BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
Bab. 27 tertangkap


__ADS_3

Sedangkan Hadi. tadi, ketika ada orang yang berteriak memberikan komando, dia pun sangat gugup Dan Panik. dengan cepat dia membalikkan tubuh untuk keluar kembali dari rumah. namun ketika melihat sahabatnya sudah dipukuli, nyalinya pun menciut seketika, sehingga dia meneruskan masuk ke dalam rumah, menuju ke arah dapur untuk keluar dari pintunya. Namun sayang ketika dalam keadaan panik, dia tidak bisa membuka pintu itu, karena tidak tahu di mana letak kuncinya.


Setelah usahanya tidak membuahkan hasil, Hadi pun membalikan tubuh kembali menuju ke tengah rumah, Namun sayang aki Marna yang sudah terbangun, karena mendengar kegaduhan di rumahnya. ketika melihat Hadi datang tanpa berpikir panjang dia pun mengambil kursi lalu dilemparkan ke arah maling yang baru keluar dari dapur.


Melihat kursi yang terbang menuju ke arahnya, Hadi dengan segera menghindar sambil menundukkan kepala, sehingga serangan itu lewat di atas kepalanya, jatuh menimpa meja makan.


Tanpa membuang waktu Hadi pun berlari Kembali menuju ke arah jendela yang tadi dibuat jalan untuk masuk ke dalam rumah. dia sudah membulatkan tekad siap menerima dengan segala kemungkinan terburuk yang akan menimpanya.


Hadi yang sudah diliputi dengan kepanikan dan rasa takut, sehingga pergerakannya tidak memakai perhitungan, dia yang terfokus menatap ke arah jendela, tidak sadar kalau aki warna pun mendekat ke arahnya, hingga tabrakan pun tak terelakkan.


Bugh!


Tubuh Hadi terpental ke belakang, dengan posisi terduduk, sehingga membuat perutnya terasa mual. namun dia dengan segera bangkit tidak mempedulikan isi perut yang hendak keluar, dia pun masuk ke dalam kamar sehingga terdengar jeritan seorang nenek-nenek yang terkaget karena ada orang yang meloncati tubuhnya.


Hadi tidak memperdulikan hal itu, dia menerobos menubruk jendela yang masih terkunci.


"Maling, maling ke jendela kamar....! maling....! maling....!" teriak aki Marna memberitahu, sehingga orang-orang yang sedang berjaga samping meningkatkan kewaspadaan.


Ketika ada orang yang terjatuh dari arah jendela, dengan segera Mereka pun menyergapnya, tanpa berpikir panjang mereka melayangkan pukulan menggunakan benda tumpul.

__ADS_1


Walaaaaa!


Teriak Hadi yang terkena pukulan tepat di dahi, kepalanya terasa mau pecah, karena pukulan itu menggunakan sekuat tenaga. sehingga Hadi yang tadi terjatuh tidak mampu bangkit lagi dia merintih menahan sakit yang tidak terkira.


Ketika kepalanya hendak dipukul kembali, terlihat ada orang yang datang dengan mengarahkan senter ke arah ronda yang sedang berkerumun menendangi tubuh Hadi.


"Sudah, sudah jangan keterlaluan. jangan berlebihan...! tahan emosi, tahan...!" Cegah Pak Kulisi menghentikan kegiatan warganya, yang sedang terlihat bersemangat untuk membunuh hati bersama-sama. namun ketika ketua keamanan meminta menghentikan, Mereka pun dengan segera menghentikan tendangan-tendangan yang diarahkan ke tubuh hadi, meski terukir raut kekesalan di wajahnya.


Namun walau sudah diingatkan, orang-orang yang baru datang ke tempat Hadi tersungkur. dengan cepat melayangkan tendangan ke arah wajah, yang tadi memukuli masih mengeratkan gigi menahan amarah yang memenuhi dada, geregetan ingin menerkam bulat Hadi yang sudah tak bisa berbuat apa-apa.


"Cuah!" Akhirnya dia pun meludah ke arah wajah Hadi, mungkin untuk melepaskan kekesalan yang masih belum terlampiaskan.


