BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman

BABI BERANTING VOL.3 Kisah Eman
Bab 15. kesedihan Hana


__ADS_3

Sedang bermain tebak-tebakan. kalau nggak Ketebak nanti Hana akan dicium oleh Hadi. Nah, sekarang sudah Ketebak, coba tolong bantu Akang!" ujar Warsa yang tak sedikitpun terlihat ketakutan.


"Minta bantuan apa, Nggak jelas banget jadi orang!"


"Akang pinjem baju kamu sebentar, nanti juga akan dikembalikan lagi!"


"Buat apa? nggak, Nggak boleh!" jawab Eman yang menolak permintaan Warsa. dia sudah tidak mau percaya lagi, karena Hadi danwarsa seringkali menipunya.


Mendapat penolakan dari Eman, Warsa pun cilingukan memindai area sekitar. ternyata di tempat itu tidak ada orang lain Hanya mereka berempat. Tanpa membuang waktu Warsa pun mengeluarkan pisau belati dari pinggangnya, sekilat sudah diarahkan ke arah perut Eman.


"Kalau tidak dikasih, maka nyawamu akan melayang dengan semua isi perut keluar semua. ayo kamu pilih mending kamu menyerahkan baju atau menyerahkan nyawa?" ujar Warsa yang terlihat membulatkan mata membuat Eman tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat takut ketika melihat tajamnya pisau belati yang mengkilap tersinari oleh sinar matahari sudah berada di dekat perutnya. mungkin kalau Warsa mau, tinggal mendorong sedikit maka isi perut Eman sudah keluar.


"Ya, Mending menyerahkan baju lah!" jawab Eman sambil membuka baju yang ia kenakan, kemudian di serahkan sama Warsa.


Setelah mendapatkan baju Eman, dengan segera Warsa pun mendekat ke arah Hadi yang sedang menyekap Hana. tanpa membuang waktu lagi, Warsa pun mulai mengikat kepala Hana menggunakan baju Eman, diikatkan di belakang dengan ikatan yang sangat kuat.


Melihat kelakuan sahabatnya, Hadi pun mengerti dengan apa yang harus dia lakukan. dengan cepat dia pun memegang tangan Hana agar wanita itu tidak berontak. setelah Hana tidak melawan Warsa pun mulai meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda, melepaskan anting yang sebelahnya lagi. setelah semuanya mereka ambil, Hana pun didorong ke arah parit, sehingga membuat wanita itu terperosok masuk ke dalamnya. dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa meratapi kemalangan di dalam hidupnya.


"Eman....! ayo lariiiiii! Lari, lari buruan lariiii!" ujar Warsa menyeru Eman untuk berlari, matanya menatap tajam ke arah Eman. tanpa berpikir panjang orang yang disuruh lari pun dengan cepat dia membalikkan tubuh kemudian berlari menuju ke arah rumahnya. tidak memikirkan hal yang lain, ketakutan sudah memenuhi kepalanya.

__ADS_1


Sedangkan Hadi dan warsa Mereka pun terus berlari menuju ke arah Selatan, meninggalkan Hana yang sudah terperosok masuk ke dalam parit yang masih merintih menahan sakit. lama-kelamaan Akhirnya wanita itu sadar dengan perlahan dia bangun, kemudian membuka ikatan yang menutupi kepala.


Setelah ikatan itu terbuka, matanya terlihat mengkereyep merasa silau karena sudah lama di tutup, ditambah matanya yang terasa sakit.


"Ya Allah, gustiiiiiiii! Siapa yang tega berbuat seperti ini. kalungkuuuuuu! antingkuuuuuuu!" ujar Hana yang terlihat sangat panik, Dia sangat kaget dan sedih karena perhiasannya sudah hilang semua.


Dari rasa was-was dan kekecewaan yang begitu dalam, tubuh Hana terasa lemas seperti kapas yang terkena air embun, tidak ada kekuatan untuk berlama-lama menopang tubuhnya untuk berdiri, hingga tubuh wanita itu ambruk ke tanah. Hana hanya terdiam sambil berpikir, persis seperti orang yang kesambet. di benaknya hanya ada kalung dan anting yang sudah melayang berpindah ke tangan orang yang jahat.


