BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab 16. baju Eman barang bukti


__ADS_3

Pak Kulisi kembali menyusuri jalan menuju ke arah utara, hingga akhirnya dia pun sampai di rumah pak ustad, terlihat orang rumah sedang menjemur kacang tanah.


"Assalamualaikum pak Ustad," sapa Pak Kulisi dengan ramah.


"Waalaikumsalam, masuk Jeng Ici! tanggung saya lagi membalikkan jemuran kacang," jawab Pak Ustad mempersilahkan.


"Yah, Pak...! jangan terganggu lanjutkan saja pekerjaannya," ujar pak polisi sambil mendekat ke arah teras, kemudian dia pun membuka sepatu lalu duduk di kursi.


Melihat ada tamu pak ustad pun mempercepat pekerjaannya, hingga akhirnya pekerjaan membalikan jemuran kacang pun selesai. dengan segera beliau pun masuk ke teras kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak tamunya bersalaman.


"Ada apa Jang Ici, kelihatannya seperti yang sangat serius?" tanya pak ustad mulai mengintrogasi tamu, karena melihat raut wajah pak polisi yang berbeda dari biasanya.


"Ada kejadian lagi pak ustad......! yang jadi korbannya adalah Nyai Hana, kalung dan antingnya ada yang menjambret."


"Ada yang menjambret Bagaimana, Siapa yang menjambretnya?" tanya Pak Ustad sambil mengerutkan dahi.


"Belum tahu pak ustad, soalnya tadi Nyi Hana matanya ditutup menggunakan baju, kebetulan bajunya saya bawa."


"Terus?"


"Saya datang ke sini, ingin meminta pendapat kira-kira pak ustad tahu nggak dengan baju ini?" terang pak polisi sambil membuka koran pembungkus baju, kemudian diserahkan sama orang yang ada di hadapannya.


"Bentar..! bentar! kayaknya saya mengenal baju ini," ujar pak ustad sambil meneliti dengan seksama baju yang berada di tangannya, bahkan lipatannya dilebarkan agar dia bisa melihat lebih jelas. lama berpikir dia pun mengingat Eman, karena beliau merasa bahwa pernah membelikan baju seperti itu, dengan cepat dia pun memanggil istrinya.


Tak lama istrinya pun datang kemudian memindai area ruang tamu, terlihat ada pak Kulisi seperti sedang membicarakan yang sangat serius.


"Ada apa ini bapak?" tanya Bu Ustadz yang dipenuhi oleh rasa heran.

__ADS_1


"Bentar! bentar! ibu Coba tolong, ibu perhatikan! Apakah ibu hafal dengan baju ini?" tanya Pak Ustad sambil mengangkat baju yang ada di tangannya.


"Bukannya itu baju Eman, Kalau nggak salah ibu beli dari pasar, Kenapa kok nanyain baju seperti itu?"


"Yah benar, ternyata sangkaan kita sama. benar baju ini adalah baju Eman," ujar pak ustad yang berbicara dengan dirinya sendiri, tidak memperdulikan pertanyaan istrinya. namun meski seperti itu, ucapannya terdengar jelas oleh pak Kulisi yang sejak dari tadi memperhatikan.


"Apa benar ini baju Jang Eman pak ustad?" tanya Pak Kulisi memastikan.


"Benar Jang isi, kalau masih penasaran Ujang bisa langsung tanyakan sama Mang Dodo atau bi Rani, pasti mereka akan sangat mengenal baju ini."


"Terima kasih banyak Pak Ustad, Kalau begitu saya mau menanyakannya langsung sekarang." ujar pak polisi sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Nggak minum dulu jang isi?" tawar bu Ustadz yang selalu ramah.


"Lain kali saja Bu Ustad saya mampir lagi, sekarang sedang buru-buru...!" jawabnya sambil keluar dari teras kemudian dia pun pergi menuju sebelah Selatan kampung Sukamaju, mau menemui Mang Dodo bapaknya Eman.


