BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
bab 24. Rencana Eman


__ADS_3

"Iya benar, aku tidak berniat melukai Kang jaman, namun kepanikan lah yang memaksaku untuk berbuat nekad. kalau tidak seperti itu nanti aku yang celaka," jawab Warsa yang terlihat sudah kembali ke mode asalnya.


"Biarkan sajalah...! karena tidak mungkin ada yang mengetahui," ujar Hadi yang terus menenangkan sahabatnya.


"Iya benar....! yang terpenting walaupun di kampung Sukamaju banyak ronda yang berjaga, kita masih bisa masuk dan mengambil harta benda mereka. namun untuk kedepannya kita harus mematangkan rencana, biar kita tidak diketahui oleh ronda. Jadi kalau menurutku waktu sore adalah waktu teraman melakukan aksi. karena kalau semakin malam, ronda akan semakin banyak." ujar Warsa mulai mengatur rencana kembali, kejadian yang baru saja mereka alami seperti tidak memberikan dampak apapun terhadap dirinya.


"Yah benar....! Kayaknya waktu Isya akan lebih baik. Ketika para laki-laki pergi ke masjid. kita masuk ke dalam rumah. itu tidak akan terlalu berat, karena yang di rumah hanyalah istri dan anaknya."


"Nah, itu ide bagus...!"


"Yah, nanti kita akan beraksi seperti itu."


"Sip.....!"


Setelah melepaskan rasa lelah, Hadi dan Warsa mereka terus melanjutkan perjalanan Kembali menuju ke tempat persembunyiannya. belum ada yang mengetahui Di mana mereka bersembunyi, membuat para warga Kampung Sukamaju kesusahan mencari keberadaan mereka. karena bersembunyian mereka sangat tersembunyi.


*****

__ADS_1


Dari semenjak kejadian itu, Kampung Sukamaju semakin terasa panas, dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran. apalagi orang-orang yang memiliki uang besar, orang-orang yang memiliki padi sangat banyak, orang-orang yang suka menyimpan perhiasan. ketika malam tiba mereka tidak nyaman untuk berdiam diri, dihantui oleh ketakutan dan kekhawatiran. takut didatangi oleh sang maling yang sudah jelas sangat nekat karena sampai membawa senjata.


Satu malam, di salah satu rumah yang terletak di sebelah Selatan kampung Sukamaju. rumah yang sangat sederhana namun layak untuk ditinggali. Eman sedang berkumpul dengan keluarga di tengah rumah, ditemani obrolan obrolan ringan, yang tak jauh dari kejadian yang menimpa kampungnya.


Sebenarnya Mang Dodo memiliki pemikiran dan keyakinan bahwa sang maling bukanlah orang lain. soalnya mereka seperti yang sudah sangat hafal dengan keadaan Jalan, Keadaan Kampung Sukamaju, seperti yang sangat mudah ketika melarikan diri.


"Eman....!" Panggil Dodo di tengah-tengah pembicaraan.


"Saya Pak...," jawab Eman sambil manggut.


"Nah, begitulah kejadian yang berada di kampung kita. walaupun kamu tidak pernah keluar malam, tapi maling tetap berkeliaran. bahkan semakin ke sini semakin merajalela, semakin membuat khawatir. dari dasar itu, coba kamu tunjukkan keberanian kamu, dengan belajar berpikir bagaimana caranya agar kamu bisa menunjukkan bahwa kamu juga mampu menyumbangkan tenaga buat kepentingan bersama. soalnya bapak merasa yakin Kampung kita sedang diincar oleh maling Tanggung. yang jelas bukan maling dari luar daerah, pasti maling itu adalah orang kita sendiri." ujar Dodo menyuntik semangat anaknya yang selama ini tidak banyak berbicara, semenjak kejadian difitnah menjambret kalung.


Sedangkan orang yang dilirik dia hanya terdiam seperti sedang melamun, karena dia merasa bingung dengan cara apa dia bisa membantu warga Kampung Sukamaju. tapi seperti ada kekuatan batin yang hinggap di pemikiran Eman, sehingga dia pun menemukan gagasan.


"Kalau bapak percaya, saya ingin ikut meronda, ikut menjaga ketentraman kampung kita. namun tidak mau bergabung dengan orang lain, Eman mau meronda sendiri."


