
"Siap, Ayolah...! tapi mengikatnya mau menggunakan apa?"
"Kita gunakan akar tarum, aku rasa itu cukup kuat soalnya Si Eman kan lembek tidak memiliki tenaga."
"Ayo, setuju kalau begitu.....!" jawab Warsa menyanggupi.
Seketika Eman yang sudah sangat ketakutan, kesadarannya sudah mulai menghilang. dia dibawa menuju ke lembah jurang, setelah sampai dia dibaringkan di dekat pohon Cangkring yang terlihat berduri. Eman tidak melawan karena sudah tidak memiliki kekuatan, apalagi dengan tangan yang masih diikat ke belakang, diikatkan ke pohon kecil yang tumbuh di sekitar itu.
Hadi dan Warsa Mereka terlihat bersemangat mencari akar tumbuhan yang sangat kuat, Bahkan mereka menemukan rotan kecil sebesar kelingking balita. tanpa berpikir panjang setelah mendapatkan tali pengikat, Mereka pun mengikat kaki Eman dan tangannya, terus diikatkan ke pohon cangkring. kakinya terlihat dipijakan ke sebuah batu sebesar kepala, sedangkan tangan ditarik ke atas ranting pohon, kemudian diikatkan ke pohon cangkring. sedangkan lehernya diikat sama dikaitkan ke ranting. jadi nanti ketika Eman bergerak atau jatuh dari pijakannya, Eman seketika akan tergantung, tenggorokannya pasti akan tercekik.
"Beres lah Hadi....! Ayo kita tinggalkan tempat ini. Hai Eman....! kamu jangan bergerak, kalau kamu bergerak nanti lehermu bisa terjerat, tenggorokanmu akan tercekik. Biarkan saja Hadi seperti ini, karena dia tidak akan bisa meloloskan diri." Ujar Warsa yang terlihat bertolak pinggang, dari sudut bibirnya terukir senyum penuh kebahagiaan.
"Iya benar. kalau begitu pekerjaan kita sudah selesai, ayo kita pulang....!" ajak Hadi tanpa menoleh lagi kepada Eman, Mereka pun meninggalkan tempat penyiksaan.
Mereka berjalan dengan santai seperti orang yang tidak memiliki rasa pri kemanusiaan, sampai tega memperlakukan manusia seperti itu, seperti orang yang ingin puas menyiksa. semakin lama Hadi dan Warsa pun semakin menjauh sampai akhirnya Tak Terlihat Lagi, menghilang dari pandangan Eman, soalnya terhalangi oleh rimbunnya pepohonan.
__ADS_1
Eman menarik nafas dalam, dia merasa sedih karena harus mengalami disiksa oleh musuhnya, keselamatannya sangat tipis, karena tidak mungkin ada orang yang mau menuruni Lembah jurang.
"Ternyata si Hadi dan si warsa bukan seorang manusia, karena mereka sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan. emak....! bapak.....! tolong Eman, Tolong selamatkan dari marabahaya ini." ujar hati Eman yang berbicara sendiri. dia terus memanggil-manggil orang tuanya sambil terdiam. karena kalau bergerak dia akan sangat kesusahan, tali yang mengikat di lehernya akan menjerat tenggorokan, walaupun Eman sangat bodoh tapi dia sangat mengerti dengan bahaya yang akan menimpanya.
Suasana di tempat itu terasa sangat sunyi, yang terdengar hanya suara burung yang berkicau, dedaunan hanya bergoyang sedikit, karena angin waktu pagi belum datang, membuat tempat itu semakin terasa mencekam. apalagi ditambah dengan kejadian yang menimpa Eman membuat harapan untuk selamat semakin menipis. Bumi Langit terasa mengkerut tidak ada harapan untuk bisa berjalan memijak bumi kembali. Eman tidak bisa berbuat apa-apa hanya menangis di dalam hati, sambil terus memanggil-manggil nama orang tuanya untuk dimintai pertolongan.
Sedangkan di tempat Dodo, yang dihajar oleh Hadi dan Warsa menggunakan batu, orang yang terus dipanggil-panggil oleh Eman untuk menolongnya. para warga Kampung Sukamaju terus menyela-nyala, merangseg masuk ke atas bukit untuk mencari kedua tahanan yang meloloskan diri dari penjara balai desa.