"SUdah, sudah, sudah...! Bagaimana sih kalian susah diingatkan...!" Bentak pak Kulisi yang terlihat kesal, karena masih ada orang yang tidak mengikuti perintahnya. para warga pun terdiam, karena takut dengan raut wajah pak Kulisi yang terlihat marah.


"Masih hidup?" Tanya Pak Kulisi yang menatap ke arah orang yang baru datang.


"Masih Pak!"


"Coba tolong bangkitkan....!" seru Pak Polisi.

__ADS_1


Akhirnya ronda yang menarik tubuh Warsa, melepaskan kakinya. kemudian membangunkan Warsa agar bisa duduk, setelah diperhatikan wajahnya terlihat penuh lebam, seperti baru saja disengat ribuan tawon.


"Ternyata si Warsa..., kurang ajar...! dasar sial4n," gerutu Pak Kulisi kemudian dia pun menyeru ronda untuk membuka penutup wajah Hadi. setelah dibuka warga pun semua menarik nafas dalam karena semua orang sudah pada mengenal Hadi, Karena orang itu adalah warga Kampung mereka yang tersesat langkah, sehingga menghalalkan cara untuk menikmati hidup, bahkan bapaknya juga terlihat ikut mengepung.


Dengan cepat bapaknya pun memeluk anaknya yang masih duduk dengan lemas, kemudian dia pun menangis seperti seorang perempuan.


"Hadi...! Hadi...! Kenapa kamu tuh...? kamu sangat senang mempermalukan orang tua? kamu keterlaluan seperti orang yang tidak pernah dididik...! Bagaimana kalau kejadiannya sudah seperti ini....? HAdi...., Hadi...!" ujar Bapaknya yang meratapi kemalangan nasib anaknya, yang kesadarannya sudah hilang akibat luka yang diderita. Untung dia masih bisa bernapas, mungkin kalau Pak polisi telat datang Hadi sudah tinggal nama.


Orang-orang yang berada di situ, mereka hanya melongo menatap ke arah dua orang yang sudah menjadi tawanan. tidak ada seorangpun yang berbicara seolah terhipnotis dengan kejadian yang baru saja mereka alami. pak Kulisi pun terlihat Diam tidak langsung melakukan introgasi, seolah sengaja membiarkan Hadi yang sedang dihujani air mata oleh bapaknya.


Setelah puas mengungkapkan rasa kecewa terhadap anaknya dan penyesalan yang sudah terjadi. akhirnya bapaknya Hadi terlihat bangkit sambil menyusut cairan bening yang mengalir membasahi pipi.


"Udah jangan ditangisi Mang! karena si Hadi masih hidup. Untung tadi saya keburu Datang. kalau tidak, mungkin si Hadi tinggal nama saja. biarkan si Hadi mempertanggungjawabkan perbuatannya, Mamang harus sabar menerima kenyataan yang pahit ini. karena ini sudah menjadi resiko sebagai orang yang melakukan kejahatan," nasehat Pak Kulisi.


"Iya pak Kulisi...!" jawab bapaknya Hadi yang terlihat seperti tidak memiliki semangat untuk hidup, air matanya terus berjatuhan.


"Ikat...! kita bawa ke desa," seru Pak Kulisi, mulai memberikan instruksi kembali.


Tanpa ada penolakan, ada dua orang warga yang mendekat ke arah hadi, kemudian mengikat tangannya dengan kuat. menggunakan tali tambang yang baru saja mereka ambil dari jemuran.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, kedua maling itu pun diarak, digiring menuju ke balai desa. keadaan Hadi dan Warsa sudah tak menentu antara sadar dan tidak, karena rasa sakit yang begitu luar biasa yang diakibatkan oleh serangan warga yang membabi buta.


Rombongan warga pun terus berjalan menyusuri jalan desa, menggiring dan mengarak kedua maling yang baru saja ditangkap. bahkan Pak RT dan Aki Marna pun ikut mengantarkan. sedangkan Eman Dia sangat merasa bahagia karena dia menemukan keberuntungan yang luar biasa, karena dia bisa merogoki maling yang hendak membobol rumah aki marna. sehingga kedua maling itu bisa ditangkap dengan begitu mudah oleh para warga.


__ADS_2