Setelah lama terdiam, Hana pun mulai sadar dengan apa yang harus dia lakukan. Hana melirik ke arah baju yang tadi dijadikan penutup kepalanya. dari baju itu dia mendapatkan penerangan. dia mulai kembali mengambil baju itu kemudian Hana bangkit lalu pergi menuju rumah pak Kulisi. ember dan bakul yang tadi terjatuh Hana tidak hiraukan, pikirannya terus terfokus dengan perhiasan yang sudah Raib di gondol maling.


Sesampainya di rumah pak Kulisi, dengan cepat dia pun membuat laporan dengan peristiwa yang menimpanya. kebetulan pak Kulisi sedang berada di rumah karena baru saja dia pulang dari desa.


"Sebentar Nyai, apa Nyai ingat dengan suara orang yang merampok Nyai?"


"Nggak Pak Kulisi, soalnya Telinga saya ditutup. Hanya terdengar juga seperti orang yang mendumel tidak jelas, namun saya sangat yakin kalau orang yang mencuri perhiasan saya lebih dari satu orang. soalnya yang satu menutup wajah saya, yang satu membuka kalung saya. terasa deru nafasnya mendengus menyapu wajah," jawab Hana menjelaskan.


"Ketika melepaskan kalung, tidak ada yang berbicara?" tanya pak Kulisi dengan teliti.


"Tidak ada, tidak ada yang berbicara sedikitpun Pak isi, tapi terdengar ada yang berteriak menyeru melepaskan saya. namun saya tidak tahu dan tidak kenal orang itu siapa, karena Saya tidak bisa melihat keadaan sekitar," jelas Hana.

__ADS_1


"Sebentar...! sebentar! siapa ya kira-kiranya yang tega berbuat Nista seperti itu," gumam pak Kulisi namun matanya menatap ke arah baju yang dijadikan barang bukti, hingga dia pun mengerutkan dahi seperti dia pernah melihat baju itu. namun dia masih ragu belum bisa menyimpulkan.


"Pak Isi....! saya meminta tolong agar Barang saya bisa kembali, dan menjadi milik saya kembali!"


"Pasti, pasti sama bapak akan di usahakan Nyai, namun hasil atau tidaknya itu tergantung dengan milik Nyai. ya Sudah segitu saja dulu, biarkan permasalahan ini akan Bapak tangani, Siapa tahu saja orang yang jahatnya bisa ketemu."


"Terima kasih banyak Pak Ici...!"


"Sama-sama."


Setelah selesai di introgasi, Hana pun kembali pulang ke rumah dengan membawa hati yang sangat kecewa, karena perhiasan yang baru saja dia miliki harus hilang begitu mudah. sedangkan Pak Kulisi desa dia pun memperhatikan baju yang ada di tangannya, mengingat-ingat kembali Siapa yang mempunyai baju itu. namun Setelah lama berpikir dia pun tidak menemukan petunjuk, apalagi tubuhnya yang terasa capek setelah pulang dari desa.


Setelah tidak mendapat jawaban, baju bukti pun dibungkus menggunakan koran, kemudian dia pun turun ke halaman rumah menuju ke rumah bapak RT.


Pak kulisi terus berjalan menyusuri jalan desa yang membelah Kampung Sukamaju, ketika ada rumah yang memiliki halaman agak luas dia pun berhenti, kemudian mengucapkan salam, keluarlah anak kecil kira-kira berumur 7 tahun.


"Bapaknya ada dek?" tanya Pak Kulisi.


"Bapak nggak ada, ke sawah...!" jawab anak itu kemudian dia pun masuk kembali tanpa menghiraukan orang yang bertanya. Namanya juga anak kecil sehingga kadang kelakuannya menyebalkan.

__ADS_1


Melihat yang punya rumah masuk ke dalam, pak Kulisi hanya menarik nafas dalam, kemudian dia pun berjalan kembali ingin mencari orang untuk diajak berdiskusi tentang laporan yang dibuat oleh Hana. wanita yang baru saja Kehilangan kalung dan anting yang dirampas oleh orang yang belum diketahui.


__ADS_2