
"Begini Mang Dodo, tadi siang ada kejadian. perhiasan Nyai Hana ada yang merebut, namun orang yang melakukannya belum ketemu, masih dicari. tapi ada yang dicurigai yaitu Eman anak Mamang. karena ada bukti yang memberatkan terhadapnya, ada baju yang digunakan untuk menutupi wajahnya Hana. tapi meski begitu saya tidak akan cepat menyimpulkan kalau emanlah pelakunya. Karena masih ada orang lain yang masih dicurigai, namun yang jadi permasalahan, susah untuk membuktikannya. karena orang yang dicuriga tidak ada di kampung kita, soalnya orang itu sedang menjadi buronan." Ujar pak kulisi menjelaskan.
"Siapa orang itu pak isi?"
"Tidak lain tidak bukan, orang itu adalah pemuda yang selalu mengganggu ketentraman kita, namanya Hadi dan Warsa. Nah, sekarang saya minta pendapat dari Mang Dodo, harus bagaimana kalau kejadiannya seperti ini. soalnya tuduhan diberatkan kepada Eman, karena buktinya sudah ada di situ. tapi kalau harus dilanjutkan ke pihak yang lebih tinggi, saya tidak setuju, tidak tega. Saya masih punya pertimbangan. makanya Saya menyarankan untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan."
Mendengar keterangan dari pak Kulisi, Dodo pun terdiam berpikir, perasaannya tidak percaya kalau anaknya bisa berani berbuat Nista seperti itu. memang benar kalau eman sangat bodoh. tapi yang sudah jelas kalau Eman adalah anak yang jujur, sopan, baik dan sangat rajin. Memang benar semenjak keluar dari rumah pak ustad Eman menunjukkan perubahan yang terlihat jelas, karena kesehariannya dihabiskan untuk melamun. padahal itu bukan apa-apa, semua itu karena dia tidak memiliki pekerjaan yang tetap ditambah oleh orang tuanya tidak terlalu diperhatikan, karena mereka sangat sibuk memikirkan kehidupan yang sangat susah.
"Bagaimana Mang Dodo?" tanya pak Kulisi yang tidak mendapat jawaban.
"Saya sangat kaget Pak isi, karena saya yakin kalau Eman tidak mungkin berbuat seperti itu, apalagi dalam keadaan waktu siang."
"Tapi kalau bukan Jang Eman pelakunya, terus siapa lagi Mang Dodo? Coba tolong bantu saya berpikir!"
"Itu pak polisi mendapat keterangan dari siapa, sehingga bisa menuduh Hadi dan Warsa sebagai pelaku utamanya."
__ADS_1
"Keterangan itu didapat dari anak Mamang, tapi itu saya anggap bahwa itu hanyalah alasan sebagai pembelaan diri."
"Jadi...?" tanya Dodo yang mengerutkan dahi.
"Jadi, saya belum bisa meringankan tuduhan terhadap Eman soalnya tidak ada saksi. sedangkan bukti yang memberatkan sudah ada dan sudah nyata, yaitu adalah baju .begitulah Mang Dodo...!"
Mendapat jawaban dari pak Kulisi, Mang Dodo terlihat berpikir kembali, karena dia merasa bingung bagaimana cara menyelamatkan Eman. Dia sangat sadar, bahwa Hadi dan Warsa sudah lama tidak berada di kampung. walaupun sudah mencari ke seluruh tempat namun mereka tetap tidak ditemukan. jadi bisa saja Eman menuding orang lain yang sudah sangat jelas kejahatannya, demi melindungi kejahatannya sendiri.
"Bagaimana Mang Dodo?" tanya pak Kulisi yang tidak mendapat jawaban dari orang tuanya Eman, yang sedang dimintai pendapat karena anaknya dituduh berbuat Nista.
"Sekarang begini saja dulu, Jang Eman akan ditahan sementara waktu di desa. tapi walaupun begitu saya tidak akan tinggal diam, saya akan terus berusaha untuk mencari penjahat sebenarnya. atau Kalau mang Dodo mau permasalahan ini cepat selesai, bantu saya untuk menemukan kedua penjahat itu. Nah, kalau sudah ketemu Jang Eman pasti saya akan bebaskan. Bagaimana kalau begitu Mang Dodo?" ujar pak Kulisi memberikan saran.