"Ya bagus. yang terpenting niat kamunya baik, pasti bapak akan mengizinkan dan mendukung."

__ADS_1


"Niat saya Sangat baik bapak. saya ingin membersihkan diri, ingin mencuci tubuh karena Nama saya sudah dicurat-coret dengan tuduhan menjambret kalung Ceu Hana. padahal sumpahnya saja demi Allah, saya tidak pernah menjalankan perbuatan Nista itu. Nah, sekarang siapa tahu saja ada keberuntungan, eman mau menjaga Kampung Siapa tahu saja Eman bisa menemukan sang maling. namun Bapak jangan kaget kalau eman tidak pulang, meski Eman tidur di tong sampah, yang terpenting maling itu bisa ditemukan


"Silakan Jang....! silakan...! bapak pasti akan mendukung semua cita-cita kamu, bahkan bapak akan mendoakan yang terbaik buat kamu!"


Mendengar persetujuan dari bapaknya, Eman merasa bahagia kepercayaan dirinya mulai bangkit kembali. karena Dodo sudah menyimpan  kepercayaan kepada Eman, sudah memberi dorongan semangat yang sangat luar biasa. Begitu juga dengan Rani dia pun sangat mendukung keputusan anaknya, Bahkan dia memberikan nasihat-nasihat dengan penuh kasih sayang, agar Eman berhati-hati dalam menjalankan niatnya.


Malam itu juga Eman pun keluar dari rumah., dengan memakai baju serba hitam di pinggangnya melingkar tali golok, untuk membela diri kalau diperlukan.


Semilir angin menerpa Seperti alunan musik yang sedang ditabuh. suara hewan malam yang terdengar berisik seperti sedang bernyanyi, seperti sedang mengantar orang yang akan tidur lelap. sedangkan langit terlihat terang benderang tidak ada awan yang menghalangi, ribuan bintang terlihat menghampar di atas langit seperti mutiara yang sedang ditaburkan, cahayanya menerangi Buana Panca Tengah. kunang-kunang pun Tak Tertinggal mengeluarkan cahaya seperti hendak menandingi cahaya Bintang. daun pisang terlihat menunduk seperti sedang kebingungan, begitu juga daun bambu yang tidak Berisik seperti biasanya, semua pepohonan berdiri tegak menunjuk ke atas langit. Pucuknya terlihat bergoyang sedikit, dimainkan oleh semilir angin yang menjaga waktu malam.


Bayangan hitam berkelebat menyusuri Jalan, wajahnya tidak terlihat jelas, postur tubuhnya tidak bisa ditebak. tapi sangat jelas bahwa itu adalah seorang manusia, yang sedang berjalan dalam kegelapan malam. suara deru langkah yang menginjak tanah, diiringi oleh suara alunan jangkrik dan belalang. Bayangan itu terus berjalan hingga akhirnya tiba di tepian selokan, orang itu terlihat berhenti berdiri tidak bergerak sama sekali, bertolak pinggang namun matanya tetap memindai keadaan sekitar.


Kemrosok suara tikus yang menerpa dedaunan kering, sehingga membuat orang itu bergerak seketika, tangan kanan memegang kepala golok. sedangkan kaki memasang kuda-kuda, matanya bergerak ke sana kemari menunjukkan sorot mata yang beringas, mengalahkan tajamnya mata elang.


"Kurang ajar....! kirain maling, cuih...!" ujar orang itu yang terlihat kecewa, dia pun kembali ke posisi awal namun tidak melepaskan kewaspadaan.


Gonggongan anjing terdengar dari arah Kampung, membuat suasana kampung Sukamaju semakin terasa mencekam, menambah ketakutan dan kegelisahan. namun orang itu tidak bergeming sama sekali, dia seperti sudah menyerahkan hidupnya, tidak ada ketakutan sedikitpun Yang Terukir di raut wajah, seperti orang yang tidak peduli dengan keadaan sekita,  terdorong dengan tekad yang sudah kuat.

__ADS_1


Hiyaaaa!


Orang itu meloncati selokan, kaki kanan terlihat terpeleset hampir saja dia terperosok masuk ke dalam kolam. namun dengan cepat dia menahan bobot tubuhnya agar itu tidak terjadi. dia pun berdiri kembali, matanya terus memindai keadaan sekitar seperti maling yang sedang mencari mangsa.


__ADS_2