bahwa Eman belum sepenuhnya sadar. dengan hati-hati dia pun mulai menurunkan Eman dibantu oleh warga-warga yang lain, apalagi kalau melihat Dodo dan pak ustad yang terlihat semangat membantu, karena mereka takut terjadi sesuatu sama Eman.
Dengan perjuangan yang begitu melelahkan, akhirnya Eman pun bisa diturunkan dengan selamat. pak Kulisi terlihat badannya bercucur dengan keringat, nafasnya tersenggal-senggal. namun hatinya merasa bahagia, karena sudah bisa menolong dan menemukan Eman.
Akhirnya orang-orang yang membantu mencari keberadaan Eman, Mereka pun mulai berjalan menuju ke arah Kampung Sukamaju. Eman berjalan di depan digandeng oleh Bapak Ustad dan Dodo, diiringi oleh pak polisi. cahaya obor dan senter terus menerangi jalan. kalau dilihat-lihat sama persis seperti rombongan orang yang baru saja menangkap tawanan, karena Eman di Arak oleh banyak orang, yang berbeda tangannya tidak diikat ke belakang.
Rombongan itu terus berjalan hingga akhirnya mereka pun tiba di kampung Sukamaju. sebelum pulang Mereka pun menuju ke rumah pak ustad. sesampainya di rumah mereka pun beristirahat, ada yang duduk di teras, ada juga yang duduk di halaman rumah. mereka terus mengobrol membicarakan kejadian yang baru saja mereka alami, diterangi oleh cahaya obor yang terus menyala.
Eman didudukkan di kursi yang berada di teras. melihat kerumunan orang di depan rumahnya, ibu ustad pun keluar dengan wajah pucat pasih merasa panik karena dia takut terjadi sesuatu terhadap Eman, ditambah dia takut dimintai pertanggungjawaban oleh orang orang tua anak didiknya.
__ADS_1
"Bagaimana ini Jang isi, dari mana Eman ditemukan?" tanya Bu Ustad yang terlihat tidak sabar.
"Di pohon trembesi, Tapi entah mengapa dia bisa sampai ke tempat itu. sebentar saya akan tanya Jang eman," jawab Pak polisi sambil melirik ke arah Eman yang sedang menundukkan kepala, soalnya dia tetap merasa takut karena memiliki kesalahan, dia tidak mampu mengantarkan makanan ke orang-orang yang bekerja.
"Jang Eman, Coba tolong kamu ceritakan sama bapak, Kenapa kamu bisa sampai berada di atas pohon trembesi?"
"Nggak tahu saya lupa, perasaan saya tidak menentu. yang saya ingat hanya tadi ketika mau berangkat ke sawah mengantarkan makanan. saya dicegat oleh dua orang. mereka mencuri nasi dan lauknya, bahkan sampai teko air mereka ambil. saya berniat mengejar mereka namun saya jatuh ke sawah, sehingga tubuh saya berlumuran dengan Lumpur. saya jatuh sampai dua kali. dari kejadian itu saya tidak mengingat lagi," ujar Eman Bukan dia tidak mengingat, tapi dia bingung harus menyampaikannya Seperti apa. karena hatinya yang tidak tenang, pemikirannya yang kurang sehingga kehidupannya dipenuhi dengan ketakutan.
"Oh begitu, sekarang sudah jelas yang jahatnya adalah si Hadi dan si Warsa. namun yang masih bapak bingung, Siapa yang menaikkan kamu ke pohon trembesi. karena kalau ditaikan oleh orang lain, pasti kamu diikat?" Selidik Pak Kulisi.
"Sudah...! sudah! sekarang Jangan memikirkan yang aneh-aneh. yang terpenting Jang Eman sudah selamat. ditambah penjahatnya sudah diketahui yaitu Hadi dan Warsa. namun saya meminta maaf sama kamu sarkowi dan para pekerja-pekerja lainnya, yang terpaksa disiksa tidak dikasih makan selama bekerja, karena beginilah keadaannya." sanggah pak ustad agar tidak keterusan membebani Eman dengan pertanyaan-pertanyaan yang berat.
"Ah, nggak apa-apa pak ustad, karena saya sudah mengerti dengan kejadian yang menimpa Jeng Eman."
"Terima kasih kalau kamu sudah mengerti dan memaafkan, saya malu takut dibilang disengaja."
__ADS_1
"Nah, sekarang cukup sampai di sini saja. saya haturkan beribu-ribu terima kasih bagi semua warga yang sudah membantu dalam mencari keberadaan Jang Eman. dan satu lagi kita harus tetap Waspada soalnya akhir-akhir ini Kampung kita menjadi tidak aman, gara-gara ada dua pengacau yang selalu mengintai kenyamanan kampung kita. Awas jangan sampai lengah kita harus tetap Waspada. takut kejadian seperti tadi terulang lagi," ujar pak Kulisi memberikan nasehat sama seluruh warga Kampung Sukamaju, agar semua orang bisa berhati-hati dan lebih Waspada.