"Haduh...! kalau seperti itu rasanya akan sulit, karena Mamang bukan detektif yang suka menyelidiki suatu masalah. Mamang mengakui dengan keterbatasan Mamang yang tidak bisa mencari kebenaran dari permasalahan ini, bagaimana kalau tidak ketemu, berarti anak saya yang harus bertanggung jawab?" jawab Dodo yang masih merasa bingung tidak tahu jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh keluarganya.
"Ya, mau tidak mau. pasti akan seperti itu, karena kita tidak bisa menyalahkan orang lain, karena orang yang kita curigai tidak bisa dipintai keterangan."
__ADS_1
"Benar pak Kulisi, dalam menegakkan keadilan memang sangat berat. Tapi kalau itu yang terbaik Saya akan menerima dengan ikhlas, silahkan saja anak saya ditahan, kalau benar dia melakukan kesalahan. namun saya minta pak Kulisi jangan berhenti di sini. Pak Kulisi harus terus berusaha mencari penjahat yang sebenarnya...!" jawab Dodo yang terpaksa mengikhlaskan Eman untuk ditahan, karena dia tidak bisa membela dan memberikan sanggahan yang meringankan tuduhan terhadap anaknya.
"Syukur kalau Mang Dodo mengerti sampai ke situ. sekarang mohon maaf Eman akan ditahan dulu, untuk tidak memperkeruh suasana saya akan memberikan jalan kedua."
"Jalan kedua Seperti apa Pak Ici?"
"Sekarang Mang Dodo, kalau bisa siapkan uang seharga emas Nyai Hana yang hilang, karena kalau uang itu sudah ada, persoalan ini Saya jamin tidak akan panjang. sekarang juga Jang Eman bisa dibebaskan, kesalahannya pasti akan dimaafkan."
"Ya Allah....! itu sangat berat Pak Ici, sama saja Saya mengakui kejahatan yang tidak dilakukan oleh anak saya. karena Eman baru hanya mendapat tuduhan dan Tudingan, belum sepenuhnya salah dan belum tentu Eman lah yang berbuat. dari dasar itu, saya tidak akan segera menyiapkan uang pengganti, soalnya saya ingin mengetahui terlebih dahulu sampai mana ujung permasalahan ini."
"Baik kalau begitu juga. tapi kalau ada sesuatu yang baru, cepat Mang Dodo datang ke sini, kita berdiskusi bersama."
"Baik Pak Ici! baik."
Singkat cerita, akhirnya permusyawarahan itu selesai dengan putusan Eman di bawa ke kantor desa untuk ditahan sementara waktu, karena ada bukti yang memberatkan bahwa Eman adalah pelaku kejahatan, yaitu sebuah baju yang digunakan untuk menutup wajah Hana. Kejadian ini membuat keluarga Eman yakni Dodo dan Rani mereka merasakan kesedihan yang sangat mendalam dan sangat kebingungan memikirkan anaknya yang terus-menerus diterpa oleh cobaan.
__ADS_1
Orang yang paling sedih dari kejadian itu adalah Rani. karena dia merasa dipermalukan oleh anaknya, yang awalnya dia tidak akan mengira kalau anaknya memiliki kelakuan jahat seperti itu. namun sekarang kenyataannya berbanding terbalik dari prasangkaannya. Rani merasa ditipu oleh orang yang dia urus dari kecil, dimanjakan sejak bayi. tapi sekarang Eman malah melemparkan kotoran ke wajahnya dengan berbuat Nista. namun meski begitu, Dodo sebagai orang tua yang memiliki pemikiran panjang, dia terus-menerus menasehati istrinya dan memberikan keterangan sejelas-jelasnya. bahwa Eman bukan pelaku sebenarnya, hingga akhirnya Rani pun menurunkan emosi yang memenuhi dada. semakin lama Rani pun semakin sadar, bahwa semua yang menimpa keluarganya ini adalah ujian yang harus diterima dengan kesabaran dan penuh kesadaran, dibarengi dengan ikhtiar.