Suara kemrosok orang-orang yang berjalan membelah rimbunnya rerumputan, bercampur dengan suara jangkrik yang terus mengeluarkan suara tanpa henti. pak Kulisi terus mencari keberadaan maling yang sudah meloloskan diri, tanpa sedikitpun mengendorkan semangatnya. Namun sayang, jangankan menemukan maling, menemukan jejaknya pun mereka tidak bisa. bahkan sampai waktu Fajar, para warga Kampung Sukamaju belum menemukan apa-apa, membuat Pak Kulisi menggerutu kesal menyalahkan Ronda yang berjaga, karena pekerjaan yang sudah sangat rapi dan berhasil, terasa tidak berguna sama sekali. setelah merasa capek akhirnya pak Kulisi pun menjatuhkan tubuh, duduk di atas rumput sambil memijat-mijat kaki yang terasa pegal. lamunannya terbang ke seluruh penjuru arah mengingat kejadian yang baru saja dia alami. tak lama para ronda Kampung Sukamaju pun mendekat ke arahnya, semuanya terlihat lemas menyerah dengan ketidakmampuan menemukan sang maling.
Ditanya seperti itu, tak ada seorangpun yang berani menjawab, karena mereka merasa takut dengan Keamanan Desa itu. Soalnya mereka merasa sangat teledor dan kurang kewaspadaan ketika diberikan tugas, sampai harus menelan kekalahan dari maling.
"Beginilah akibatnya kalau bekerja tidak benar. Heran deh..! masih bisa tertipu Oleh anak yang masih bau kencur, kalah pintar dengan anak kemarin sore. coba Bagaimana kalau sudah begini, Siapa yang harus bertanggung jawab, siapa...?" Bentak pak Kulisi meluapkan amarahnya, suaranya Terdengar sangat jelas memecah heningnya suasana yang sangat sunyi, mengandung amarah yang sudah memenuhi dadanya. namun untuk main tangan Pak Kulisi masih bisa menahan, karena dia sudah terlatih.
"Mohon maaf Pak...! saya mengakui kesalahan saya," ujar ronda yang paling tua.
__ADS_1
"Bagaimana awalnya, Kenapa kalian Sampai berani membuka pintu?"
Ronda pun menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka, dari awal Warsa yang pura-pura pingsan sampai mereka berdua melarikan diri. Ronda menceritakan semuanya tidak ada yang terlewat sedikitpun.
Mendengar cerita dari ronda, pak Kulisi hanya menarik nafas dalam, merasa kecewa yang tidak ada batasnya. sehingga membuat tempat itu terasa sepi dan sunyi tidak ada orang yang berani berbicara.
"Dari semenjak Malam ini, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. si Hadi dan si Warsa pasti mereka akan membalas dendam, akan mencari kelemahan untuk memulangkan rasa sakit yang mereka Derita. tidak menutup kemungkinan mereka akan semakin berani dalam melakukan aksi merampok dan mencurinya."
"Baik Pak....!" ujar orang-orang yang berada di situ menjawab dengan serempak.
Sedangkan udara di tempat itu semakin lama semakin terasa dingin, hujan air embun mulai turun. dari kejauhan terdengar suara ayam jantan yang berkokok, waktu semakin lama semakin mendekat ke arah waktu subuh. ketika sedang berkumpul sambil melepaskan rasa lelah, dari arah Lembah terdengar ada yang berteriak memanggil-manggil temannya, seperti menemukan sesuatu yang sangat serius.
Pak Kulisi dan para ronda yang berada di tempat itu, terlihat terperanjat kaget dengan segera mereka membangkitkan tubuh dari tempat duduk masing-masing. pak Kulisi mengajak warganya untuk mendekat ke arah orang yang berteriak.
Sesampainya di tempat orang yang berteriak meminta tolong, mata pak polisi terbuka dengan lebar, karena di tempat itu terlihat ada orang yang sedang berjongkok memegangi tubuh, sedangkan yang satunya lagi berdiri di samping dengan memegangi obor.
__ADS_1