"Yah pada ke mana nih..! kalau seperti ini penyelidikan akan terputus," gumam pak Kulisi sambil membalikkan tubuh kemudian Keluar dari gang untuk kembali ke rumahnya. di tangannya masih membawa bungkusan baju, satu-satunya Barang bukti yang didapat dari Hana.


Sesampainya di rumah, pak Kulisi terlihat kaget karena di rumahnya ada seorang tamu yang bertelanjang dada, dengan cepat dia pun menghampiri.


"Eh, Ujang..! Ada apa Jang?" tanya pak polisi sambil memindai orang yang bertamu ke rumahnya.


"Sengaja Saya mau menemui Bapak, soalnya mau ada yang saya sampaikan," jawab tamunya yang tidak lain dan tidak bukan itu adalah Eman, pembicaraannya terlihat serius seperti hendak menyampaikan sesuatu pak Kulisi.


Sebelum menjawab pak polisi pun duduk di samping Eman, dengan tangan masih memegang bungkusan baju.


"Coba tolong kamu ceritakan, sebenarnya ini ada apa Jang?"

__ADS_1


"Saya tadi menemukan Hadi dan Warsa sedang mencuri kalung dan anting Ceu Hana, saya yang melihat berusaha menghentikan pencurian itu. namun semakin dilarang mereka semakin beringas, bahkan si Warsa menodongkan pisau belati ke perut saya agar meminjamkan baju, Untuk digunakan untuk menutup wajah Ceu Hana."


Mendengar keterangan Eman, pak Kulisi pun terdiam berpikir, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. dia merasa bahagia karena orang yang sedang dicari, Dia datang sendiri ke rumahnya. namun ada yang mengganjal karena keterangan yang diberikan oleh Eman, jauh dari perkiraan Pak Polisi. karena dia beranggapan kalau orang yang melakukan kejahatan itu adalah Eman.


Setelah berpikir agak lama, Pak Kulisi pun menatap lekat ke arah Eman, seolah ingin menyelami isi hati Pemuda polos itu.


"Jang Eman..!" ujar pak Kulisi memecah heningnya suasana.


"Saya Pak," Jawab Eman tegas.


"Kira-kira Siapa yang bisa dijadikan saksi, kalau Ujang mengalami ditodong oleh Warsa?"


"Ya Warsa lah Pak saksinya, ditambah si Hadi."


"Yeh bukan begitu maksudnya. karena kedua orang itu tidak mungkin bisa dijadikan saksi, soalnya mereka tidak ada di kampung kita. Bahkan mereka sudah lama menjadi buronan pihak yang berwajib, Coba kamu jelaskan sekali lagi siapa yang bisa dijadikan saksi?"


"Menurut Pak Ustad, Ketika saya belajar ngaji di rumahnya."


"Iya terus?"


"Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Melihat. jadi yang menyaksikan Saya hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala Pak Kulisi," jawab Eman dengan polos sesuai dengan pengetahuannya, Namun sayang dia tidak bisa menempatkan sesuatu di dalam tempatnya.


Mendengar keterangan Eman, membuat pak polisi semakin merasa bingung hingga akhirnya dia pun terdiam sementara. dia menemui kesulitan dalam pemeriksaan. memang benar Apa yang dibicarakan oleh Eman sangat dimengerti oleh pak Kulisi, bahwa Allah itu Maha Mengetahui maha melihat, sudah pasti mengetahui semua tingkah laku yang dilakukan oleh makhlukNya. tapi yang diminta oleh pak polisi bukan saksi seperti itu, tapi saksi yang bisa dimintai keterangan buat menentukan keadilan.


"Jang eman, bapak minta saksi yang bisa ditanya?" ujar pak polisi yang sudah mendapat pertanyaan yang pas untuk menginterogasi tamunya.


"Ooooh, Kalau begitu bagaimana kalau Ceu Hana saja yang dijadikan saksi?" jawab Eman memberikan saran.

__ADS_1


"Baik, baik, kalau begitu..! itu ide yang sangat bagus." dengan cepat pak polisi pun bangkit kemudian masuk ke dalam rumah, lalu mencari anaknya. setelah ketemu dia pun menyuruhnya untuk memanggil pihak korban.


__ADS_2