BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab 26. Mengepung


__ADS_3

Pak Kulisi dan wildan ditambah Eman mereka mendekat ke arah rumah Pak RT untuk melihat jelas apa yang sedang terjadi di sana. Setelah lama diperhatikan ternyata memang benar apa yang sudah disampaikan oleh Eman, di tempat itu terlihat ada dua bayangan orang yang terus berdiri bahkan belum pindah tempat semenjak ditinggalkan oleh Eman untuk membuat laporan, seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke dalam rumah.


"Ternyata benar ada dua orang yang mencurigakan, kurang ajar...! pasti kedua bayangan itu adalah maling yang selama ini meresahkan kampung kita," bisik pak Kulisi kepada Wildan.


"Kita harus bisa menangkapnya Pak!"


"Iya kita harus berusaha semaksimal mungkin, agar kita bisa meringkus kedua maling sial4n itu. Oh iya, Tolong kamu kasih tahu kepada ronda yang lain, agar berhati-hati dan tidak menimbulkan kecurigaan, tunggu komando dari saya!" ujar Pak Polisi memberikan komando.


Tanpa ada sanggahan, Wildan pun mundur dengan perlahan kemudian, dia mencari tempat yang sepi bahkan sampai merangkak agar tidak ketahuan oleh musuh. ketika sampai dengan orang yang sedang mengepung, dia pun membisikan sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh sang komando. Setelah selesai dia pun berjalan ke penjuru lain, sama seperti yang pertama dia pun memberikan komando sesuai dari arahan Pak Kulisi sambil memberitahu bahwa orang yang mereka incar berada di samping rumah Pak RT.


Suasana semakin malam, semakin terasa sepi. hanya ada suara jangkrik dan belalang yang menghiasi Kesunyian malam, ditambah kemerosok suara dedaunan yang tertiup oleh angin.


Suara kepakan sayap kalong terdengar menuju ke arah pohon sawo, sehingga membuat orang-orang pun terkaget seketika. hampir saja mereka terganggu namun dengan menguatkan diri akhirnya tidak menimbulkan suara sedikitpun. sama seperti para warga yang sedang mengintip maling, kedua orang yang sedang di kepung pun merasa kan hal yang sama, mereka merasa kaget dengan suara seperti itu.


"Sialan mengagetkan saja....! aku kira itu ronda," ujar Warsa sambil menggelus dadanya.


"Yah, benar...! dasar sial4n. sebentar....! sebentar, Tolong kamu dengarkan keadaan di rumah, apakah sudah sepi atau masih ada orang yang terjaga?"


"Untuk apa?" tanya Warsa seperti orang yang lupa dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Eh, kamu...! ya untuk memastikan bahwa rumah aki Marna sudah aman, kalau masih ada orang yang berbicara berarti orang rumah belum tertidur."


"Oh," jawab Warsa kemudian dia pun memasang telinga, bahkan menempelkan kepalanya ke bilik yang terbuat dari bambu. Setelah lama terdiam dia pun melirik ke arah Hadi. "sudah sunyi Had, Kayaknya sudah tertidur. Ayo buruan kita masuk, kalau nanti mereka melawan seperti si jaman jangan membuang waktu, kita langsung Bunuh saja. soalnya aku memiliki dendam pribadi, aki Marna sering marah-marah," lapor Warsa kepada sahabatnya.


"Benar Dia juga sering memarahiku, kalau melawan Jangan di kasih ampun, kita Habisi saja sampai berpindah alam."


"Tapi sebaiknya kita menggunakan penutup wajah, sesuai dengan yang sudah kita rencanakan. agar tidak ada yang mengenali," bisik Warsa memberi saran.


"Ya sudah...!" jawab Hadi, Kemudian mereka pun mengeluarkan kain hitam lalu diikatkan di belakang kepala, sehingga kain itu menutup hidung dan mulut mereka.


Setelah rapi kedua bayangan itu bergerak dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, berjalan mendekat ke arah jendela depan. sebelum masuk Mereka pun memantau situasi kembali, untuk meyakinkan bahwa keadaan di dalam rumah sudah sepi.


