Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja
Cerita 3


__ADS_3

"Setiap orang yang anda temui, memiliki sesuatu yang berharga , untuk di ajarkan kepada anda."


" Kamu akan bertemu satu orang dalam hidupmu, yang akan mencintaimu seperti yang pernah kamu harapkan."


" Kamu adalah versi terbaik dari semua cinta yang pernah ada."


"Memang dia gak tau, Dek, karena gak pernah kubilang, Abang gak pernah datang minta uang kontrakan, semua itu diurus Bou,"


"Siapa Bou?"


"Saudara Ayah, itu yang waktu itu kit ke sana."


Oh, aku memang pernah dibawa ke tempat bounya, katanya itu satu-satunya saudara dia di kota ini.


Ternyata pilihan Ayah benar, suamiku seorang milyarder yang gak kenal HP andorid. Ah, ingin juga rasanya aku pamer, ingin kubungkam mulut abang dan ipar yang terus merendahkan suami.


Suatu hari Abangku yang sulung datang ke rumah. Waktu dia datang, suami lagi di teras membuat kandang ayam dari bambu.


"Parlin, ada rumah bagus di sana, rumah subsidi, DP-nya hanya sepuluh juta, bulanannya satu jutaan, kau jual sawah kalian di kampung sana dulu, daripada kalian ngontrak terus," kata abangku.


"Kami gak ngontrak," aku keceplosan.


"Jadi kalian tinggal gratis, dasar mental gratisan," kata abangku.


Suami melirikku, lirikannya tajam, aku tahu maksudnya.

__ADS_1


"Gak berani kami kredit rumah, Bang," jawab suami.


"Harus diberanikan, kami dulu juga begitu, aku beranikah diri, kerja yang lebih giat, alhamdulillah, akhirnya kami bisa kredit rumah, lima tahun lagi sudah lunas," kata Abangku lagi.


Aku tahu, usaha sampingan Abangku ini memang broker rumah, dia pasti menawarkan pada kami karena tergiur bonusnya.


"Tidak, Bang, terima kasih," kata suami.


"Itulah pikiran yang gak bisa maju itu, kalau gak dicoba mana tau kita sanggup atau gak sanggup, pakai ini sikit," kata abangku seraya menunjuk keningnya.


Andaikan abangku tahu suamiku seorang milyarder? Dia mungkin akan malu, akan tetapi entah kenapa suamiku ini, tak adakah keinginannya untuk sedikit pamer, biar tak direndahkan orang?


Akhirnya abangku pulang dengan kecewa, jawaban suami tetap tak berani. Setelah dia pulang kupasang muka judes pada suami.


"Abang kenapa sih, diam saja begitu, bilang aja jujur napa, biar kita gak direndahkan terus, aku capek, Bang," kataku kemudian.


"Ada, Bang, sama orang sombong kita harus sombong juga, baru kridit rumah sudah sok kaya," kataku makin sewot.


"Udah, Dek, udah, itu abangmu, lo."


"Gak mau, Bang," kataku seraya masuk kamar.


Entahlah dengan suamiku ini, sudahlah pendiam, sabarnya keterlaluan. Ah, aku harus poles suamiku, cukup sudah kami terus direndahkan. Yang pertama kulakukan akan kuubah penampilannya.


"Bang, Pinjam duit," kataku kemudian ketika suami menyusul ke kamar.

__ADS_1


"Pinjam?"


"Iya, Bang,"


"Ada-ada aja kau, Dek, masa sama suami pinjam duit?"


"Ah, percuma punya suami juragan sapi?" kataku seraya berpaling.


"Dek, jangan bilang gitu napa, Abang bukan juragan, hanya peternak sapi, kebetulan sekarang sapinya agak banyak, jadi orang yang kerjakan semua, Abang mau hidup tenang, ingin menikmati hidup bersama istri yang cantik." kata suami.


"Istri cantik butuh belanja, Bang di mana-mana yang namanya wanita hobby belanja," kataku lagi.


"Ya, udah, ini, pakai," kata suami seraya menyerahkan kartu ATM.


Ternyata biar kuno, tak mengenal medsos, suamiku ini kenal ATM.


"Ayo, Bang, antar aku," kataku kemudian.


Yang pertama kukunjungi adalah salon pria, aku mau suami memotong rambut gobelnya.


🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like

__ADS_1


Vote


Koment


__ADS_2