Setelah yakin dan memastikan keadaannya sangat aman untuk melakukan aksi. karena lampu yang berada di tengah rumah sudah diganti dengan lampu kecil, menandakan orang yang berada di rumah sudah pindah ke kamar. Hadi pun mulai mengeluarkan alat pencongkel jendela, tak lama setelahnya jendela pun terbuka.


"Aman, Ayo masuk!"


Tanpa Membuang waktu, Hadi pun memanjat masuk ke dalam rumah melalui jendela yang sudah dibobol. di tempat lain terlihat ada empat orang yang mengendap-ngendap menuju rumpun honje, mendekat ke arah samping rumah Pak RT, kemudian keempat orang itu berhenti menunggu komando dari Pak Kulisi.


"Maju........!" terdengar suara teriakan pemberi komando, dengan Sigap keempat orang itu pun meloncat mendekat ke arah Warsa yang masih berdiri di ambang pintu jendela, sedangkan Hadi sudah masuk ke dalam. cahaya senter semerbak menerangi area samping rumah, membuat Warsa terperanjat kaget.

__ADS_1


"Hadi, ronda, ronda.....! keluar, keluar...!" teriak Warsa yang memberitahu sahabatnya yang sudah berada di dalam. tanpa berpikir panjang dia pun membalikkan tubuh berlari menuju ke arah rumpun honje, namun Baru saja sampai, tak terlihat dari mana arah datangnya, tiba-tiba ada satu hantaman benda tumpul ke arah pelipisannya.


Jebrett!


Pukulan itu tepat mengenai sasaran, membuat tubuh Hadi ambruk seketika. matanya terasa kunang-kunang, keadaan sekitar Terasa seperti miring, kepalanya terasa berputar. namun dia tidak menyerah, dengan cepat dia pun bangkit hendak melanjutkan pelariannya.


Dari arah belakang tubuh Warsa, terasa ada angin pukulan yang mengarah ke arah leher belakang. dengan cepat dia pun menundukkan tubuh, sehingga Serangan yang dilayangkan oleh ronda hanya memakan angin. namun tak cukup sampai di situ, dari arah bawah sudah disambut oleh serangan yang lain, sehingga Warsa tidak bisa mengelak kembali.


Wallllla...! aduuuuuh...!


Serangan itu tepat mengenai dagunya, sehingga membuat Warsa ambruk kembali. dia merintih kesakitan, giginya ada yang copot, darah segar mengalir membasahi kain penutup. Warsa yang belum sadar dengan keadaan, terasa pantatnya ada yang menendang.


Aduuuuuuhh!


Sehingga tubuhnya terjatuh ke arah depan, namun tak cukup sampai di situ serangan-serangan lainnya terus menghujani tubuh Warsa, sehingga dia hilang kendali atas kesadarannya. dia pingsan tidak kuat menerima Serangan yang begitu membabi buta, serangan warga yang sudah diliputi oleh rasa dendam, karena kenyamanannya diganggu oleh sang maling.


Terlihat ada Seorang warga yang Mengayunkan pentungan yang terbuat dari ruyung Aren mengarah tepat ke kepala Warsa. kayaknya dia ingin puas menyiksa sehingga melukai hanya menggunakan benda tumpul.


"Sudah, sudah...! sudah jangan diteruskan...!" ingat salah Seorang warga yang melihat kejadian itu, karena di tempat itu lumayan terang tersinari oleh cahaya senter. sehingga serangan itu di plesetkan ke samping kepala Warsa. kalau kalau serangan itu mengenai sasaran sudah dipastikan bahwa kepala Warsa akan pecah seketika, karena pentungan itu terbuat dari ruyung yang sangat kuat.

__ADS_1


"Halah mengganggu kesenangan orang aja...! Tolong izinkan sekali saja," ujar orang yang menyerang yang terlihat kecewa.


"Sudah, jangan berlebihan, nanti kalau mampus kita juga yang repot. sudah cukup sampai segitu saja...! ayo ikat agar maling sial4n ini tidak kabur." ujar ronda yang mengingatkan, kemudian dia pun memegang tangan Warsa sedangkan ronda yang lain mencari tali untuk mengikat maling yang sudah tak berdaya.


__ADS_2